Reagan

Reagan
Reagan 14


__ADS_3

“Nona Bianca, Surti ijin masuk ya,” ucap asisten rumah tangga yang mendapat perintah dari Fiona untuk mengantarkan sup ke kamar Bianca.


Bianca melihat ke arah pintu yang terbuka, menampilkan asisten rumah tangga yang masuk dengan nampan di tangannya.


Bianca menatap ke arah Surti. “Mommy ke mana?”


“Tidak tahu Nona, tapi tadi terdengar suara mobil nyonya keluar dari garasi,” jawab Surti. Ia meletakan nampan yang di bawanya ke nakas.


Bianca diam saja saat handuk di keningnya di ambil oleh Surti dan di celupkan ke dalam air, lalu di peras dan kembali di tempelkan di dahi Bianca.


“Nona mau Surti suapi, atau makan sendiri?” tanya Sutri ramah.


Bianca melepaskan handuk yang ada di keningnya, ia bangkit dan duduk dengan bersandar. “Bianca makan sendiri saja,” jawab Bianca. Ia menerima nampan yang di berikan Surti.


Kepalanya memang masih berdenyut, tapi Bianca tidak suka di suapi oleh orang lain. Ia menatap semangkuk sup yang masih mengepul.

__ADS_1


Bianca mulai memakan sup tersebut, rasanya berbeda dari biasanya. Bianca hanya memakan beberapa suap saja, lalu beralih pada buah-buahan yang sudah di potong. Rasanya lebih segar memakan buah, dari pada memakan sup membuat Bianca sedikit mual.


Telepon Bianca berdering, Bianca mengambil ponselnya dari saku baju olahraganya. Ia melihat panggilan dari Fiona. “Iya Mom,” sapa Bianca.


[Mau Mommy panggilkan dokter?]


“Tidak perlu Mom, Bianca minum obat penurun demam saja,” jawab Bianca.


[Sebentar lagi Mommy akan sampai rumah, jika ada apa-apa segera hubungi Mommy ya.]


“Iya Mom,” jawab Bianca ia menutup teleponnya.


“Baik nona,” jawab Surti.


Sudah lima belas menit Fiona keluar dari ruangannya, akhirnya Filio mengambil telepon genggamnya untuk menghubungi Reagan. Pada sambungan ketiga Reagan menerima panggilan tersebut. “Reagan,” panggil Filio.

__ADS_1


“Ada apa Ayah?” Tanya Reagan tanpa basa-basi.


“Karena ulahmu Bianca jadi demam, jenguk Bianca di rumahnya,” titah Filio.


“Tidak mau, buang-buang waktu saja.” Reagan menutup teleponnya sepihak dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia tidak peduli jika Bianca demam, karena semua itu ulahnya. Telah berani menertawakan kejadian tadi, yang membuat Reagan kehilangan harga diri.


Sementara di ruangannya Filio menghela nafas lelahnya, sudah ia duga hal ini tidak akan mudah. Namun ia juga tidak enak terhadap Fiona, karena ulah Reagan Bianca jadi sakit.


Tidak butuh waktu lama akhirnya Fiona sampai juga di rumah. Ia segera mengecek keadaan putrinya. Langkah tergesa-gesa Fiona membuatnya cepat sampai di kamar Bianca. Ia masuk dan melihat Bianca dengan posisi terlentang sedang memainkan ponselnya.


Fiona segera mengecek demam Bianca, ternyata suhu di dahinya sudah mulai turun. “Istirahat Bianca, jangan main ponsel terus.”


Bianca menuruti ucapan Fiona, ia menyimpan ponselnya lalu memejamkan matanya. Fiona duduk di pinggiran tempat tidur Bianca. Tangannya terulur mengelus puncak kepala Bianca, memberikan kenyamanan agar Bianca dapat pergi tidur.


Fiona melupakan sesuatu. “Sudah minum obat penurun demam?”

__ADS_1


“Sudah,” jawab Bianca tanpa membuka kelopak matanya. Bianca merasakan kenyamanan di puncak kepalanya yang di elus sang ibu.


Fiona sedikit merasa tenang, setelah mendengar jawaban dari Bianca. Setelah memastikan Bianca tertidur dengan lelap, Fiona menarik selimut Bianca sampai menutupi leher. Fiona keluar dari kamar Bianca dengan langkah pelan takut mengganggu tidur anaknya.


__ADS_2