
Bianca menutup telinga dengan kedua tangannya kala motor Reagan mengeluarkan suara klakson yang cukup nyaring. “Berisik Reagan,” teriak Bianca. Tapi pria itu seolah tak mendengar, Bianca yang kesal menendang ban motor Reagan.
Reagan menghentikan aksinya, ia turun dari motornya dan menghampiri Bianca.
Wajah kesal Bianca berubah menjadi ketakutan saat Reagan menatapnya dengan sangat tajam.
“Kamu mau cari mati?”
Bianca menggelengkan kepalanya.
“Minggir!” perintah Reagan.
Bianca mengikuti perintah Reagan.
Setelah memastikan jalannya kosong Reagan kembali ke motor.
Bianca yang tidak ingin di tinggal sia-sia segera naik ke atas motor Reagan tanpa persetujuan sang pemilik.
Reagan menengok ke belakang, “Kenapa kamu naik?”
“Mau ikut,” jawab Bianca dengan senyuman di bibirnya.
__ADS_1
“Turun!”
Mendapat tatapan menakutkan Bianca memeluk tubuh Reagan. “Tidak mau, Bianca mau ikut Reagan saja,” rengek Bianca.
Reagan akhirnya memilih melajukan motornya tanpa memedulikan Bianca yang memeluk tubuhnya dari belakang.
Bianca memperhatikan jalanan yang mereka lewati. "Kita mau ke mana?" tanya Bianca.
"Ke neraka," ketus Reagan.
Lengan Bianca mencubit perut Reagan. "Jangan bercanda," keluh Bianca.
Reagan mengendarai motornya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya memegang tangan Bianca yang ada di perutnya masih di posisi mencubit. Reagan menarik tangan Bianca agar melepaskan cubitannya.
Reagan menghentikan laju motornya di pinggir jalan. “Apa yang kamu lakukan?” tanya Reagan. Ia merasa risi dengan perlakuan Bianca.
Bianca hendak menarik diri, namun tangannya masih di genggam Reagan.
Reagan yang tersadar segera melepaskan pegangannya. “Turun,” titah Reagan.
“Reagan tega, turunkan Bianca lagi kayak dulu?” tanya Bianca dengan suara menahan tangis, padahal yang di lakukan Bianca hanya berpura-pura saja.
__ADS_1
Mendengar suara Bianca yang menahan tangis membuat Reagan iba, meskipun bibirnya berdecakb kesal pada Bianca.
Bibir Bianca tersenyum saat Reagan kembali melajukan motornya. Kini Bianca tahu kelemahan Reagan, pria itu tidak bisa melihat Bianca hendak menangis.
Reagan menghentikan motornya di depan resto miliknya.
Bianca turun dari motor menatap resto yang ada di depannya. “Reagan belum makan siang?” tanya Bianca dengan polosnya.
Bukannya menjawab Reagan malah berjalan masuk meninggalkan Bianca.
Bianca yang takut di tinggalkan, dengan cepat menyusul Reagan. Bianca menatap heran pada para pegawai resto yang menunduk hormat pada Reagan.
Bianca mengikuti Regan menaiki undakan tangga hingga sampai di lantai dua. Di lantai tersebut lebih sepi. Bianca mengikuti langkah Reagan ke ujung lorong yang langsung menghubungkan mereka ke satu pintu.
Reagan menekan password dan pintu terbuka. Ia masuk di ikuti Bianca yang masih mengekor di belakang.
Bianca cukup terpana dengan ruang yang baru ia masuki, sangat rapi. Begitu masuk ke dalam semerbak wangi khas milik Reagan, wangi yang Bianca suka jika berdekatan dengan Reagan.
Bianca memperhatikan Reagan yang membuka jaketnya, ia terkejut dengan pakaian di balik jaket yang Reagan kenakan. Sebuah kemeja lengan panjang yang sebagian tangannya di gulung sampai siku, bahkan Bianca baru tersadar jika celana yang di pakai Reagan celana formal. Pipi Bianca memerah, ia sangat terpesona dengan penampilan Reagan. Rambut Reagan sangat rapi, baju kerja yang di pakai Reagan membuatnya terlihat lebih dewasa dari umurnya. Sangat berbeda jika Reagan mengenakan seragam sekolah.
Merasa di perhatikan Reagan menatap ke arah Bianca “Kenapa kamu menatapku seperti itu?”
__ADS_1
“Reagan sangat tampan, Bianca suka,” jawab Bianca. Dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus, bukan hanya itu jantungnya pun berdetak sangat kencang.