
Sebelumnya aku minta maaf baru hadir kembali, Alhamdulillah aku sudah agak mendingan dan bisa kejar karya on goingku. Jangan lupa jaga kesehatan đź’•
Selamat Membaca đź’•
Seusai pulang sekolah, Bianca berjalan dengan lesu ke luar gerbang. Dari tempatnya berdiri ia melihat Anisa yang hendak melajukan motornya. Dengan cepat Bianca berlari dan menghadang jalan Anisa.
“Anisa,” panggil Bianca. Ia pikir Anisa tidak masuk sekolah tapi mengapa Anisa ada di depannya.
“Minggir,” ketus Anisa.
“Kenapa nomorku di blokir, apa aku berbuat salah?” tanya Bianca.
“Kalau cara orang tuamu seperti itu, selain tidak akan pernah punya pacar. Sampai kapan pun tidak akan ada yang mau berteman sama kamu,” jawab Anisa ketus. Ia memundurkan motornya, lalu menjalankan motornya mengambil jalan di samping tubuh Bianca.
Bianca masih terdiam mencerna ucapan Anisa, ia tidak mengerti apa yang di maksud Anisa.
Adnan menepuk pundak Bianca. “Bengong saja,” ujar Adnan.
Bianca cukup terkejut dengan kehadiran Adnan. “Adnan, aku lihat Anisa masuk sekolah kok tidak hadir di kelas?”
“Loh kamu tidak tahu?”
Bianca menggelengkan kepalanya. “Ada apa memangnya?”
“Anisa di pindahkan ke kelas tempat berandal sekolah berkumpul,” jawab Adnan.
Dari yang Bianca dengar kelas berandal itu kelas IPS . “Tidak salah? Anisa kan jurusan IPA?”
“Aku juga tidak tahu apa alasannya, masalahnya bukan hanya Anisa. Reagan juga di pindahkan,” tutur Adnan.
__ADS_1
Bianca semakin kebingungan dengan kejadian hari ini. “Bu indah tahu alasannya?”
“Bu Indah tidak bilang apa-apa saat aku tanya alasan mereka di pindahkan,” jawab Adnan.
Bianca merasa ada yang tidak beres dengan kepindahan Anisa dan Reagan. “Adnan apa kamu melihat Reagan hari ini?”
Adnan teringat tentang percakapan segerombolan wanita di kantin yang membicarakan Reagan. “Sepertinya tidak, karena banyak yang bergosip jika mereka kecewa tidak bisa melihat Reagan di kelas mereka.”
Mendengarnya saja membuat hati Bianca terasa panas, ia tidak suka perempuan lain mengagumi Reagan. Apalagi kini ia tidak satu kelas dengan Reagan.
“Mau pulang bareng?” tawar Adnan.
Bianca menggelengkan kepalanya menolak. “Di jemput sopir.”
“Kalau begitu aku duluan ya,” pamit Adnan.
Setelah kepergian Adnan Bianca berjalan menuju tempat dirinya di jemput, ia masuk ke dalam mobil saat sopir membukakan pintu untuknya.
“Ke rumah Reagan dulu ya Pak,” pinta Bianca.
“Maaf non, saya di minta Tuan untuk mengantarkan non ke sekolah dan pulang ke rumah tidak boleh mampir dulu ke tempat lain,” jawab Sopir.
“Sejak kapan, kemarin-kemarin boleh?”
“Mulai hari ini Non,” jawab sopir.
Bianca segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Ignazio. Namun tidak kunjung di angkat, Bianca yang kesal memasukkan kembali ponselnya.
“Daddy tidak jelas, membuat peraturan tanpa persetujuan Bianca,” gerutu Bianca yang kesal. Ia melihat story Instagram temannya, ada yang repost story orang lain, di video tersebut Bianca melihat Reagan sekilas yang duduk di antara mereka sambil bersulang dengan segelas anggur.
__ADS_1
Bianca segera menelepon Reagan, namun nomornya tidak aktif. Sebelum sampai di rumah Bianca tidak sabar menunggu. “Pa berhenti,” titah Bianca.
Bianca membuka pintu mobil. “Bianca turun di sini saja,” ujar Bianca ia segera berlari menuju rumah Reagan.
Jika tak bisa di antar sopir Bianca tak masalah jika harus berjalan kaki. Sesampainya di depan gerbang rumah Reagan nafas Bianca naik turun karena kelelahan, ia menghampiri penjaga gerbang. “Pak Reagan nya ada?” tanya Bianca dengan nafasnya yang masih belum normal.
“Tidak ada,” jawab pria tersebut sembari mengamati wajah Bianca.
“Kalau Tante Sahira?” tanya Bianca lagi.
“Apakah Anda nona Bianca?” Penjaga tersebut bertanya untuk memastikan bahwa ia tidak salah orang.
“Iya betul saya Bianca,” jawab Bianca antusias berharap jalannya akan mudah bertemu dengan Reagan.
“Lebih baik Nona pergi dari sini!”
Mulut Bianca menganga saking terkejutnya karena di usir bahkan dengan nada yang membentak.
“Bapak tuh siapa seenaknya saja usir-usir saya. Lihat saja nanti bapak saya cepat!” Bianca menutup mulutnya karena terlalu cepat berbicara sehingga salah menyebutkan kalimat. “Maksudnya saya pecat!”
Penjaga tersebut mengerutkan keningnya melihat wajah Bianca yang tampak marah dengan mata yang hampir keluar. Tapi tugasnya mengamankan rumah ini dari perempuan yang bernama Bianca. “Sudah pergi sana, di sini bukan tempat berteduh untuk gelandangan,” usir penjaga tersebut.
Bianca kesal bukan main, hari ini orang-orang ada-ada saja tingkahnya. Rasanya Bianca ingin melemparkan sepatunya hingga mengenai wajah penjaga tersebut. “Menyebalkan,” gerutu Bianca. Ia sedikit menjauh dari gerbang dan mencoba menghubungi nomor Tante Sahira, namun tidak di angkat. “Tante Sahira juga kenapa sih, tidak mau angkat telepon Bianca,” ujar Bianca pelan dengan suara berbisik. Ia kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Sopir Bianca menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Reagan saat melihat Bianca tengah berdiri di sana.
“Non ayo pulang nanti Tuan marah,” ucap sopir.
“Enggak mau,” tolak Bianca. Ia harus bertemu dengan Reagan. Bianca ingin tahu kenapa Reagan pindah kelas, belum lagi yang membuat Bianca kesal di insta story tadi Reagan duduk di samping perempuan lain, Bianca sangat cemburu dan kesal.
__ADS_1