Reagan

Reagan
Reagan 15


__ADS_3

Filio pulang lebih awal hari ini. Kedatangannya di sambut dengan senyuman hangat dari Sahira.


“Reagan sudah pulang?” tanya Filio.


Sahira membantu membawakan tas kerja Filio. “Sudah, ada di kamar,” jawab Sahira lembut.


Tangan Sahira menarik pergelangan tangan Filio, kala suaminya bergegas. “Ada apa?”


“Reagan mendorong Bianca ke dalam kolam ikan, sekarang Bianca demam,” jawab Filio.


Sahira menundukkan wajahnya. “Maaf,” lirih Sahira.


Filio menarik dagu Sahira agar menatapnya. “Untuk apa meminta maaf, semua ini bukan salahmu sayang.”


“Tapi sebagai ibu aku tidak bisa mendidik Reagan dengan baik,” ucap Sahira dengan nada penuh penyesalan. Ia sudah menghilangkan anak pertama Filio, kini ia juga tidak becus mengurus anak mereka.


“Mendidik Reagan bukan hanya tugasmu, tapi tugasku juga. Jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri seperti ini.” Ibu jari Filio mengusap dengan pelan pipi istrinya.

__ADS_1


“Tidak puaskah kalian bermesraan setiap hari, aku sampai bosan melihatnya,” ketus Reagan.


Kepala Filio menengok. Filio menatap Reagan dengan pandangan dinginnya, tapi lihat anak itu seolah tidak takut dan berjalan begitu saja setelah menyindir orang tuanya sendiri. “Apa kamu sudah bosan hidup?”


Kaki Reagan yang sedang melangkah terhenti, ia membalikkan tubuhnya dan menatap ayahnya. “Kenapa memangnya, Ayah ingin membunuhku? ... Lakukanlah aku tidak takut,” jawab Reagan.


Reagan berhasil membuat kemarahan Filio muncul ke permukaan.


“Reagan,” panggil Sahira lembut.


“Harusnya ibu memilih suami yang tampan dan perkasa, jangan yang seperti ini.”


Filio mendapat hinaan dari putranya tidak tinggal diam, ia melangkahkan mendekati Reagan. Sementara Reagan berdiri dengan berani menatap sang ayah tanpa rasa takut.


Filio menarik kerah baju yang di kenakan Reagan. Tangannya mengepal hendak memberi pukulan.


“Cepat pukul, aku ingin tahu sekuat apa pukulan ayah,” tantang Reagan.

__ADS_1


Sahira segera mendekat ke arah Filio. “Sayang, tenangkan dirimu.” Tangan Sahira menggenggam kepalan tangan suaminya.


Filio sangat ingin menghajar mulut kurang ajar Reagan. Anak itu kini berani mengatai ayahnya sendiri. Namun sampai saat ini Filio memegang prinsip untuk tidak melakukan kekerasan di dalam rumah tangganya. Sudah banyak penyesalan yang ia lewati, bahkan karena kekerasan dalam rumah tangga membuat Filio tidak merasakan kasih sayang Eduard saat ia masih kecil. Dan ia juga tidak ingin membuat keluarganya semakin kacau balau, apalagi Filio tahu betul sifat Reagan. Ia tidak ingin hubungannya dengan Reagan semakin renggang.


Sahira menarik tangan suaminya untuk menjauh dari Reagan.


Reagan tersenyum mengejek ke arah Filio. Wajah ayahnya sangat menggemaskan bagi Reagan. Reagan lebih dulu meninggalkan orang tuanya.


Kini Filio tampak menenangkan amarah yang ada dalam dirinya. Sementara Sahira memeluk tubuh suaminya. “Terima kasih, telah menepati janjimu.”


Filio membalas pelukan istrinya tidak kalah erat. Sementara dari balik dinding Reagan tampak menyandarkan tubuhnya. Ia mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya.


Kaki Reagan melangkah menuju halaman belakang. Ia duduk menikmati pemandangan sore hari, mentari yang hampir tenggelam menghasilkan cahaya senja yang indah. Ia berjongkok di tepi kolam ikan. Ikan hias berwarna-warni berenang ke sana kemari bersama kawanannya. “Sikapku tidak keterlaluan, mereka saja yang terlalu baper,” cibir Reagan.


Reagan menyesap rokok miliknya dan menghembuskannya perlahan. Ponsel yang ada di saku celananya bergetar. Tangan Reagan merogoh saku dan mengambil ponselnya. Ia segera menerima panggilan dari administrator resto miliknya. “Ada apa?”


[Anak saya masuk rumah sakit. Kalau boleh saya ingin meminta bantuan Tuan]

__ADS_1


“Kirimkan saja tagihan biaya rumah sakitnya, nanti saya bayar,” jawab Reagan.


[Baik Tuan, terima kasih.]


__ADS_2