Reagan

Reagan
Reagan 46


__ADS_3

“Kamu pergi dari rumah tanpa ijin hanya untuk bertemu dengannya secara sembunyi-sembunyi?” tanya Fiona dengan nada kesalnya.


“Iya Memangnya kenapa? Bianca hanya mau bertemu Reagan saja,” jawab Bianca tanpa rasa takut .


Reagan sangat menyayangkan sikap Bianca yang tidak memikirkan perasaan orang tuanya, meskipun Reagan yakin tidak akan ada kekerasan yang Bianca dapatkan tapi ia juga tidak mau suasananya semakin keruh.


“Pulang!” tegas Ignazio.


“Tidak mau,” tolak Bianca.


“Bianca,” panggil Ignazio dengan tatapan seriusnya.


“Bianca tidak mau pulang Daddy.” Bianca melirik ke arah Reagan untuk meminta bantuan.


Bibir Reagan bergerak seolah mengatakan ‘Pulang’ ke arah Bianca.


Bianca memberikan tatapan kesalnya pada Reagan. Seharusnya Reagan berusaha menahannya, Bianca sudah jauh-jauh menemui Reagan tapi yang di lakukan Reagan menyuruhnya pergi.


Tanpa kata Bianca berjalan menuju mobil dan duduk di kursi belakang. Ia melihat Ignazio yang seperti tengah berbicara serius dengan Reagan.


Namun kedatangan Fiona membuat Bianca segera memalingkan wajahnya. Tidak lama Ignazio ikut menyusul masuk ke dalam mobil. Ignazio mulai melajukan mobilnya menuju rumah. Sepanjang perjalanan Bianca memalingkan wajahnya dengan mulut diam seribu bahasa.


Sampai di rumah pun ia segera masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.


***


Saat bel pulang berbunyi Bianca segera keluar dari kelasnya. Ia berlari menuju tempat motor Reagan terparkir. Bianca berdiri tepat di samping motor Reagan.


Lima menit berlalu, Bianca mulai merasa pegal. Beberapa motor murid lain meninggalkan tempat parkir.


Bianca menghembuskan nafasnya, ia mengecek ponselnya dan mencoba menghubungi nomor Reagan namun tidak kunjung di angkat.

__ADS_1


Dari kejauhan langkah Reagan terhenti saat melihat di samping motornya Bianca tampak berdiri menunggunya. Reagan memilih memakai topinya dan berjalan dengan gerombolan pria yang kebetulan lewat.


Seperti ucapan orang tua Bianca, mereka ingin Reagan menjauhi Bianca. Dan Reagan menyanggupi hal itu, karena bagi orang tua Bianca ini yang terbaik untuk Bianca.


Reagan bisa saja menolak, tapi ia malas mendengar ocehan Filio. Jika memang harus berakhir Reagan rasa ini bukan hal yang sulit, meskipun ada sedikit keraguan dalam diri Reagan. Apa ia bisa melakukan hal ini, namun Reagan kembali memantapkan hatinya. Reagan menghentikan taksi dan masuk ke dalam meninggalkan area sekolah.


Sudah setengah jam lamanya Bianca menunggu namun ia tidak melihat tanda-tanda kedatangan Reagan. Ia ingin tahu hal apa yang Reagan bicarakan dengan Ignazio.


Bianca berpikir sejenak untuk mengambil langkah. Regan sudah tidak mau menerima telepon Bianca, maka Bianca merasa harus mencari Reagan ke kelasnya. Akhirnya Bianca berjalan menuju kelas Reagan. Di sana hanya ada dua orang siswi yang tampak berbincang dengan buku di meja mereka. “Permimisi,” ucap Bianca.


Kedua siswi tersebut menengok ke arah Bianca. “Iya ada apa?”


“Lihat Reagan tidak, motornya masih ada di tempat parkir. Aku pikir ia masih di kelas,” ujar Bianca.


“Reagan tadi langsung pulang kok saat bel berbunyi,” jawab salah satu siswi.


“Oh begitu ya, terima kasih.” Bianca berjalan kembali menuju tempat motor Reagan terparkir.


Dikta yang hendak melajukan motornya menengok ke arah Bianca yang berlari. Ia mematikan motor Reagan dan menunggu Bianca.


Bianca memegangi lututnya, napasnya tersengal-sengal karena berlari. “Se-sebentar pak Dikta,” ucap Bianca.


Dikta turun dari motor Reagan.


Merasa sudah baikkan Bianca kembali menenggakkan tubuhnya menatap Dikta. “Bapak mau bawa ke mana motor Reagan?” tanya Bianca dengan penuh selidik.


“Bawa motor Reagan pulang, katanya dia mau pakai,” jawab Dikta.


“Memangnya Reagan ada di mana?”


“Di rumah,” jawab Dikta dengan polosnya.

__ADS_1


“Bapak mau ke rumah Reagan kan?”


Dikta mengangguk.


“Ayo Bianca ikut,” ucap Bianca.


“Ayo.”


Bianca dan Dikta berboncengan menuju rumah Reagan. Sesampainya di rumah Reagan seorang penjaga gerbang menghadang Bianca. “Maaf nona tidak boleh masuk.”


Bukannya Bianca saudara Reagan, tapi kenapa tidak boleh masuk. “Kenapa pak?” tanya Dikta mengungkapkan rasa penasarannya.


“Atas perintah tuan,” jawab pria tersebut.


Bianca turun dari motor Reagan dan menghadap ke arah pria tersebut. “Sebenarnya ada apa sih, bapak juga kan tahu saya saudara Reagan. Anak dari adik Om Filio. Tapi kenapa tidak boleh masuk? sebelumnya boleh.”


“Maaf Nona tapi saya tidak tahu.”


Bianca merasa putus asa. Bagaimana tidak Filio bersikap seperti Ignazio. Tidak tahukah mereka bahwa Bianca merasa tertekan akan hal yang menyebalkan ini.


Bianca menghadap ke arah Dikta. “Pa Bianca boleh ya pinjam ponsel bapak, soalnya ponsel Bianca kehabisan baterai,” ucap Bianca berbohong. Ia hanya ingin berbicara dengan Reagan.


Melihat wajah memelas Bianca dengan berat hati Dikta memberikan ponselnya pada Bianca.


Bianca menerima ponsel dari Dikta dan menjauh dari mereka. Lalu menghubungi Reagan. Pada panggilan ke dua sambungan teleponnya terhubung. [Ada apa?]


Bianca diam terpaku untuk beberapa detik saat mendengar suara Reagan. Ia menarik nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan. “Kenapa sih Reagan ikut-ikutan bersikap seperti orang tua kita? ... Bianca benci sama Reagan.” Bianca menjeda ucapannya karena hatinya terasa sakit.


Reagan terkejut saat mendengar suara Bianca, ia merasa tidak salah mengangkat telepon. Reagan hingga menjauhkan ponselnya dari telinga untuk melihat siapa yang meneleponnya.


“Reagan tidak peduli pada perasaan Bianca ... Reagan jahat.” Bianca tidak bisa melanjutkan ucapannya, tenggorokannya terasa tercekat. Hatinya sakit, air mata Bianca menggenang di pelupuk matanya.

__ADS_1


[Kita sudah putus, tak ada hubungan apa pun lagi di antara kita.] Jauh di lubuk hatinya Reagan tidak ingin hal itu terjadi, namun keputusan orang tuanya mutlak.


__ADS_2