Reagan

Reagan
Reagan 47


__ADS_3

Sejak hari itu Bianca tidak pernah betemu dengan Reagan lagi, rasa sakit yang di rasakan Bianca membuatnya enggan mengejar Reagan lagi. Belum lagi kabar burung mengatakan jika Reagan tengah dekat dengan wanita di kelasnya. Untuk menghindari rasa sakit yang bertubi Bianca hanya menjalankan rutinitas hari-harinya seperti Biasa. Namun di rumah pun Bianca sudah jarang berbincang dengan Ignazio, ia lebih senang mengurung diri di kamar. Ia pun juga tidak pernah bercanda lagi dengan Luisa, karena Bianca lebih memilih diam dan mengalah jika kakaknya berbuat jahil.


Sudah dua bulan lamanya waktu tak terasa bergulir begitu cepat. Seperti Biasa Bianca pulang dari rumah dan masuk ke kamarnya. Namun saat menutup pintu Bianca melihat wajah Fiona yang menghampirinya. Bianca tidak membuka lebar pintu kamarnya dan tidak juga menutup pintu yang terbuka seperempatnya saja.


“Bianca,” panggil Fiona. Tangannya menahan gagang pintu agar tidak di tutup oleh Bianca.


“Ada apa?” tanya Bianca dengan nada malasnya.


“Malam ini kamu harus ikut ke perayaan hari jadi Havelaar grup,” ucap Fiona.


“Buat apa? Tante Sahira dan Om Filio saja tidak mau melihat kehadiran Bianca. Yang ada Bianca hanya akan mengacau di sana,” jawab Bianca. Meskipun suaranya terdengar ketus namun jauh di lubuk hatinya ia merasakan sakit yang amat dalam. Ia merasa tidak melakukan kesalahan namun tidak di perbolehkan masuk ke rumah Filio, padahal Bianca keponakannya sendiri. Bianca merasa menjadi orang asing di mana pun.


“Kamu harus ikut. Havelaar Grup itu perusahaan yang di dirikan opa, masa kamu tidak menghargai perjuangan opa?” tanya Fiona berusaha membujuk putrinya.

__ADS_1


“Bilang saja pada opa kalau Bianca sakit.”


“Sakit apa? kamu baik-baik saja.”


‘Sakit hati,’ batin Bianca.


“Ya apa saja, terserah mommy. Bianca lelah mau istirahat,” jawab Bianca. Ia menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


Fiona menghembuskan nafas lelahnya. Ia merasa semakin jauh dari Bianca, belum lagi Bianca tidak seceria dahulu. Kini putrinya lebih banyak diam. Jika dulu Fiona sering meminta bantuan Ignazio kini suaminya pun tak bisa melakukan hal itu lagi.


“Membujuk Bianca, tapi tidak berhasil,” jawab Fiona dengan nada putus asanya.


“Dih anak itu gak pernah patah hati, selalinya patah hati kayak mayat hidup,” kesal Luisa. Ia menghampiri pintu kamar Bianca dan mengetuknya dengan keras.

__ADS_1


“Heh cewek susah move on buka pintunya,” teriak Luisa.


Bianca mendengar hinaan dari kakaknya, namun ia memilih memasang headphone dan memutar musik dengan cukup kencang. Bianca merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menarik selimutnya.


Tidak mendapatkan jawaban dari adiknya Luisa menggedor pintu kamar Bianca lebih kencang dari sebelumnya. “Heh adik durhaka buka pintunya!”


Kepala Fiona semakin berdenyut mendengar keributan yang di buat Luisa. “Sudah ka, mungkin Bianca tidur. Biar nanti sebelum berangkat mommy coba bujuk lagi.”


Akhirnya Luisa memilih menyerah.


Sore harinya Bianca terbangun karena rasa rapal di perutnya. Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore dan Bianca belum makan siang. Ia mengambil snak dari dalam tas sekolahnya dan memainkan ponselnya melihat instagram. Perhatiannya tertuju pada story milik Reagan, untuk pertama kalinya Bianca melihat Reagan membuat insta story. Dengan rasa penasarannya yang menggebu-gebu Bianca membuka story tersebut.


Hati Bianca terasa di tusuk dengan ribuan pisau tajam, sakit. Isi dari Story tersebut boomerang Reagan yang tersenyum bersama wanita yang di gosipkannya. Yang membuat hati Bianca teriris wanita tersebut memamerkan bunga dengan wajah yang super bahagia.

__ADS_1


Bianca yang kesal membuang ponselnya agak menjauh darinya. “Menyebalkan,” gerutu Bianca.


Namun Bianca segera mengambil ponselnya kembali. Ia sangat ingin melabrak Reagan. Bianca hendak mengirimkan pesan pada Reagan, namun Bianca urungkan ia takut dirinya semakin sakit hati jika memang kenyataannya Reagan sudah tak peduli lagi pada perasaan Bianca.


__ADS_2