Reagan

Reagan
Reagan 44


__ADS_3

“Iya.”


Jawaban Reagan sangat menusuk ke dalam hati Bianca, rasanya sakit. Bianca sangat ingin menangis detik ini juga, mata Bianca sedikit menggenang namun ia tetap memberanikan diri menatap Reagan. “Reagan kenapa ingin mengakhiri hubungan ini, padahal Bianca berusaha untuk tetap bertahan jadi pacarnya Reagan di saat Daddy dan mommy tidak setuju dan meminta Bianca untuk mengakhiri hubungan ini. Tapi yang Reagan lakukan pada Bianca malah seperti ini,” ucap Bianca. Ternyata ia tidak bisa menahan lagi air matanya, rasa sakit pertama kali Bianca rasakan terasa begitu jelas.


Reagan terdiam memandangi Bianca yang meneteskan air mata di depannya, ia tidak menyangka Bianca bisa melakukan hal seperti ini. Bukankah selama ini Bianca selalu mengikuti keinginan orang tuanya, tapi yang di lakukan Bianca di luar ekspektasi Reagan.


“Maaf, karena semuanya kesalahanku. Seharusnya dari awal kita tidak boleh berpacaran, lebih baik sekarang kamu pulang dan ikuti kemauan Tante Fiona dan om Ignazio,” ujar Reagan. Ia masuk ke dalam mobil dan menguncinya.


Bianca yang takut di tinggalkan segera mengetuk jendela mobil Reagan. “Buka Reagan,” teriak Bianca.


Reagan tidak bisa melihat Bianca menangis, ia segera melajukan mobilnya meninggalkan Bianca.

__ADS_1


“Reagan jangan pergi,” teriak Bianca saat Reagan mulai melajukan mobilnya. Bianca sudah berusaha berlari untuk menyusul namun kecepatan mobil Reagan tidak bisa Bianca kejar.


Bianca menatap ke sekeliling yang tampak gelap dan sepi. Reagan tega meninggalkannya begitu saja, air mata Bianca mengalir begitu deras. Hatinya sangat hancur, Bianca menyalakan ponselnya untuk memesan taksi online namun ponselnya mati.


Bianca menghapus air matanya yang terus mengalir, ia berjalan dengan langkah lesu menuju pelataran resto Reagan. Ia memandang ke jalanan yang gelap, tangannya mengepal erat.


Bianca menatap tetesan air yang turun dari langit, jalanan di depannya cukup sepi. Tidak ada mobil yang melewat karena hari sudah sangat malam. Bianca memeluk tubuhnya dengan tangannya sendiri. Ini kali kedua Reagan meninggalkan Bianca, namun kali ini rasanya sangat sakit sekali. Belum lagi keinginan Reagan yang mengakhiri hubungan ini membuat dada Bianca terasa tertusuk pisau tajam, setelah semua kebahagiaan yang Reagan berikan kali ini Bianca tidak suka dengan rasa sakit yang Reagan berikan.


Bianca berencana menerobos hujan, namun kepalanya pusing. Pandangan Bianca mulai mengabur, Bianca menghentikan langkahnya. Semuanya berubah menjadi gelap.


Saat tubuh Bianca ambruk Reagan keluar dari mobilnya, ia berlari menghampiri Bianca lalu membawa tubuh Bianca yang tidak sadarkan diri masuk ke dalam mobilnya. Reagan menurunkan sandaran kursinya, ia membuka jaket yang di kenakannya untuk menutupi tubuh Bianca yang sedikit basah.

__ADS_1


Reagan menepuk-nepuk pipi Bianca. “Bianca bangun,” ucap Reagan dengan nada khawatirnya. Namun Bianca tidak kunjung bangun, akhirnya Reagan mengambil minyak angin aromatherapy dan mendekatkannya pada hidung Bianca.


Tangan Reagan tidak berhenti menepuk pelan pipi Bianca seraya memanggil namanya.


Jika Bianca tidak sadar juga, Reagan akan segera membawa Bianca ke rumah sakit terdekat.


“Bianca,” panggil Reagan dengan nada frustrasinya. Ia menyesal telah meninggal Bianca begitu saja, dan membiarkan Bianca menangis seorang diri. 'Maafkan aku,' batin Reagan.


Bianca tersadar saat mendengar panggilan Reagan, tangan Bianca meraba kepalanya yang terasa berdenyut.


Saking senangnya Bianca terbangun refleks Reagan memeluk tubuh Bianca dengan sangat erat, ia senang melihat Bianca yang tersadar dari pingsannya.

__ADS_1


__ADS_2