
“Kenapa kau iri?”
“Untuk apa aku iri terhadap hidupmu yang menyedihkan itu,” ungkap Bianca. “Tidak ada masa depan untuk orang sepertimu.”
Reagan berjalan mendekati Bianca, ia berdiri tepat di depan tubuh Bianca. “Kita lihat siapa yang tidak akan memiliki masa depan, aku atau malah kamu,” bibir Reagan menyeringai. Ia berjalan meninggalkan Bianca begitu saja.
“Sombong sekali,” gerutu Bianca.
Bianca merasa sudah menyelesaikan pekerjaannya, ia mencari keberadaan Dikta untuk segera melapor. Bianca mendapati Dikta yang sedang di ruang guru tengah berbincang dengan guru lainnya. “Permisi, pak Dikta,” panggil Bianca.
Dikta menghentikan obrolannya, ia menoleh ke arah Bianca yang memanggilnya. “Sudah selesai?”
Bianca mengangguk. “Bapak boleh mengeceknya sendiri,” jawab Bianca.
“Kalau begitu kamu boleh kembali ke kelas,” ujar Dikta.
“Baik Pak.” Bianca akhirnya bisa bernafas dengan lega. Ia kembali ke kelasnya.
Sesampainya di kelas Bianca mengetuk pintu kelas saat melihat guru IPA sedang mengajar. “Permisi pak,” ucap Bianca.
Pak Burhan sebagai guru IPA yang sedang mengejar menengok ke arah pintu. “Kenapa kamu baru masuk ke kelas?”
“Saya menyelesaikan hukuman pak,” jawab Bianca.
Raut wajah pak Burhan tampak kesal. “Masuk,” ketusnya.
Bianca masuk ke dalam kelas, dan duduk di kursinya. Ia mengeluarkan buku dan mulai menyimak pelajaran.
Bel istirahat berbunyi cukup nyaring. Semua siswa bisa bernafas dengan lega. Bianca menutup buku dan memasukkannya ke dalam tas.
__ADS_1
“Mau ke kantin?” tanya Anisa.
“Ayo,” sahut Bianca. Ia dan Anisa keluar dari kelas, namun baru saja melewati pintu pak Dikta tampak berdiri di depan pintu kelas.
“Bianca,” panggil Dikta.
“Ada apa Pak,” sahut Bianca.
“Bersihkan kembali toilet.”
Wajah Bianca tampak kebingungan. “Untuk apa pak, toiletnya sudah bersih.”
“Toiletnya belum bersih, silahkan kamu cek sendiri.”
Bianca segera berlari menuju toilet yang ia bersihkan di ikuti Anisa yang berlari di belakang Bianca.
Anisa yang penasaran segera melihat ke area toilet. “Bianca sepertinya ada yang ingin mengerjaimu,” ujar Anisa.
Bianca mengangguk setuju. Pasalnya lumpur itu seperti sengaja di tumpahkan begitu saja hingga memenuhi lantai toilet.
Dikta berdiri di belakang Bianca dan Anisa. “Toiletnya masih sangat kotor, kamu harus membersihkannya.”
Bianca berbalik menatap Dikta. “Bapak tidak bisa seperti ini. Ini bukan perbuatan saya,” ujar Bianca.
“Saya memberikan hukuman kepada kamu untuk membersihkan toilet, tapi saat saya cek. Toiletnya masih sangat kotor seperti ini, tugas ini masih tanggung jawab kamu.”
“Tidak bisa begitu pak,” protes Bianca.
“Apa kamu sengaja melakukan ini agar tidak perlu membersihkan toilet?” Tuduh Dikta.
__ADS_1
Bianca tidak terima di tuduh seperti itu. “Maksud bapak apa berbicara seperti itu. Saya tidak terima di tuduh tanpa bukti.”
“Kalau begitu coba buktikan, kalau bukan kamu pelakunya,” tantang Dikta.
Bianca sangat kesal kepada Dikta. “Reagan ada di sini saat saya membersihkan toilet.”
“Kalau begitu ayo kita tanya Reagan,” ajak Dikta.
Bianca mengangguk setuju. Dia mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Reagan. “Kamu ada di mana?” tanya Bianca begitu telepon tersambung.
[Di kantin.]
Bianca menutup teleponnya dan menatap Dikta. “Ayo kita tanya Reagan, dia ada di kantin.”
Dikta mengangguk setuju. Ia berjalan mengikuti dua muridnya. Sampai di kantin Dikta melihat Reagan sedang duduk di kursi kantin yang berada di pojok tengah menikmati makanannya.
Bianca berjalan menghampiri Reagan. Dan segera menatap Dikta untuk bertanya.
“Apa kamu melihat toilet yang di bersihkan Bianca sudah bersih?” tanya Dikta.
Reagan menatap ke arah Dikta. “Aku tidak melihatnya,” jawab Reagan.
“Kamu dengar sendirikan, tidak ada saksi mata di sini jika kamu membersihkan toilet,” tutur Dikta.
“Tapi saya membersihkan toiletnya sampai benar-benar bersih. Bukan malah mengotorinya seperti sekarang,” jawab Bianca dengan beraninya. Karena ia merasa tidak melakukan kesalahan.
“Lebih baik kamu jujur saja, dan bersihkan kembali toiletnya,” putus Dikta.
Bianca melipat kedua tangannya di dada. “Tidak mau, bapak saja yang bersihkan.”
__ADS_1