Reagan

Reagan
Reagan 7


__ADS_3

“Itu urusanmu, bukan urusanku.”


Singkat padat dan sangat jelas membuat Bianca kesal. Bianca menarik lengan Reagan agar mengikuti langkahnya. “Semua ini tidak akan pernah terjadi kalau kamu mengantarku dengan baik sampai rumah.”


Tubuh Reagan seolah pasrah di tarik Bianca. Banyak pasang mata para siswa yang melihat adegan Bianca menarik tangan Reagan. Semua berbisik dengan kedekatan tersebut.


Dikta yang baru keluar dari ruang guru langsung berpapasan dengan Bianca yang menarik Reagan. Fokus Dikta tertuju pada rokok yang di pegang Reagan. “Astaga dia dapat dari mana? Padahal aku sudah mengambil rokoknya,” batin Dikta.


“Bianca, Reagan!” panggil Dikta.


Bianca melepaskan pegangan tangannya dari Reagan. “Ada apa pak?” tanya Bianca.


Dikta menatap saku kemeja Bianca yang terdapat satu bungkus rokok yang sedikit menonjol ke atas. “Kamu dan Reagan di hukum!”


Wajah Bianca melongo mendengar pernyataan Dikta. “Atas dasar apa bapak menghukum saya?”


Bianca mengikuti arah pandang Dikta yang menuju saku kemejanya. Bianca sangat terkejut melihat satu bungkus rokok di sakunya. Padahal ia tidak membawanya sama sekali. Bianca menatap ke arah Reagan yang masih santai menyesap rokoknya dengan tubuh yang bersandar pada dinding. “Ini bukan rokok saya pak, ini punya Reagan,” tuduh Bianca. Ia sangat yakin Reagan sengaja melakukan hal ini.


“Kalian sama-sama melanggar, bersihkan kamar mandi di belakang sekolah sekarang juga!” bentak Dikta.


Suara bel masuk terdengar begitu nyaring. Bianca memberikan tatapan permusuhan pada Reagan.

__ADS_1


“Matikan rokokmu Reagan!”


Reagan menyesapnya untuk terakhir kali sebelum memadamkannya Dengan cara menginjak menggunakan sepatunya.


“Ayo ikut saya!”


Bianca tidak ingin mendapatkan hukuman, tapi jika ia membangkang orang tuanya akan kena masalah. Dan Bianca tidak ingin membuat orang tuanya di panggil oleh sekolah karena kejahilan Reagan. Akhirnya Bianca mengikuti langkah Dikta.


Reagan berjalan paling belakang setelah Bianca. Ia berjalan dengan langkah santainya, seolah apa yang akan terjadi selanjutnya bukan masalah besar.


Dikta menghentikan langkahnya di depan kamar mandi. Ia membuka gudang di samping toilet tempat alat untuk membersihkan toilet di simpan.


“Satu jam pelajaran saya rasa cukup untuk membersihkan toilet ini. Saat bel berbunyi semuanya harus selesai,” ujar Dikta memperingati.


Dikta meninggalkan Bianca dan Reagan. Ia harus berpatroli memastikan semua murid masuk ke dalam kelasnya masing-masing.


Bianca menatap tiga pintu toilet wanita dan tiga pintu toilet pria. “Aku yang wanita, kamu yang pria,” ujar Bianca. Ia mengambil alat pembersih dan masuk ke dalam toilet wanita.


Bianca menutup hidungnya kala baunya sedikit menyengat. Toiletnya tidak terlalu kotor tetapi karena jarang di pakai dan debu mulai menempel membuat toiletnya sedikit berkerak.


Bianca menuangkan cairan pembersih toilet, ia mengambil sikat dan mulai membersihkan kerak-kerak yang membandel.

__ADS_1


Bianca bukan anak manja, setidaknya urusan seperti ini dapat ia atasi. Peluh di kening Bianca bercucuran, namun hasilnya memuaskan. Bianca sudah menyelesaikan tugasnya dalam waktu tiga puluh menit. Bianca keluar dari toilet wanita. Pandangannya langsung tertuju pada Reagan yang duduk di kursi entah dia dapat dari mana, sebelumnya Bianca tidak melihat kursi itu di sekitar sana. “Kamu sudah selesai membersihkan tugasmu?” tanya Bianca.


“Belum,” jawab Reagan santai ia menyesap rokoknya dan menghembuskan perlahan seolah tak ada beban dalam hidupnya.


“Waktunya tinggal tiga puluh menit lagi, cepat bersihkan!”


“Kau saja yang bersihkan,” jawab Reagan.


“Tidak mau,” sanggah Bianca. “Seenaknya saja, aku juga dapat hukuman ini karena ulahmu,” lanjut Bianca dengan nada kesalnya.


“Aku bisa mengurus masalahmu dengan Tobi secepat mungkin,” tawar Reagan.


Ucapan Reagan yang mengalihkan topik berhasil membuat Bianca teringat akan permintaan Tobi yang meminta ganti rugi dua belas juta. “Tidak perlu, aku bisa mengurusnya sendiri,” ucap Bianca percaya diri. Ia tidak mau di kerjai oleh Reagan lagi, ini kedua kalinya hidup Bianca di buat menderita karena kelakuan Reagan.


Seorang adik kelas berjalan menghampiri Reagan. “Ada yang bisa saya bantu Kak?”


“Bersihkan toilet,” jawab Reagan memberikan perintah.


Adik kelas tersebut mengangguk patuh lalu masuk ke dalam toilet pria yang seharusnya di bersihkan oleh Reagan.


“Kamu bertingkah seenaknya saja,” ketus Bianca.

__ADS_1


“Kenapa kau iri?” tanya Reagan santai sembari menikmati sebatang rokok.


__ADS_2