Reagan

Reagan
Reagan 9


__ADS_3

“Tidak mau, bapak saja yang bersihkan.”


“Kamu membantah saya?”


“Berapa kali harus saya katakan. Saya tidak mengotori kamar mandi, saya membersihkannya sesuai hukuman bapak,” jawab Bianca dengan nada berapi-api karena sangat kesal pada Dikta.


“Tapi kenyataannya kamu lihat sendiri, toiletnya masih sangat kotor. Kamu belum menyelesaikan hukuman, sekarang kembali bersihkan!” perintah Dikta.


“Tidak mau,” jawab Bianca tetap pada pendiriannya.


“Kalau begitu ikut saya ke ruang BK dan saya akan memanggil orang tuamu,” ancam Dikta.


Bianca menghembuskan nafas kesalnya. Ia melirik ke arah Reagan. “Cepat katakan pada pak Dikta kalau aku membersihkan toiletnya sampai bersih,” titah Bianca pada Reagan.


“Aku tidak melihatnya, namun aku mendengar suara jika Bianca membersihkan toilet dengan sikat kamar mandi.”


Bianca menatap wajah Dikta. “Bapak dengar sendirikan, kalau saya sudah melaksanakan hukuman bapak.”


“Kalian tidak perlu bersekongkol. Lagi pula hanya mendengar bisa saja hanya berpura-pura,” jawab Dikta dengan entengnya.


Bianca rasanya ingin memaki-maki guru muda di depannya.

__ADS_1


“Masalah sepele seperti ini di buat besar. Untuk apa ada petugas kebersihan kalau semuanya di limpahkan kepada murid hanya karena sebuah hukuman. Harusnya bapak mengawasi kita bukannya bergosip dengan guru lain membicarakan selang’kangan wanita.” Regan sudah tidak berselera untuk melanjutkan makannya, ia bangkit dari duduknya dan berdiri meninggalkan Bianca dan Dikta begitu saja.


Dikta merasa di tampar oleh ucapan Reagan.


Sementara Bianca cukup terkejut dengan ucapan pedas yang keluar dari mulut Reagan. Ia tidak menyangka Reagan berani berbicara seperti itu pada Dikta.


“Kamu boleh istirahat,” ujar Dikta. Ia tidak ingin mendapatkan masalah karena hal barusan. Yang ia takutkan Reagan akan mengadukannya hingga membuat Dikta di pecat dari pekerjaannya.


Saat tubuh Dikta berbalik, Bianca melepaskan tinjunya ke udara. “Menyebalkan!”


Anisa tersenyum melihat tingkah Bianca. “Aku traktir minum yuk,” ujar Anisa.


Bianca menoleh ke arah Anisa yang berada di sampingnya. “Makanannya tidak sekalian?”


“Tapi uang jajanku kali ini di potong lima puluh persen, jadi masih besar uang jajanmu. Belum lagi aku harus mengganti helm Tobi yang harganya tidak masuk akal, jadi Traktir ya,” pinta Bianca dengan sedikit paksaan.


“Kali ini saja tapi ya,” ucap Anisa memperingati.


Bianca merangkul bahu Anisa. “Ah senang sekali rasanya punya sahabat sebaik kamu,” ungkap Bianca.


Bianca dan Anisa bercanda tawa ria sambil menghabiskan waktu istirahat mereka. Sementara di sisi lain sekolah Reagan tampak menghampiri ruang kelas sepuluh. Reagan menempelkan punggungnya ke dinding. Semua pasang mata terheran-heran melihat kedatangan Reagan di area kelas sepuluh.

__ADS_1


Reagan menatap ke arah anak buah Tobi. “Di mana Tobi?”


“Di kamar mandi,” jawab siswa tersebut.


“Antarkan aku kepadanya,” titah Reagan.


Pria tersebut mengangguk dan berjalan lebih dulu di ikuti Reagan di belakangnya. Sampai di ujung kelas terdapat sebuah toilet, di depan pintu toilet tampak di jaga oleh seorang siswa.


“Cepat panggilkan,” perintah Reagan.


Siswa yang menunjukkan jalan menatap ke arah siswa yang sedang menjaga pintu untuk segera memberitahu Tobi. Siswa tersebut mengetuk pintu kamar mandi yang ia jaga, “Tuan Tobi, ada Reagan mencarimu.”


Mendengar nama Reagan yang di sebut, Tobi menghentikan aktivitasnya yang tengah berci’uman dengan kekasihnya. “Kembali ke kelas, aku ada urusan,” pinta Tobi pada kekasihnya.


Kekasih Tobi mengangguk patuh. Begitu keluar dari kamar mandi, perempuan tersebut langsung berjalan kembali ke kelasnya.


Reagan menatap ke arah Tobi dengan pandangan serius. “Kau yang mengerjai Bianca?”


Tobi mengangguk. “Apa ada masalah?”


“Jangan mengganggunya lagi, dan akui perbuatanmu di depan Dikta.”

__ADS_1


Permintaan Reagan sangat konyol bagi Tobi, terlebih yang ia lakukan pada Bianca tidak berlebihan. “Untuk apa membuang waktu dengan mengakuinya, lagi pula itu hukuman karena dia telah menghilangkan helm milikku.”


Reagan tidak suka dengan sikap angkuh yang di miliki Tobi. Ia melayangkan satu tinju hingga mengenai wajah Tobi.


__ADS_2