
Bianca memandang kepergian Luisa dengan perasaan kesal. Ia memasukkan kembali es krim tersebut ke dalam kotak dan membawanya ke dapur. Bianca menata es krim ke dalam fezeer, mengambilnya satu buah lalu duduk di pantry.
Sambil menikmati es krim, Bianca mengeluarkan ponselnya. Bibir Bianca tersenyum, untuk pertama kalinya Reagan melihat story milik Bianca. Padahal sebelumnya Reagan tidak pernah sekali pun ada di daftar orang yang melihat story Bianca.
Bianca mengecek profil instagram Reagan. Namun jarinya terhenti saat sebuah panggilan video call masuk ke ponselnya menampilkan foto profil Reagan. Bianca merapikan tatanan rambutnya, setelah merasa rapi ia menekan tombol hijau dan menampilkan senyuman manisnya ke arah kamera.
“Halo,” sapa Bianca begitu layar ponselnya memperlihatkan wajah tampan Reagan.
“Ada barangmu yang tertinggal,” Ucap Reagan tangannya menunjukkan sebuah bolpoin.
Bianca menatap layar ponselnya, memperhatikan bolpoin yang di tunjukan Reagan. “Sepertinya itu bukan punyaku,” Jawab Bianca.
“Benarkah?” Reagan bertanya dengan nada seriusnya.
Kelapa Bianca mengangguk. “Aku tidak punya bolpoin seperti itu.”
Di dalam layar ponselnya Bianca melihat Reagan menaruh bolpoinnya. “Ya sudah kalau begitu, jika memang bukan punyamu aku akhiri teleponnya.”
Sebelum Bianca angkat bicara Reagan segera menekan tombol merah. Ia menghubungi Bianca hanya ingin memastikan bahwa kekasihnya sudah tidak marah lagi, dan soal bolpoin itu Reagan mengada-ngada jelas-jelas itu bolpoin miliknya sendiri. Sekarang Reagan bisa kembali bekerja dengan tenang tanpa memikirkan Bianca yang marah.
__ADS_1
Bibir Bianca mengerucut, padahal dia hendak mengucapkan terima kasih atas kiriman es krimnya. Namun Reagan malah menutupnya. Karena kesal Bianca memasukkan setengah potong es krim dalam satu suapan ke dalam mulutnya.
Fiona membuka lemari pendingin, ia melihat es krim yang berjajar dengan rapi. Fiona mengambil satu rasa coklat dan ikut bergabung dengan Bianca.
Bianca menatap Fiona yang tengah membuka bungkus es krim. “Mommy ambil dari mana itu?”
“Dari dalam freezer,” jawab Fiona santai.
Bianca tidak tinggal diam saat Fiona hendak memakannya, dengan cepat Bianca merebut es krim tersebut sebelum Fiona memakannya. “Tidak boleh ini milik Bianca,” ujar Bianca. Ia memakan es krim tersebut di depan Fiona yang masih melongo.
“Bianca. Mommy hanya minta satu, jangan pelit begitu nanti Mommy ganti,” ujar Fiona tidak terima es krimnya di makan Bianca.
“Tidak boleh ada yang mengambil es krim milik Bianca lagi. Kalau Mommy mau, minta saja sama kak Luisa, dia mencuri beberapa es krimku. Jika ada yang mencuri es krim Bianca, akan Bianca laporkan pada Daddy agar di pecat. Termasuk Mommy, supaya Daddy pecat dari istri. Bianca mau Mommy baru saja,” ucap Bianca panjang kali lebar sebelum meninggalkan Fiona.
Bianca berjalan dengan santai tidak memedulikan ucapan Fiona, karena ia tahu seberapa sayangnya Ignazio terhadap Bianca. Bahkan kemarin Bianca mendapat tambahan uang jajan yang di potong Fiona, pemberian Ignazio tanpa sepengetahuan Fiona.
***
Seharian ini mood Bianca cukup bagus, karena Reagan berada di kelas sampai pelajaran terakhir selesai.
__ADS_1
Reagan keluar kelas lebih dulu, sementara Bianca memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
“Bianca. Anisa pulang dulu ya,” pamit Anisa.
Bianca mengangguk, ia merapikan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas. Tidak terasa kelas sudah kosong, dan murid-murid lain sudah pulang. Bianca hendak keluar dari kelas namun dari ambang pintu Jesica bersama temannya menghadang jalan Bianca.
“Halo,” sapa Jesica dengan senyuman di bibirnya.
Bianca mematung di tempatnya, ada perasaan takut menyelimutinya. Ia merasa takut karena menguping pembicaraan Reagan dan Jesica. “Ada apa?” tanya Bianca.
“Aku hanya ingin berbicara denganmu,” ucap Jesica lembut dengan senyuman mengerikan yang timbul dari Bibirnya membuat raut wajah Jesica terlihat mengerikan.
Bianca memberanikan diri untuk berjalan melewati Jesica. “Maaf aku sedang buru-buru,” ujar Bianca.
Jesica menarik rambut Bianca yang tergerai, hingga bibir Bianca meringis kesakitan.
“Lepaskan sakit,” keluh Bianca dengan nada meringis.
Jesica mendorong kepala Bianca hingga membentur kusen pintu, bahkan dengan sengaja menekan kepala Bianca hingga wajahnya terasa sakit karena tekanan yang di berikan Jesica.
__ADS_1
“Ini baru permulaan, liat saja kalau kamu masih berani mengejar Reagan. Aku akan membuatmu malu dan tidak berani sekolah lagi!” ancam Jesica.
Saat tubuh Bianca di lepaskan oleh Jesica, tubuh Bianca luruh ke lantai. Ia mendengar langkah kaki yang menjauh. Bianca menangis, untuk pertama kali dalam sejarah hidupnya Bianca di perlakukan sekasar ini.