Reagan

Reagan
Reagan 37


__ADS_3

Setelah keluar dari toko perhiasan tak henti-hentinya Bianca memandang jari manisnya, cincin yang di pilih Reagan terlihat sangat manis dan Bianca sangat menyukainya.


“Reagan, terima kasih,” ucap Bianca tulus.


Reagan menganggukkan kepalanya, ia berjalan beriringan bersama Bianca menuju ke tempat motornya terparkir.


Sampai di tempat parkir mereka segera keluar dari basemen dan pulang menuju ke arah rumah Bianca. Bianca memeluk tubuh Reagan dari belakang, sementara dagunya bertumpu pada pundak Reagan.


“Reagan, Bianca senang bisa bersama Reagan. Bianca juga senang menjadi pacar Reagan ... Bianca juga mau selamanya bersama Reagan,” ujar Bianca mengungkapkan keinginannya.


Reagan tidak menanggapi ucapan Bianca, ada banyak kekhawatiran dalam diri Reagan. Ia takut Bianca merasa bosan berpacaran dengannya, terlebih Reagan tidak punya banyak waktu untuk bersenang-senang ada resto yang harus ia urus. Belum lagi Reagan sedang mendalami pelajaran dalam berbisnis.


Sepanjang perjalanan Bianca terus saja mengoceh mengatakan banyak hal, meskipun Reagan tidak menjawab. Terkecuali jika di desak seperti ini. “Reagan, kalau Bianca sakit khawatir tidak?”


Reagan malas menjawab pertanyaan yang sudah jelas seharusnya Bianca tahu jawabannya.


“Reagan jawab, khawatir tidak?” ulangi Bianca lagi.


Reagan fokus pada jalanan dan tidak tertarik menjawab pertanyaan Bianca.


“Reagan jahat, Bianca di acuhkan. Reagan tidak sayang Bianca ya,” ujar Bianca dengan nada sedihnya.

__ADS_1


“Hmmmm khawatir,” jawab Reagan cepat.


Mendengar jawaban Reagan, bibir Bianca tersenyum malu-malu.


Reagan menghentikan motornya tepat di depan gerbang rumah Bianca. “Cepat turun,” titah Reagan.


Bincang turun dari motor, ia mendekatkan tubuh dan wajahnya pada Reagan.


“Ada apa?” Tanya Reagan.


“Helmnya,” ujar Bianca.


“Aku pulang dulu ya,” Pamit Reagan.


Bianca mengangguk dengan senyuman manis di bibirnya. “Hati-hati baby,” ucap Bianca asal menyebutkan panggilan untuk Reagan.


Di balik helm full facenya Reagan tersenyum mendengar panggilan yang keluar dari mulut Bianca kembali membuat jantungnya tidak aman.


Motor Reagan melaju meninggalkan Bianca yang melambaikan tangannya. Setelah motor Reagan tidak terlihat lagi Bianca segera masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu Fiona menunggu kedatangan putri bungsunya.


“Ke mana saja kamu? Sopir masih menunggumu di sekolah. Kamu pulang sama siapa? Kenapa tidak mengabari mommy ? ponselmu kenapa tidak aktif? “ berbagai rentetan kalimat dengan nada cemas keluar dari mulut Fiona.

__ADS_1


Bianca mengerutkan keningnya, kepalanya pusing mendengar berbagai pertanyaan yang keluar dari mulut Fiona. “Mommy tanyanya satu-satu, kepala Bianca jadinya pusing mau jawab yang mana,” Keluh Bianca.


Mata Fiona tertuju pada kening Bianca. “Luka apa itu Bianca?”


Bianca mereka keningnya sendiri. “Bianca habis di amuk masa,” jawab Bianca.


Kali ini kening Fiona yang berkerut. “Ceritakan yang betul, jangan sebagian dan membuat mommy bingung.”


“Gara-gara Bianca menguping pembicaraan kakak kelas Bianca jadi kena sasarannya. Terus kepala Bianca di jedotkan, sakit mooooommy,” Ucap Bianca dengan nada sedihnya hampir menangis.


Fiona membawa Bianca ke dalam pelukannya. “Lapor pada Mommy siapa pelakunya? Akan mommy laporkan pada pihak sekolah,” ujar Fiona dengan nada menahan amarahnya.


“Jesica mommy, Bianca takut di jahati lagi,” lapor Bianca. Ia masih takut meskipun Reagan bilang Jesica tidak akan berani mengganggu lagi.


“Besok mommy akan ke sekolah dan melaporkan Jesica,” jawab Fiona. Ia sangat khawatir melihat Bianca terluka. “Mau ke dokter tidak?”


Kepala Bianca menggeleng, tangan kanannya meraba keningnya lagi yang di perban. “Tidak perlu mommy, ini sudah di obati,” jawab Bianca.


Fokus Fiona tertuju pada jari manis Bianca, ada cincin yang melingkar di jari putrinya. “Cincin dari siapa itu Bianca?”


Bianca menunjukkan jari manisnya pada Fiona. “Bagus kan Mom? Ini cincin pemberian Reagan,” ucap Bianca dengan senyum malu-malu di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2