Reagan

Reagan
Reagan 39


__ADS_3

"Bianca, Daddy dapat rekomendasi sekolah baru, Bianca mau pindah sekolah enggak? Sekolahnya bagus, makanan di kantinnya enak, teman sekelasnya juga ramah,” ucap Ignazio.


“Kenapa harus pindah sekolah? Bianca nyaman kok di sekolah sekarang, apalagi Bianca punya Anisa dan ada Reagan juga,” jawab Bianca dengan senyum malu-malunya.


“Jadi Bianca suka ya sekolah di tempat sekarang?”


Bianca mengangguk. “Memangnya Daddy mau pindah ke luar kota ya sampai Bianca harus pindah sekolah?”


“Iya kalau Bianca mau, tapi kalau Bianca tidak mau ya enggak papa kita tinggal di kota ini aja,” jawab Ignazio.


“Bianca mau di sini aja Daddy,” ucap Bianca. Terlebih Bianca tidak mau jauh-jauh dari Reagan.


“Kamu tidak tidur siang?” tanya Ignazio.


“Tapi Daddy temani ya,” pinta Bianca dengan nada manjanya.


Ignazio mengangguk dan membawa tubuh Bianca ke atas tempat tidur. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh Bianca, lalu duduk di pinggiran tempat tidur dan mengelus puncak kepala putrinya.


Bianca mulai memejamkan matanya, menikmati kasih sayang yang di berikan Ignazio. Bianca merasa sangat nyaman dan beruntung memiliki Daddy yang selalu mengerti keinginan Bianca.

__ADS_1


Setelah Bianca tertidur Ignazio keluar dari kamar Bianca dan menemui istrinya.


“Bagaimana?” tanya Fiona penasaran.


“Ini tidak bisa di biarkan, kita harus membicarakan ini dengan Filio,” ucap Ignazio.


Fiona mengangguk. “Ayo kita temui Filio.”


Sore itu Fiona dan Ignazio datang ke gedung Havelaar Grup.


Filio menyambut kedatangan adiknya, “Mari duduk, Ingin bicara hal penting apa?”


Ignazio menyerahkan amplop yang ia bawa pada Filio. Filio menerimanya dan segera membukanya. Filio mengucek matanya untuk memastikan apa yang ia lihat. “Ini Reagan dan Bianca berciuman di tempat umum?” tanya Filio dengan nada terkejutnya, ia tidak menyangka Reagan akan seberani itu.


“Langkah apa yang harus kita ambil?” Tanya Filio.


Fiona memandang ke arah Ignazio dan Filio secara bergantian. “Kita harus memisahkan mereka,” jawab Fiona.


Filio menggelengkan kepalanya. “Kau mengenal dengan betul sifat Reagan seperti apa, dia tidak akan mudah mengikuti ucapanku,” ujar Filio.

__ADS_1


“Kalau begitu pindahkan Reagan saja ke sekolah lain,” usul Fiona.


“Bagaimana bisa, aku menyekolahkan Reagan di sekolah milikku sendiri karena sudah tidak ada sekolah yang mau menerimanya.”


Bukan hanya Ignazio yang terkejut, Fiona pun tak kalah terkejutnya mendengar penuturan Filio.


“Aku sudah mencoba beberapa sekolah sebelum memutuskan menyekolahkan Reagan di sekolah yang aku bangun. Bahkan aku mendekati beberapa kepala sekolah agar memasukkan Reagan tapi tidak ada yang mau. Reagan hanya sampah yang membawa buruk nama sekolah, begitu pendapat mereka.”


“Kalau begitu pindahkan kelas saja, dan pastikan Reagan tidak akan pernah mendekati Bianca lagi,” tegas Fiona.


Filio mengangguk setuju.


***


Pagi harinya Bianca masuk ke kelas seperti biasa. Ia duduk di kursinya, Bianca melirik ke samping tempat duduk Anisa tidak ada tas milik Anisa. Bianca mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Anisa, tidak biasanya sahabatnya itu datang terlambat tanpa kabar yang membuat Bianca merasa khawatir.


Pada sambungan ke tiga telepon dari Bianca di tolak begitu saja oleh Anisa. Bianca terdiam memandangi layar ponselnya lalu mencoba mengirim pesan.


[Anisa, kenapa belum datang tidak sekolah?] Bianca mengirimkan pesannya namun dalam tanda penerimaan hanya ceklis satu, dan foto profil Anisa pun menghilang begitu saja.

__ADS_1


Bianca terdiam beberapa saat, ia mencoba mengirim pesan pada Anisa lewat Instagram namun hanya di baca, tidak di balas. “Anisa kenapa sih?” gerutu Bianca.


Bel sekolah berbunyi tanda pelajaran pertama di mulai. Bianca menengok ke belakang, Reagan juga tidak ada di tempat duduknya.


__ADS_2