Reagan

Reagan
Reagan 48


__ADS_3

Hari mulai gelap Bianca sudah bersiap dengan piyama tidurnya. Ia membuka laptop miliknya bersiap untuk menghabiskan malamnya dengan menonton film.


Sementara di ruang tengah Ignazio, Fiona dan Luisa sudah siap dengan pakaian rapinya. “Bianca mana?” tanya Ignazio.


“Mommy sudah bujuk tapi Bianca tetap tidak mau ikut,” jawab Fiona.


Ignazio berjalan menuju kamar Bianca. Ia mengetuk pintu pintu kamar Bianca.


Mendengar ketukan di pintu kamarnya Bianca sudah bisa menebak. “Bianca tidak akan ikut!” teriak Bianca.


“Buka pintunya sayang, Daddy ingin berbicara sebentar,” ucap Ignazio.


Sebetulnya Bianca sangat enggan namun ia mencoba memaksakan diri untuk menghargai Ignazio.


Bianca membuka pintu kamarnya. “Ada apa?” tanya Bianca.


Iganzio melihat penampilan Bianca yang masih memakai piyama tidurnya, ‘Anak itu memang tidak berniat untuk pergi,' batin Ignazio.


“Ayo bersiap, kita sudah menunggu,” ujar Ignazio.


“Bianca sudah berulang kali bilang kalau Bianca tidak mau ikut,” kukuh Bianca.


Ignazio menghela nafasnya. “Kamu mau mobil? Ponsel baru? Pakaian baru atau pergi liburan akan Daddy turuti asal Bianca ikut,” ucap Ignazio berusaha bernegosiasi dengan putrinya.


“Bianca tidak tertarik dengan tawaran Daddy,” jawab Bianca dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Melihat ekspresi Bianca membuat Ignazio berpikir putrinya ini mirip siapa? Jika seperti ini tidak sama dengan sikap Ignazio maupun Fiona. “Lalu kamu mau apa?”


“Bianca mau hidup bebas, tidak di atur dengan siapa Bianca berteman. Tidak perlu mengikuti semua peraturan Daddy yang harus segera pulang setelah pelajaran sekolah selesai. Dan satu lagi Bianca tidak mau di ikuti oleh orang suruhan Daddy,” ucap Bianca mengeluarkan semua keinginannya. Hidupnya terasa membosankan dan Bianca sangat ingin hidup normal berteman dengan siapa saja.


“Yang lain saja,” jawab Ignazio. Ia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


“Kalau Daddy tidak bisa mengabulkan keinginan Bianca ya sudah, pergi saja tanpa Bianca.” Bianca menutup pintu kamarnya saat Ignazio tengah berpikir.


Permintaan Bianca terlalu berat bagi Ignazio, ia tidak bisa melepas putrinya begitu saja. Ignazio memilih melangkahkan kakinya menuju ruang tamu dan terpaksa meninggalkan Bianca.


Saat di ruang tamu Iganzio melihat wajah Fiona yang cemas. “Ada apa?” tanya Ignazio.


“Ibu barusan menelepon bilang merindukan Bianca, dan ingin melihat cucuknya,” jawab Fiona dengan wajah cemasnya.


“Bagaimana Daddy?” tanya Bianca tidak sabaran.


“Ya sudah Daddy mengikuti keinginan Bianca. Cepat ganti pakaian dan berias sedikit, Daddy tunggu lima belas menit lagi. Terlambat sedetik saja keinginan Bianca Daddy kurangi,” jawab Ignazio.


Tanpa bertanya lagi Bianca segera masuk ke kamarnya ia segera berganti pakaian dan sedikit berias dalam waktu sepuluh menit penampilan Bianca sudah sangat rapi. Tidak ingin membuang waktu Bianca tampil sederhana dengan rambut yang hanya di gerai saja. Ia berjalan dengan langkah tergesa menuju ruang tamu. “Ayo,” ucap Bianca lalu berjalan mendahului keluarganya.


Fiona yang sedikit terheran melirik Ignazio. “Kamu membujuknya dengan apa?” tanya Fiona dengan tatapan penuh selidik.


“Kita bicarakan itu nanti,” tandas Ignazio.


***

__ADS_1


Suasana malam yang gelap di hiasi dengan lampu-lampu yang cukup terang. Perayaan hari jadi Havelaar grup di gelar cukup meriah.


Sedari tadi Bianca membenarkan senyuman cantiknya saat Ignazio membawa Bianca serta keluarga berkeliling untuk mengapa para tamu.


Bianca sangat senang karena mulai besok hidupnya akan terbebas, dan malam ini ia tidak boleh membuat kesalahan sedikit pun agar Ignazio tidak mencabut perjanjian mereka.


Pesta yang cukup meriah tersebut berjalan dengan lancar hingga akhir. Tatanan makeup Bianca masih paripurna. Ia memilih berjalan menikmati hidangan pesta di saat keluarganya berkumpul membicarakan bisnis.


Bianca melihat Areliano yang tengah berdiri sendiri sambil menikmati minumannya. “Paman,” panggil Bianca.


Areliano melirik ke arah wanita yang memanggilnya. Areliano sedikit terpengaruh oleh minuman beral’kohol. “Bianca kan?” Tanya Areliano memastikan bahwa ia tidak salah melihat.


Bianca mengerucutkan bibirnya karena Areliano melupakannya. Padahal mereka tidak bertemu hanya beberapa tahun saja karena Areliano kuliah di luar.


“Mau,” tawar Areliano mengangkat botol dengan tangannya.


“Bianca tidak boleh minum itu,” jawab Bianca.


Areliano tersenyum ke arah Bianca. “Orang tuamu masih mengekangmu ya, sampai kapan kamu akan menjadi anak kecil terus menerus?” ejek Areliano.


“Tidak. Kata siapa?” tanya Bianca dengan nada menantangnya.


Bibir Areliano tersenyum saat melihat cream di pinggiran bibir Bianca. Tangan Areliano menghapus cream tersebut. “Wanita dewasa tidak akan makan dengan belepotan seperti ini,” ujar Areliano.


Sudut mata Areliano menangkap siluet tubuh Reagan yang tampak mengepalkan tangannya. Dengan sengaja Areliano memajukan tubuhnya hingga wajahnya dan wajah Bianca begitu dekat. ‘Satu ... dua ... Ti.'

__ADS_1


__ADS_2