Reagan

Reagan
Reagan 31


__ADS_3

Perut Bianca sudah terisi penuh, ia merasa sangat puas dengan rasa makanannya, sangat lezat. Dengan santainya Bianca menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.


Saking fokusnya makan Bianca baru teringat jika ia sedang berada di ruangan Reagan. Ia menengok ke samping dan langsung bertemu pandang dengan Reagan. “Total pesanannya berapa? Apa Bianca bayar ke kasir?”


Reagan bangkit dari duduknya dan ikut duduk di samping Bianca. Tatapan Reagan tertuju pada Bianca. “Kamu berani menyatakan cinta padaku, tapi pulang berduaan dengan pria lain.”


Kening Bianca berkerut. “Maksud Reagan pulang bersama Adnan?” tanya Bianca dengan nada polosnya.


Reagan dian tidak menjawab, tapi sorot tatapan tajamnya seolah mengatakan iya.


“Hanya di antar pulang saja, tidak melakukan apa-apa. Reagan cemburu?” tanya Bianca dengan nada menuduh.


“Tidak.”


Bibir Bianca tersenyum lebar. “Kalau begitu Bianca tidak akan pulang dengan pria lain lagi,” ujar Bianca.


Reagan diam tidak merespons ucapan Bianca. Ia mencondongkan tubuhnya mengikis jarak di antara mereka.


“Reagan mau mencium Bianca lagi?” tanya Bianca saat wajah Reagan semakin dekat.


Reagan tidak peduli dengan ucapan Bianca, dia sangat ingin menc’ium bibir Bianca.


Jantung Bianca kembali berdetak kencang saat bibir mereka bersatu. Tubuhnya terasa panas, ada rasa bahagia yang membuncah dalam diri Bianca.


Reagan mengakhiri sesi ciu’man mereka dan menarik diri.


Bianca mengatur nafasnya karena merasa sesak akibat ciu’man mereka. “Kenapa Reagan menc'ium Bianca lagi, Bianca tidak mau di permainkan.”

__ADS_1


“Siapa yang mempermainkan mu?”


Wajah Bianca berbinar Mendengar ucapan Reagan. “Kalau Reagan tidak mempermainkan Bianca, itu artinya kita bisa pacaran?” tanya Bianca dengan wajah gembiranya.


“Sana pulang, tante Fiona pasti mencarimu,” ujar Reagan mengalihkan pembicaraan.


“Bianca belum mau pulang,” rengek Bianca dengan nada manjanya.


“Pulang Bianca!”


Tanpa pikir panjang Bianca memeluk tubuh Reagan. “Bianca tidak mau pulang,” ucap Bianca tetap pada keinginannya.


Bianca menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Reagan. Ia sangat malu karena memeluk Reagan tanpa ijin, pipi Bianca memerah menahan malu. Tapi sisi lain Bianca merasa nyaman memeluk Reagan, terasa Seperti memeluk Ignazio hanya saja perbedaannya jantung Bianca berdetak cukup kencang.


Tangan Reagan membalas pelukan Bianca. Ada rasa nyaman yang tidak pernah Reagan dapatkan jika bersama wanita lain.


“Ada apa?” tanya Reagan.


Bianca tersenyum malu menatap Reagan. “Kenapa baru sekarang Reagan terlihat lebih tampan dari biasanya,” ujar Bianca.


Reagan menunjukkan ekspresi datarnya.


“Rambut Reagan rapi, pakaian juga rapi. Tapi kenapa di sekolah baju Reagan di keluarkan, padahal jika rapi terus Seperti ini tampannya berkali-kali lipat,” ucap Bianca mengeluarkan isi pemikirannya.


“Pulang sana,” usir Reagan. Ia pusing mendengar ocehan Bianca.


Bibir Bianca mengerucut. “Kenapa Bianca selalu di usir?”

__ADS_1


“Kamu terlalu banyak bicara, berisik.”


“Baiklah kalau begitu Bianca akan tutup mulut, tapi jangan usir Bianca lagi ya,” pinta Bianca.


Reagan mengangguk setuju, ia berjalan ke meja kerjanya untuk memeriksa laporan.


Bianca memilih duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Reagan. Kedua tangannya menopang dagu, sementara seluruh fokus Bianca ia arahkan pada wajah serius Reagan yang tengah membaca laporan.


Sepuluh menit awal menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi Bianca dapat melihat wajah serius Reagan. Namun di menit-menit selanjutnya terasa membosankan.


“Reagan,” panggil Bianca.


Reagan mengalihkan perhatiannya dari berkas, dan menatap Bianca.


“Reagan bisa serius sekali bekerja, tapi kenapa tidak memedulikan urusan sekolah?”


Reagan memberikan tatapan tidak sukanya mendengar pertanyaan yang di lontarkan Bianca.


“Kalau Reagan tidak mau mengerjakan tugas, biar Bianca yang kerjakan. Tapi Reagan harus masuk kelas ya,” ujar Bianca.


“Kamu siapa berani-beraninya mengatur hidupku?”


“Karena sekarang Reagan pacarnya Bianca, jadi harus mengikuti ucapan Bianca,” ujar Bianca.


“Tidak mau,” jawab Reagan dengan entengnya.


Bianca cukup emosi mendengar penolakan yang keluar dari mulut Reagan. Bianca yang memiliki sifat manja mengeluarkan jurus merajuknya. “Kalau Reagan tidak mau menuruti keinginan Bianca. Bianca mau pulang saja.”

__ADS_1


“Silakan, jangan lupa bayar pesananmu di kasir.”


__ADS_2