
Terima kasih 😊 dukung kalian berupa like dan komentar membangkitkan semangat ku. Selamat membaca 💕
“kenapa Daddy baru pulang setelah Bianca sembuh?” tanya Bianca dengan bibir yang mengerucut.
“Daddy ada rapat, jadi tidak bisa pulang cepat. Kata Mommy kamu di dorong Reagan?”
Bianca melepaskan pelukannya dan menatap ayahnya. Kepalanya mengangguk. “Iya Bianca di dorong ke kolam ikan gara-gara ikutan ketawa saat Anisa mengejek Reagan.”
Bibir Ignazio tersenyum, ia tidak heran dengan sikap bar-bar Reagan. Mengingat Filio saat muda dengan mudah melayangkan pukulan hanya karena hal sepele.
“Kok Daddy malah tersenyum, Daddy senang melihat Bianca menderita?” tanya Bianca dengan nada seriusnya.
“Daddy hanya ingat sikap Filio yang mudah marah dan menyerang. Mungkin sifatnya itu turun ke Reagan,” jawab Ignazio.
“Benarkah?” tanya Bianca penasaran, sebab selama ia mengenal Filio pamannya itu terlihat sangat tenang dan tidak mudah marah.
“Iya, coba saja tanya Mommy. Bahkan dulu Mommy juga sangat bar-bar pada Filio, jika mereka bertemu ada saja hal yang mereka ributkan.”
Ini fakta pertama yang Bianca dengar. Meskipun sikap Fiona sebagai ibu sudah menunjukkan sikap yang di sebutkan Ignazio, namun sikap Filio yang tenang membuat Bianca sedikit terkejut.
“Tapi sekarang Mommy dan Om Filio tidak pernah terlihat bertengkar,” tutur Bianca.
__ADS_1
“Karena mereka sudah sama-sama dewasa,” jawab Ignazio.
“Daddy,” panggil Bianca.
“Iya sayang,” sahur Ignazio. Ia menunggu putrinya berbicara.
“Kalau dada berdebar dan pipi terasa panas, apa itu bisa di sebut jatuh cinta?” tanya Bianca dengan polosnya. Ini pertama kalinya bagi Bianca menanyakan hal tentang cinta.
“Itu baru tanda-tanda munculnya rasa cinta, Bianca merasakan hal itu?”
Bianca mengangguk dengan bibir yang menahan senyuman. “Boleh?” Tanya Bianca meminta izin.
“Boleh, tapi jika ada perkembangan dan merasakan hal baru. Bianca wajib melapor pada Daddy ya?” pinta Ignazio.
Iganzio merasa badannya sangat lengket. “Daddy mau mandi dulu ya, nanti Daddy temani Bianca makan malam.”
“Iya Daddy,” jawab Bianca. Ia menatap punggung Ignazio yang keluar dari kamarnya.
Setelah kepergian Ignazio, Bianca menyalakan kembali ponselnya. Ia berselancar di media sosial untuk menghilangkan rasa bosannya. Setengah jam berlalu begitu cepat, Bianca menatap Ignazio yang baru saja masuk ke kamarnya dengan nampan di tangannya.
Ignazio duduk di samping Bianca, ia menaruh nampan di atas meja nakas. Tangan Ignazio mengambil semangkuk cream soup udang.
__ADS_1
“Tidak ada makanan lain?” tanya Bianca saat hendak menerima suapan dari Ignazio.
“Kenapa memangnya, tidak mau?”
Bianca menggelengkan kepalanya. “Bianca mau makan daging saja Daddy.”
“Tapi ini Cream soup yang di buat mommy khusus untukmu, nanti mommy marah jika kamu menolaknya,” ujar Ignazio memperingati.
Bibir Bianca mengerucut. Ia tahu jika Fiona tidak terlalu pandai memasak, namun Fiona berusaha keras memasak untuk dirinya, Bianca tidak bisa mengabaikan usaha Fiona. Bianca akhirnya membuka mulutnya dan menerima suapan dari Ignazio. Rasanya tidak terlalu buruk.
Bianca menerima suapan demi suapan dari Daddy-nya. “Kak Luisa ke mana Daddy, kenapa tidak menjenguk Bianca?”
“Tadi minta ijin untuk mengerjakan skripsi bersama teman-temannya,” jawab Ignazio. Tangannya kembali menyuapi Bianca.
“Bohong, paling juga sedang pacaran,” ungkap Bianca sebelum menerima suapan dari Ignazio.
Ignazio tersenyum menanggapi ucapan Bianca.
Bianca menelan makanan yang ada di dalam mulutnya sebelum angkat bicara. “Daddy masa Kak Luisa mau mengajari Bianca ciu'man,” adu Bianca.
“Benarkah, kenapa tiba-tiba Luisa mau mengajari Bianca ciu'man. Memangnya Bianca mau ciu'man bersama siapa Sampai-sampai kak Luisa menawarkan mengajari Bianca?”
__ADS_1
Bianca sepertinya salah bicara, sekarang ia terjebak karena ucapannya sendiri.