
“Silakan, jangan lupa bayar pesananmu di kasir.”
Bianca menatap kesal ke arah Reagan. ‘Tidak punya hati,’ gerutu Bianca di dalam hatinya. Ia berjalan meninggalkan ruangan Reagan dengan perasaan kesalnya.
Bianca menghampiri kasir untuk membayar makanannya. Setelah selesai Bianca keluar dari resto dan terkejut melihat Reagan melajukan motornya ke arah Bianca. Bibir Bianca tidak bisa menahan senyuman saat Reagan memakaikan helm ke kepala Bianca.
“Cepat naik.”
Bianca segera mengikuti keinginan Reagan naik ke motor. Reagan mulai melajukan motornya meninggalkan Resto.
Bianca sempat melihat wanita yang memeluk kekasihnya saat naik motor. Bianca ingin mencobanya, namun malu sehingga tangannya memegang jaket yang di kenakan Reagan.
Tangan kiri Reagan menuntun tangan Bianca agar melingkar di Perutnya.
Pipi Bianca memanas saat tangannya melingkar sempurna di perut Reagan. Jantungnya berdetak sangat kencang, Bianca senang karena Reagan mengerti keinginan Bianca.
Saking senangnya bibir Bianca tersenyum sepanjang perjalanan. Bianca tidak bisa berkata-kata, perasaan malu dan senang membuatnya menjadi grogi.
Perjalanan pulang terasa sangat cepat, Bianca menatap gerbang rumahnya. Rasanya ia masih ingin bersama Reagan. “Reagan Bianca mau es krim,” ucap Bianca mengulur waktu berharap bisa lebih lama berdua dengan Reagan.
__ADS_1
“Minta sopirmu membelikannya. Turun cepat,” titah Reagan.
Wajah senang Bianca berubah menjadi murung, ia turun dari motor Reagan dengan perasaan kesal dan masuk ke dalam tanpa menengok ke arah Reagan dulu.
Bianca masuk ke dalam rumah dan membiarkan pintu ruang depan terbuka lebar. Bianca duduk di sofa ia merasakan kepalanya terasa sedikit lebih berat. Bianca meraba kepalanya dan tersadar jika ia belum mengembalikan helm milik Reagan. Bianca berlari ke depan berharap Reagan menunggunya, tapi saat membuka pintu gerbang Bianca tidak melihat keberadaan Reagan. “Menyebalkan,” gerutu Bianca. Ia kembali masuk ke dalam rumah dan menyandarkan tubuhnya ke sofa.
“Nona Bianca,” panggil pria yang bertugas menjaga gerbang rumah.
Bianca menengok ke arah pintu. “Ada apa Pak?” tanga Bianca.
“Ini ada kurir mengirimkan pesanan Nona,” ucap penjaga tersebut memberikan kotak yang ia bawa kepada Bianca.
Tangan Bianca menumpahkan seluruh isi kotak tersebut ke atas tempat tidur. Es krim dari beberapa merek dan varian berserakan di atas tempat tidur Bianca.
Wajah Bianca sangat terkejut, ia sendiri tidak bisa memastikan jumlahnya. Mungkin sekitar empat puluh bungkus. Bibir Bianca tersenyum kala mengingat nama Reagan.
Bianca menutup mulutnya, wajahnya tampak girang mendapat es krim sebanyak ini, pemberian dari Reagan. Bianca mengeluarkan ponselnya ia memotret es krim yang berserakan dan mempostingnya ke stroy instagram dengan ucapan terima kasih dengan emot love.
Bianca menengok ke arah pintu saat terdengar di buka dari luar, ternyata Luisa yang masuk.
__ADS_1
Luisa segera berlari hendak mengambil es krim yang berserakan di atas tempat tidur. Bukannya mendapat es krim, tangannya malah mendapat pukulan dari Bianca.
“Jangan ambil, ini es krim Bianca!”
“Pelit!” ketus Luisa.
“Biar saja, ini hukuman karena Kakak bikin Momy salah paham. Bianca enggak pacaran sama Adnan,” ucap Bianca menjelaskan.
“Terus ini dari siapa?” tanya Luisa dengan penuh selidik.
“Bianca beli,” jawab Bianca sengaja berbohong.
“Enggak mungkin sebanyak ini, kakak juga tahu uang jajan kamu di potong mommy kan lima puluh persen. Hayo mengaku dari siapa?” Luisa sengaja menyudutkan Bianca, agar adiknya itu mengaku.
“Menyebalkan,” ketus Bianca. Ia mengambil sala satu es krim dan memberikannya pada Luisa.
“Sana pergi, jangan ganggu Bianca!”
Luisa tersenyum penuh arti ke arah Bianca, tangannya dengan cekatan mengambil beberapa bungkus es krim dalam satu kali ambil dan berlari keluar dari kamar adiknya.
__ADS_1
“Luisaaaa!” teriak Bianca marah melihat kakaknya yang tidak tahu diri membawa lari es krim pemberian Reagan.