Reagan

Reagan
Reagan 45


__ADS_3

Bianca membalas pelukan Reagan. “Reagan menyebalkan,” keluh Bianca dengan suara pelannya.


Reagan melepaskan pelukannya. “Mau ke rumah sakit?”


Bianca menggelengkan kepalanya. “Tidak perlu, Bianca hanya lemas saja karena belum makan dari siang,” Bianca memegangi perutnya yang sakit.


“Mau makan apa?”


“Apa saja,” jawab Bianca. Ia membawa tangan Reagan dan menggenggamnya.


“Jangan tinggalkan Bianca lagi, Bianca jangan meminta putus. Bianca tidak mau putus dengan Reagan,” pinta Bianca memohon.


Reagan tidak menjawab ucap Bianca, ia mengeluarkan ponselnya untuk memesan makanan.


“Reagan,” panggil Bianca.


Reagan memalingkan wajahnya, ia tidak bisa melihat wajah Bianca terlalu lama. Ia berusaha tetap pada pendiriannya menjauh dari Bianca.


Bianca menghembuskan nafasnya, air matanya kembali mengalir ia menyingkirkan jaket Reagan yang menutupi tubuhnya. Bianca bangkit dari tidurnya, tangannya membuka pintu mobil.


Reagan segera menengok saat mendengar suara pintu mobil yang terbuka. Ia menarik tangan Bianca saat tubuh Bianca hendak keluar dari mobil. “Mau ke mana? Hujannya masih deras.”

__ADS_1


Bianca berusaha menarik tangannya, namun tubuhnya yang lemas tidak memiliki tenaga yang cukup untuk melepaskan diri. “Lepaskan,” pinta Bianca.


“Jangan seperti anak kecil begini, diam!” saking khawatirnya tanpa sadar ucapan Reagan Terdengar seperti bentakan di telinga Bianca.


“Bianca memang seperti anak kecil, jadi Reagan tidak perlu peduli. Lagi pula bukannya Reagan meminta putus dari Bianca, jadi lepaskan!” hardik Bianca.


Rahang Reagan mengeras, ucapan Bianca yang memperjelas hubungan mereka membuat Reagan sangat kesal.


Bianca mengumpulkan seluruh tenaganya untuk melarikan diri, ia sangat marah pada sikap Reagan. Bianca hanya perlu Reagan bertahan, Bianca tidak akan pernah menyerah meskipun harus menentang orang tuanya. Namun Reagan malah memilih menyerah, Bianca sangat kecewa.


Bianca mencoba menarik tangannya, kali ini usahanya membuahkan hasil tangannya terlepas dari Reagan. Ia berjalan dengan setengah berlari menjauh dari mobil Reagan.


Reagan keluar dari mobilnya saat Bianca berlari begitu saja.


Reagan dengan mudah mengejar Bianca, ia membawa tubuh Bianca ke dalam pelukannya.


Bianca memukul dada Reagan, “Lepaskan, Bianca benci Reagan, Reagan ja-“ Bianca tidak dapat melanjutkan ucapannya karena Reagan tiba-tiba membungkam bibir Bianca dengan ciu’man.


Hujan deras yang mengguyur tubuh Bianca dan Reagan seolah bukan hambatan, mereka berciuman tanpa sadar mobil Ignazio terparkir tidak jauh dari mereka.


Ignazio menggenggam erat setir mobilnya, Fiona yang ikut menyaksikan hanya terdiam membisu tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Namun hatinya tidak rela melihat putrinya di cium oleh Reagan.

__ADS_1


Reagan mengakhiri ciu’man mereka. Ia menangkup wajah Bianca, “Jangan menyakiti dirimu lagi seperti ini,” ucap Reagan.


Bianca hanya terdiam, memandangi wajah Reagan yang terkena guyuran air hujan.


“Janji?”


“Tapi Bianca tidak mau putus,” jawab Bianca.


Ignazio keluar dari mobil bersama Fiona. Mereka berjalan mendekat.


Reagan yang menyadari kehadiran orang tua Bianca, lebih dulu melepaskan pelukannya.


Bianca tidak mau melepaskan pelukannya, tangan Bianca semakin erat memeluk tubuh Reagan.


Reagan tidak berhasil menjauhkan tubuhnya dari Bianca. Pandangan Ignazio sangat menusuk, Reagan menatap Bianca lagi. “Lepaskan, ada orang tuamu.”


Bianca terkejut mendengar ucapan Reagan, ia melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh. Ucapan Reagan benar, Bianca mendapati Ignazio dan Fiona yang berjarak dua meter di depannya.


“Mommy Daddy.”


“Kamu pergi dari rumah tanpa ijin hanya untuk bertemu dengannya secara sembunyi-sembunyi?” tanya Fiona dengan nada kesalnya.

__ADS_1


“Iya Memangnya kenapa? Bianca hanya mau bertemu Reagan saja,” jawab Bianca tanpa rasa takut .


__ADS_2