Reagan

Reagan
Reagan 21


__ADS_3

Saat malam harinya Bianca melakukan panggilan video call dengan Anisa. Dari layar ponselnya Bianca dapat melihat Anisa sedang berada di kamarnya. “Jadi kamu punya pacar atau tidak?” Tanya Bianca.


“Punya,” jawab Anisa sedikit pelan takut orang tuanya mendengar.


“Sama pacar kamu, kamu suka melakukan apa saja?” tanya Bianca penasaran.


“Sebatas ciuman saja,” jawab Anisa dengan wajah seriusnya.


“Aku baca tadi pacaran itu untuk berhubungan badan agar dapat memperoleh keturunan.”


Wajah Anisa tampak gemas. “Iya itu urusan nanti Bianca, kalau sudah besar. Sekarang tuh pacaran fokus buat senang-senang saja, kamu masa enggak pernah pacaran sama sekali? Enggak ada yang mengatakan perasaan suka sama kamu begitu?”


“Dulu ada. Waktu SMP, terus Bianca lapor pada Daddy.”


Di layar ponsel Bianca, Anisa tampak tengah berpikir. “Buat apa lapor ke Daddy?”


“Daddy yang bilang kalau ada pria yang mengungkapkan perasaan harus lapor. Jadi ya Bianca lapor aja,” jawab Bianca sesuai dengan kejadian yang sebenarnya.


“Terus cowok itu enggak berani dekati kamu lagi?” tebak Anisa.


Bianca mengangguk. “Iya.”


“Pantas saja kamu tidak pernah pacaran, nanti kalau kamu pacaran enggak perlu lapor Daddy deh. Soalnya Daddy kamu kayaknya protektif banget deh kalau sampai urusan percintaan remaja dia ikut campur kamu mending pacaran tapi jangan bilang-bilang. Yang ada nanti cowok itu menjauh lagi,” ujar Anisa.


“Memang pacaran itu seru ya?”


Anisa mengangguk antusias. “Kamu coba deh, seru pacaran tuh,” ujar Anisa.


“Tapi Bianca harus pacaran sama siapa?”


“Orang yang kamu suka,” jawab Anisa dengan entengnya.

__ADS_1


“Bianca sih suka Jungkook, boleh enggak pacaran sama Jungkook?”


Anisa menghembuskan nafas kesalnya. “Enggak Jungkook juga Bianca! Kamu tuh pacaran harus sama orang yang kamu suka, yang bikin jantung kamu berdebar kalau ada di dekatnya.”


“Tapi jantung Bianca hanya pernah berdebar saat dekat dengan Reagan saja. Memang boleh pacaran sama Reagan?”


“Boleh kok, kalau Reagannya mau. Tapi kayaknya Reagan pasti nolak deh hahaha,” jawab Anisa. Tawanya terlihat sangat senang, ia sangat yakin jika Reagan tidak akan mau berpacaran dengan Bianca. Apalagi mereka saudara.


“Iiiih Anisa,” rengek Bianca.


“Iya benar, memangnya serius kamu mau pacaran sama Reagan?”


Bianca menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bianca tidak tahu, harusnya Anisa yang bantu. Bukan malah menertawakan.”


“Ya sudah, kita coba dulu dengan Reagan. Lalu lihat perkembangannya, siapa tahu Reagan juga tertarik sama kamu,” tandas Anisa.


Kali ini Bianca mengangguk setuju.


“Bye.” Bianca melakukan hal yang sama melambaikan tangannya mengikuti Anisa.


Setelah panggilan tersebut di tutup, Bianca merebahkan tubuhnya. Ia memandang langit-langit kamar dan memikirkan ucapan Anisa dan Luisa. Kepala Bianca terlalu pusing, ia tidak bisa mencerna dengan baik maksud dari omongan mereka semua, terlalu membingungkan bagi Bianca.


Bianca menarik selimut, besok pagi harus sekolah kembali. Bianca tidak mau ketinggalan pelajaran.


***


Bianca turun dari mobil dan berjalan menuju kelasnya dengan perlahan. Langkah terhenti saat Tobi beserta dua temannya menghadang jalan Bianca. “Ada apa?” tanya Bianca dengan wajah polosnya.


Tobi mengerutkan keningnya. “Kamu tidak lupa kan, kalau hari ini waktunya kamu mengganti helmku yang kamu hilangkan,” ujar Tobi menyampaikan maksud dan tujuannya.


Wajah Bianca sangat terkejut, ia melupakan hal tersebut. “Bianca lupa,” jawab Bianca.

__ADS_1


“Aku tidak menerima alasan, sekarang juga kamu harus menggantinya!”


Bianca segera mengambil ponselnya dari saku, ia mencoba menghubungi Ignazio. Tapi tidak di angkat, Bianca mencoba menghubungi Luisa. “Halo ka,” sapa Bianca.


[Ada apa?]


“Bianca pinjam uang, urgent soalnya,” jawab Bianca.


[Berapa?]


“Dua belas juta,” jawab Bianca.


[Apaaa! Dua belas juta?]


“Iya, nanti Bianca pinjam dulu. Nanti Bianca ganti, soalnya Bianca telepon Daddy tidak di angkat.” Bianca sangat berharap sang Kaka bisa membantunya.


[Kakak mana ada uang sebanyak itu. Minta Mommy saja, sudah dulu ya. Kakak ada kelas, bye.]


Tobi menatap Bianca dengan perasaan tidak sabar. “Bagaimana?”


Bianca menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak berani jika harus menghubungi Fiona.


Tobi menarik tangan Bianca menuju belakang perpustakaan.


“Lepaskan,” pinta Bianca sambil menarik tangannya.


Tobi melepaskan tangan Bianca. “Aku tidak mau tahu ya, kamu harus membayarnya sekarang juga.”


“Tidak bisa, nanti siang ya. Bianca coba hubungi Daddy lagi,” ucap Bianca. Ia tidak punya uang sebanyak itu.


Tobi mengimpit tubuh Bianca ke dinding. Ia mencondongkan tubuhnya pada Bianca. “Kamu jangan main-main ya!” ucap Tobi tepat di telinga Bianca.

__ADS_1


Bianca sangat ketakutan, rasanya ia ingin menangis kencang sekarang.


__ADS_2