Reagan

Reagan
Reagan 27


__ADS_3

Anisa dan Bianca berjalan menuju kelas mereka sambil mengobrol. “Jadi bagaimana perkembangan balas budimu pada Reagan?” tanya Anisa.


“Belum ada perkembangan, aku sudah berusaha tapi malah di usir begitu saja oleh Reagan. Padahal sebelum itu dia menciumiku,” ujar Bianca.


Wajah Anisa tampak terkejut, “Kalian berciuman?”


“Reagan yang menciumku,” tutur Bianca mengingat kejadian kemarin saat ia memuji Reagan tampan.


“Memangnya Reagan menyatakan cinta sampai menciummu lebih dulu?” tanya Anisa penasaran.


Langkah Bianca terhenti, ia menatap Anisa dengan serius. “Tidak, tiba-tiba saja dia menciumku, setelah aku berkata bahwa Reagan tampan.”


“Lalu kalian berciuman?”


Bianca mengangguk.


“Ini tidak masuk di akal Bianca. Pertama jika Reagan menciummu karena suka, dia harusnya menyatakan cintanya dan mengajakmu berpacaran. Yang kedua dia melakukan itu secara spontan hanya untuk mempermainkanmu,” ucap Anisa mengeluarkan pemikiran yang ada di kepalanya.


Bianca terdiam sejenak, mencerna ucapan Anisa.


“Namun karena Reagan tidak menyatakan cinta, sepertinya dia mempermainkanmu atau mau menarik perhatianmu saja,” lanjut Anisa.


“Bianca, kamu benaran suka sama Reagan?” tanya Anisa begitu melihat temannya diam saja.


“Saat kemarin ciu’man rasanya jantung aku berdetak lebih cepat, pipiku memanas, tubuhku lemas. Seperti ada rasa bahagia yang tidak pernah aku rasakan. Tapi jika mengingat sikap dingin Reagan, menurutmu apa dia hanya mempermainkan aku?” tanya Bianca dengan nada khawatir.

__ADS_1


“Tapi kita juga tahu Reagan bersikap dingin pada semua orang. Mungkin cara dia menyampaikan perasaannya berbeda dengan pria lain. Kalau kamu jatuh cinta dan memang ingin menjadi pacar Reagan kenapa tidak berusaha membuat perasaanmu terbalas.”


Usul dari Anisa masuk di dalam pikiran Bianca. Kepala Bianca mengangguk pasti. “Kamu harus mengajariku untuk mendapatkan perhatian Reagan.”


Anisa mengangguk semangat. “Siap. Sekarang kita masuk kelas yuk,” ajak Anisa mereka terlalu lama mengobrol padahal masih ada kelas.


Bianca dan Anisa berjalan menuju kelas dan masuk ke dalam. Beruntung guru yang mengajar kelas hari ini ada keperluan dan memberikan tugas untuk mengerjakan soal.


Sudah setengah jam berlalu Bianca menengok ke belakang, Reagan tidak ada di tempat duduknya. ‘Dia pergi ke mana?’ tanya Bianca di dalam benaknya.


Anisa sudah selesai mengerjakan tugasnya ia melirik ke arah Bianca yang tampak melamun. “Kamu memikirkan apa?” tanya Anisa.


Bianca tersenyum canggung pada Anisa. Ia malu jika harus menjawab pertanyaan Anisa, dirinya memikirkan Reagan.


Bianca menggigit kecil bibir bawahnya untuk menahan senyuman.


“Sudah cepat selesaikan tugasmu, lalu cari Reagan,” usul Anisa.


Bianca mengikuti perintah Anisa dan segera menyelesaikan tugasnya. Dalam sepuluh menit Bianca sudah menyelesaikan tugasnya, ia menengok ke arah Anisa. “Ayo,” ajak Bianca.


Anisa menyetujuinya dan keluar dari kursinya bersama dengan Bianca.


“Kalian mau ke mana?” tanya Adnan ketua kelas.


“Ke toilet,” jawab Bianca dan Anisa dengan kompak. Di dalam benaknya mereka merasa tenang bisa kompak dalam hal genting tanpa perencanaan.

__ADS_1


“Tugas kalian sudah selesai?”


“Sudah,” jawab Bianca. Adnan melirik ke arah Anisa.


“Tugasku juga sudah selesai,” jawab Bianca sambil menatap ke arah Adnan.


Adnan tidak menghalangi mereka dan membiarkan Anisa dan Bianca keluar dari kelas.


Bianca dan Anisa berjalan mengelilingi area kelas sebelas tapi mereka tidak menemukan keberadaan Reagan.


“Kita coba cari ke kantin,” usul Anisa. Bianca mengangguk setuju mereka berjalan menuju kantin yang melewati lapangan. Tepat di pinggir lapangan Bianca melihat Reagan yang sedang bersandar ke dinding memperhatikan dua orang pria yang sedang berantem di tengah lapangan.


“Reagan,” panggil Bianca.


Reagan menoleh dan memperhatikan Bianca yang berjalan mendekat.


“Kenapa tidak masuk kelas? Ada tugas yang harus di kumpulkan,” ucap Bianca pada Reagan yang ada di depannya.


“Tidak usah mencampuri kehidupanku, urus saja hidupmu sendiri,” tegas Reagan.


Bianca tidak bisa membiarkan Reagan yang hendak pergi. Bianca menatap punggung Reagan dengan tangan mengepal. “Aku peduli padamu Reagan, aku-“ Bianca menghentikan ucapannya untuk menarik nafas sejenak.


“Aku mencintaimu,” lanjut Bianca.


Dari kejauhan Jesica mendengar jelas ucapan wanita yang berani menyatakan cintanya pada Reagan. “Dia target kita selanjutnya,” ujar Jesica pada kedua temannya.

__ADS_1


__ADS_2