
Bianca duduk berdua di ruang tamu bersama Fiona.
Fiona menatap Bianca, menunggu putrinya berbicara lebih dulu.
Setelah lima menit saling menatap tanpa ada yang bersuara akhirnya Bianca angkat bicara lebih dulu. “Mommy tidak percaya pada Bianca?”
“Jujur saja, jika memang Bianca punya pacar,” tuduh Fiona.
Bianca mengerucutkan bibirnya. “Mommy tidak pernah percaya sama Bianca. Cuma daddy yang sayang dan mengerti Bianca.”
Fiona menatap kepergian Bianca. Selama ini Bianca memang sangat dekat dengan Ignazio, berbanding terbalik dengan Luisa yang lebih terbuka kepada Fiona. Mungkin untuk urusan Bianca akan Fiona serahkan pada Ignazio.
Bianca masuk ke dalam kamarnya, ia menyimpan tas serta membuka sepatu yang di pakainya. Bianca duduk di meja belajar mengeluarkan buku-bukunya. Arah pandang Bianca tertuju pada buku pelajaran kedua yang terdapat sebuah kertas menonjol, Bianca menarik kertas tersebut. Ia membuka lipatannya, dan melihat tulisan ‘Halo’ di atas kertasnya.
Bianca termenung memikirkan siapa penulis tersebut, Anisa tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti ini.
Bianca memilih meremas kertas tersebut sehingga membentuk sebuah gulungan lalu membuangnya ke tempat sampah.
Bianca membuka buku pelajaran dan mengerjakan pekerjaan rumahnya yang di berikan guru.
Satu jam Bianca mengerjakan tugasnya, kini sudah selesai. Bianca memilih membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian. Ia sangat malas makan siang di rumah. Bianca membawa beberapa buku pelajaran dan memasukkannya ke dalam tas.
__ADS_1
Bianca keluar dari rumah, beruntung tidak ada Fiona sehingga tidak perlu berbicara dengan Fiona untuk berpamitan.
Bianca berjalan ke depan menghampiri sopirnya. “Antar Bianca ke resto kemarin,” pinta Bianca.
Sopir tersebut membukakan pintu untuk Bianca dan segera mengikuti keinginan Bianca.
Sepanjang perjalanan kepala Bianca terus memutar kejadian saat ia menyatakan cintanya pada Reagan. “Menyebalkan,” umpat Bianca dengan nada pelan.
Sopir memarkirkan mobilnya menuju resto.
“Bapak pulang saja, nanti Bianca hubungi kalau sudah selesai,” ucap Bianca sebelum turun dari mobil.
“Baik Non,” jawab Sopir patuh.
Bianca masuk ke resto tersebut. Keadaan resto tidak terlalu ramai, Hanya ada beberapa pengunjung yang mengisi meja.
Bianca memilih duduk di pojokkan, agar tidak terganggu dan menjadi pusat perhatian. Seorang pelayan wanita dengan seragamnya menghampiri meja Bianca.
Pelayan tersebut tersenyum ramah ke arah Bianca dan memberikan buku menu.
Bianca membolak-balikkan buku menu, mencari hidangan yang menggugah seleranya. “Salmon torio platter, minumnya chamomile tea latte. Air mineralnya satu,” ucap Bianca menyebutkan pesanannya
__ADS_1
Pelayan mencatat pesanan Bianca. “Saya ulangi pesanannya. Salmon torio platter, chamomile tea latte dan air mineral. Ada tambahan lagi?”
“Tidak ada,” jawab Bianca.
Setelah kepergian pelayan, Bianca mengeluarkan ponselnya melihat sosial media. Tidak ada hal pasti yang Bianca lakukan, ia hanya ingin menghilangkan rasa bosannya menunggu pesanan.
Bianca mengalihkan perhatiannya dari ponselnya saat melihat seseorang duduk di kursi yang berhadapan dengannya. Pandangan Bianca langsung tertuju pada Reagan, yang tampak rapi seperti kemarin.
“Untuk apa kau kemari?”
Mendengar nada dingin Reagan membuat Bianca sedikit kesal. “Aku hanya ingin makan siang di sini, lagi pula ini tempat umum.”
Reagan bangkit dari duduknya dan menarik tangan Bianca untuk ikut bangkit dan berjalan mengikuti langkahnya.
“Reagan lepaskan, Bianca mau makan,” ujar Bianca berusaha menarik tangannya.
Reagan tidak menggubris ucapan Bianca hingga mereka sampai di ruangan Reagan. Ia melepaskan tangan Bianca.
Bianca menatap pergelangan tangannya yang di tarik Reagan tampak memerah.
Reagan membawa tangan Bianca, ia menatap perbuatannya yang menyakiti Bianca. Tangan Reagan yang lainnya mengusap bagian yang merah lalu melepaskannya. “Makanlah,” titah Reagan. Ia berjalan ke meja kerjanya.
__ADS_1
Bianca menatap makanan yang ia pesan terhidang di atas meja. Karena rasa laparnya tanpa ragu Bianca duduk di sofa dan menikmati makan siangnya.
Dari tempat Reagan duduk, ia memperhatikan Bianca yang tampak lahap menghabiskan makanannya. Seolah ada hal menarik yang membuat perhatian Reagan terkunci pada Bianca.