Reagan

Reagan
Reagan 22


__ADS_3

“Kamu jangan main-main ya!”


Reagan berdiri tidak jauh dari Tobi yang sedang mengimpit tubuh Bianca. Dari tempatnya Reagan bisa melihat wajah Bianca yang sangat ketakutan. “Menjauh dari Bianca!”


Bianca menengok ke samping mendengar suara Reagan yang terdengar sangat tegas.


Reagan berjalan mendekat dan menarik tubuh Tobi agar menjauh dari Bianca.


“Jangan ikut campur,” ucap Tobi.


“Sebutkan nomor rekeningmu,” ucap Reagan.


Tobi mengeluarkan ponselnya dan menyebutkan deretan angka nomor rekening miliknya.


Reagan menarik tubuh Bianca, dan membawa Bianca pergi.


Tobi memandang saldo miliknya yang kini bertambah sesuai angka yang ia minta, dua belas juta.


Bianca mengikuti langkah Reagan karena pria itu tidak kunjung melepaskan pegangannya. Bianca kini merasa sangat lega, Reagan seperti malaikat yang membantu Bianca di tengah kesulitan. Kalau tidak ada Reagan Bianca tidak tahu apa yang akan terjadi. Apalagi Tobi terlihat sangat menakutkan. “Terima kasih,” ucap Bianca.


Reagan menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya menatap Bianca. “Kamu selalu saja menyusahkan,” ketus Reagan.


Bibir Bianca mengerucut, ada rasa sakit mendengar ucapan Reagan yang menyebutnya selalu menyusahkan. Padahal selama ini Reagan yang menyusahkan hidup Bianca.


Reagan pergi begitu saja meninggalkan Bianca.


Bianca memandang kepergian Reagan. Entah mengapa Bianca merasa Reagan sangat baik di satu sisi, namun lebih banyak hal yang membuat Bianca jengkel pada Reagan.


Bianca memilih berjalan menuju kelasnya. Kakinya melangkah menuju tempat duduknya. Bianca menatap kursi Reagan yang kosong, padahal Reagan pergi lebih dulu tetapi pria itu tidak ada di kelas. Lima menit lagi bel akan berbunyi.


“Ada apa Bianca?” tanya Anisa begitu melihat Bianca yang bengong.


“Tidak ada apa-apa,” jawab Bianca. Ia duduk di kursinya.


“Anisa,” panggil Bianca.

__ADS_1


“Iya,” sahut Anisa. Ia menatap ke arah Bianca.


“Reagan membayarkan ganti rugi helm Tobi yang aku hilangkan,” ucap Bianca.


“Lalu?”


Bianca menundukkan kepalanya, “Aku merasa tidak enak. Tapi tidak bisa mengganti uang tersebut.”


“Apa Reagan meminta sesuatu atas apa yang ia lakukan?”


Bianca menggelengkan kepalanya.


“Kalau begitu kamu harus membalas budi padanya,” ujar Anisa.


“Balas budi?” Tanya Bianca.


Kali ini kepala Anisa yang mengangguk. “Iya sebagai ucapan terima kasih, uang dua belas juta itu bukan jumlah yang sedikit,” ucap Anisa.


“Bagaimana cara aku membalas budinya?”


Bianca jadi terpikir oleh ucapan wali kelas yang meminta Bianca membantu Reagan. “Baiklah mulai hari ini aku akan membantu Reagan untuk memenuhi tugas-tugas sekolahnya,” ucap Bianca dengan sangat yakin.


“Bagus, semangat Bianca.”


Bianca mengangguk dengan senyuman di bibirnya yang lebar. Seharusnya balas budi ini akan sangat mudah ia lakukan, di tambah kapasitas otak Bianca cukup lumayan dalam bidang seluruh mata pelajaran.


Bel berbunyi nyaring para murid duduk di mejanya masing-masing bersiap untuk memulai pelajaran.


***


Bianca dan Anisa memasukkan baran-barang mereka ke dalam tas. Sementara murid lain sudah berjalan keluar dari kelas.


“Reagan ke mana ya?” tanya Anisa.


“Tidak tahu, seharian ini aku hanya melihatnya satu kali saat ada Tobi,” jawab Bianca.

__ADS_1


“Reagan sudah ketinggalan banyak pelajaran, seharusnya kamu mulai memberikan catatan serta tugas-tugas dari guru,” ujar Anisa.


Bianca mengangguk. “Iya aku akan memulainya hari ini.”


Bianca dan Anisa berjalan keluar dari kelas. Mereka berpisah di tempat parkir, seperti biasanya Anisa membawa motor sendiri.


Bianca membalas lambaian tangan Anisa. Ia berjalan menuju tempat biasa ia di jemput.


Bianca pulang dengan sopir yang biasa mengantar jemput dirinya ke sekolah. Kini Bianca sampai di rumah. Ia makan siang, membersihkan tubuhnya lalu bersiap untuk ke tempat Reagan.


Bianca menelepon Reagan. “Halo,” sapa Bianca begitu telepon tersambung.


[Ada apa?]


Seperti biasa suara Reagan terdengar sangat datar dan dingin. “Belajar bersama. Kamu ada di rumah?”


Bianca menunggu jawaban Reagan tapi pria itu malah mematikan ponselnya sepihak.


Bibir Bianca terkatup rapat, ia berpikir untuk mengambil langkah selanjutnya.


Akhirnya Bianca memutuskan untuk membawa tas sekolahnya yang berisi buku pelajaran yang sudah ia siapkan. Bianca berjalan keluar dari kamarnya.


“Mau ke mana?”


Bianca menoleh ke arah belakang. “Mau belajar bersama Reagan,” jawab Bianca.


“Kamu harus sudah ada di rumah sebelum makan malam,” ujar Fiona.


“Baik Mom,” jawab Bianca patuh. Ia berjalan keluar dari rumah, meminta sopir untuk mengantarnya ke rumah Reagan.


Sampai di depan gerbang rumah Reagan, Bianca melihat Reagan hendak keluar dari gerbang rumah dengan motornya.


Bianca keluar dari mobil, menghadang motor Reagan.


Reagan menatap tubuh Bianca yang berada tepat di depan motornya dengan kedua tangan yang terlentang menghalangi jalan. “Minggir!”

__ADS_1


Bianca menggelengkan kepalanya.


__ADS_2