Reagan

Reagan
Reagan 16


__ADS_3

Usai menutup teleponnya, Reagan kembali menikmati senja di sore hari sampai suara langka kaki terdengar mendekat ke arahnya. Reagan tidak repot-repot menengok untuk melihat siapa yang mendekat. Ia memandang kolam ikan di depannya.


Sahira ikut berdiri di sampai anaknya, Reagan. “Ibu dan Ayah mau menengok Bianca, kamu ikut ya,” pinta Sahira dengan nada lembutnya.


“Ibu saja dan Ayah yang pergi,” jawab Reagan.


“Apa kalian sedang bermusuhan? “ tebak Sahira.


“Tidak.” Reagan bangkit berdiri. “Aku ada urusan penting,” ungkap Reagan.


“Sebentar saja, tidak akan lama,” ucap Sahira dengan nada memohon, berusaha agar Reagan mau ikut.


“Reagan bawa motor sendiri,” usulnya. Reagan tidak mau terjebak dengan obralan yang membosankan di rumah Bianca.


“Tidak, kamu pergi bersama kami. Ayo cepat,” ketus Filio.


Reagan sangat ingin menolaknya, namun tangannya di tarik sang ibu. “Ayo,” ajak Sahira.

__ADS_1


Reagan terpaksa mengikuti langkah ibunya. Sementara dari tempatnya berdiri Filio sangat kesal melihat istrinya lebih senang menggandeng tangan Reagan ketimbang bergandengan dengan dirinya. Ucapan Reagan berhasil membuat Filio ingin mempertampan fisiknya, ia akan melakukan olah raga lebih rutin lagi. Serta menjadwalkan untuk treatment wajah.


Filio mengikuti langkah istri serta anaknya yang berjalan di depannya. Sampai depan mereka masuk ke dalam mobil. Sahira duduk di samping Filio, sementara Reagan duduk di kursi penumpang sendirian.


Filio mulai melajukan mobilnya menuju kediaman adiknya. Hanya butuh waktu beberapa menit saja mereka akhirnya sampai lalu turun dari mobil.


Filio berjalan lebih dulu lalu menekan bel. Tidak lama pintu terbuka lebar menampilkan tubuh asisten rumah tangga yang Filio kenal dengan nama surti. “Fiona ada?”


“Ada tuan, silahkan masuk.” Surti membuka pintu lebih lebar dan memberikan jalan untuk Filio berserta keluarganya masuk.


Filio mengangguk. Sahira dan Reagan duduk mengikuti Filio.


Tidak lama Fiona datang dari dalam dengan senyuman ramahnya menyambut kedatangan keluarga kakaknya.


Filio menyerahkan parsel buah yang ia bawa untuk Bianca. “Maaf atas ulah Reagan yang membuat Bianca sakit.”


Fiona mengangguk ke arah kakaknya, lalu beralih menatap ke arah Reagan yang wajahnya tampak tenang. Sejujurnya dalam hati Fiona sangat ingin memberi pelajaran pada keponakannya yang sangat menggemaskan.

__ADS_1


“Bagaimana keadaan Bianca?” tanya Sahira.


“Demamnya sudah turun, Bianca sedang istirahat di kamarnya,” jawab Fiona.


Sutri datang ke ruang tamu dengan nampan berisi minuman serta camilan. Lalu menatanya di atas meja.


Reagan bangkit dari duduknya. “Tante Reagan ikut ke toilet.”


Setelah mendapat persetujuan dari Fiona, kaki Reagan melangkah meninggalkan ruang tamu.


Reagan hafal betul letak kamar Bianca, karena ini bukan kali pertama baginya menginjakkan kaki di kediaman Ignazio. Tangan Reagan membuka gagang pintu dengan perlahan Lalu menutupnya kembali. Kaki Reagan melangkah mendekat ke arah tempat tidur Bianca ia duduk di pinggiran tempat tidur, memandangi wajah damai Bianca yang tertidur.


Jemari Reagan memberikan sentilan yang cukup keras di kening Bianca. “Manja,” ketus Reagan.


Bianca yang tertidur lelap seketika terbangun saat merasakan dahinya mendapatkan sentilan, serta indra pendengarnya menangkap suara Reagan. Kelopak mata Bianca terbuka sempurna, ia seperti sedang bermimpi mendapati Reagan berada di kamarnya. Rasa sakit di keningnya membuat bibir Bianca mengerucut. “Mommy,” teriak Bianca dengan suara kerasnya. Namun tangan Reagan menutup mulutnya, sehingga teriakan barusan tidak terdengar sampai keluar.


“Berisik!”

__ADS_1


__ADS_2