
Episode sebelumnya....
"YingYing, tetaplah tenang dan abaikan lah bunyi di yang terdengar di sekelilingmu!," kata Felix yang memberi semangat kepada YingYing.
Setelah 10 jam merendam di dalam air dan hari itu sudah hampir malam....
...~Selamat membaca~...
"Naga, sampai kapan aku harus berendam?," tanya YingYing.
"Kau sudah bisa keluar dari situ sekarang," jawab naga itu sambil berbaring di atas rumput. YingYing pun keluar dari air sejuk itu dan langsung pergi mencari tempat gelap untuk mengganti bajunya.
"Untung aja sudah selesai menyerap energi..," kata YingYing sambil berputar ke arah depan. Dan tiba-tiba ada seorang pria yang berdiri tepat di hadapanya.
"Kamu, apa kamu berdiri di situ dari tadi?!!!," tanya YingYing.
"Aku baru tiba disini," jawab pria itu.
"Jadi, apa yang kau lakukan disini?," tanya YingYing lagi.
"Aku mau membawamu ke kamarku!," jawab pria itu sambil menggendong YingYing.
"Hei, lepaskan aku kalau tidak aku akan memukulmu sampai babak belur!," teriak YingYing sambil meronta-ronta. Pria itu terus saja berjalan turun dari bukit tinggi itu.
"Wanita itu pasti sudah selesai berendam," kata Zhang Wei yang mencari kayu untuk membakar ikan yang dia tangkap di sungai tadi.
"YingYing, kamu bilang kamu akan menjadi peneman tidurku?," tanya pria itu sambil berhenti melangkah.
"Aku tidak mau, karena aku sudah punya calon suamiku!," teriak YingYing. Pria itu langsung membaringkan YingYing dan menggenggam tangan YingYing dengan sangat kuat. Dia mendekatkan mukanya ke wajah YingYing.
"Jangan-jangan dialah pangeran yang selalu wanita ini kejar," dalam batin YingYing.
YingYing langsung melepaskan tangannya dari genggaman pangeran dan mendorong nya.
"YingYing, apa kamu tidak ingin menjadi istriku?," tanya pangeran.
__ADS_1
"Tidak ada wanita pintar sepertiku yang bersedia menjadi penghangat kasurmu!," teriak YingYing sambil menatap tajam ke arah pangeran.
"YingYing, kau berani melawanku aku akan mebunuhmu disini sekarang juga!,"
"Baiklah, bunuh saja aku tidak peduli kamu mau membuhku itu pun kalau luh bisa," kata YingYing sambil tersenyum cilik.
Pangeran itu langsung mengeluarkan pedang dari sarung pedangnya dan mencoba membunuh YingYing. Tetapi YingYing memegang pedang itu dan tangannya tidak berdarah sedikitpun.
"Kau, mana mungkin mau bisa berbuat begitu?," kaget pangeran sambil melepaskan tangannya dari pedangnya. YingYing melempar pedang itu dan dengan perlahan mendekati pangeran. Dan dia sedikit membongkok.
"Sekarang siapa yang akan kubunuh?," kata YingYing sambil tersenyum seram disertai dengan gemuruhnya kilat dan kebetulan juga itu adalah waktu malam. Pangeran itu langsung mundur karena ketakutan melihat wajah YingYing. Dia langsung kabur karena ketakutan.
"Kenapa wanita ini terlalu takut sama pria penakut seperti itu sih!," kata YingYing sambil tersenyum jijik. YingYing langsung melangkah pergi untuk kembali ke tempat dia berendam tadi. Setelah tiba di sana dia melihat Zhang Wei sudah berada di sana dengan wajah suram.
"Zhang Wei, kau sudah kembali!," kata YingYing sambil menghampiri Zhang Wei yang terlihat sedikit menakutkan.
"Kalau kau masih menyukainya kau bisa memilikinya," kata Zhang Wei secara tiba-tiba.
"Zhang Wei, apa maksudmu?," tanya YingYing yang masih keheranan. Zhang Wei bangun dan pergi meninggalkan YingYing. YingYing memegang tangan Zhang Wei.
"Zhang Wei, apa maksudmu kenapa kau..," belum sempat YingYing menghabiskan kata-katanya Zhang Wei sudah berteriak padanya.
"Aku bilang lepaskan tangan jijik mu dari lenganku!!," teriak Zhang Wei sambil mendorong YingYing dengan sangat kuat. Lalu dia langsung melangkah pergi dari situ. YingYing hanya terdiam dan dia bangun dari rumput dan langsung duduk di tempat Zhang Wei duduk sebentar tadi.
"Kenapa sifatnya agak berbeda?," ucap YingYing yang masih kebingungan wajahnya mulai sedih matanya mulai berkaca-kaca.
"Mungkin karena dia melihatmu dengan pangeran tadi," jawab Felix.
"Jadi dia itu cemburu?," tanya YingYing sambil mengusap air matanya. YingYing langsung mengejar Zhang Wei.
Sementara Zhang Wei...
"kaisar, aku mau berkencan denganmu bisa tidak?," tanya seorang wanita, wanita itu ialah LeiLei.
"Yakin kamu mau sama aku kan aku ini buta?," tanya Zhang Wei lagi.
__ADS_1
"Kaisar, kamu sangat tampan dan tubuhmu sangat kuat mana bisa aku menolakmu..," kata LeiLei sambil membelai badan Zhang Wei.
"Kamu sungguh akan menyukai ku kan?," tanya kaisar sambil mendudukkan LeiLei pada paha nya.
"Sudah tentu lah Kaisar," jawab LeiLei.
"Kaisar buta sepertimu mana mungkin aku suka malah aku jijik sama nih orang pengen muntah rasanya," dalam batin LeiLei.
YingYing yang masih berjalan ke kediaman Zhang Wei itu seketika berhenti apabila dia bertemu putra mahkota dari kerajaan timur. YingYing sedikit membungkukkan badanya berserta kepalanya. Sedangkan putra mahkota itu hanya kebetulan berjalan di situ. Setelah putra mahkota itu mulai menjauh YingYing langsung melanjutkan langkahnya ke rumah Zhang Wei.
"Aku harap bisa jelasin semua ini kepadanya agar dia tidak memarahiku lagi," ucap YingYing dengan raut wajah gembira. Apabila sudah tiba di kediaman Zhang Wei dia sedikit mengintip jendela kamar Zhang Wei.
"Itu...kenapa bisa....," kaget YingYing yang meilhat Zhang Wei dan adik kandungnya berduaan di kamar yang sama. Raut wajahnya mulai berubah menjadi sedih dan melangkah pergi dari situ.
"Aku benar-benar sudah telat untuk memberi tahu nya...," kesal YingYing. Air matanya mulai membasahi wajahnya sambil duduk di atas pohon kepalanya menunduk karena sudah telat untuk memberitahu parkara yang sebenarnya terjadi.
"YingYing, sampai kapan kamu akan bersedih begitu?," tanya Felix.
"Felix, aku tidak tahu apalagi yang harus kulakukan apakah aku akan mengejarnya atau melepaskan ya...," kata YingYing.
"Kalau kau tidak bisa membuat pilihan maka biarkan dulu dan cobalah lupakan dia sebisamu..," kata Felix.
"Felix, aku harus jadi wanita yang kuat air mataku mau jatuh tapi aku tidak bisa menangis," kata YingYing sambil mengusap air matanya dia mencoba senyum paksa. Tiba-tiba saja ada yang mendarat di sebelah YingYing.
"Kau tidak perlu menahan ya menangis lah sekuat mungkin agar dirimu merasa lebih tenang," kata suara wanita yang terdengar di sebelah YingYing. YingYing langsung menengok ke sebelahnya dan dia melihat wanita yang telah menyelamatkannya saat berada di negara api dia adalah dewa yang menjaga batu permata biru.
"Dewa kenapa kau bisa ada di sini?," tanya YingYing. Dewa itu langsung duduk di sebelah YingYing sambil memeluk erat YingYing.
"Sayang, nangislah sepuasnya mama tidak akan membiarkanmu menyesal nangislah agar dirimu lebih tenang," kata Dewa itu.
"Kamu, apa kamu mamaku?," tanya YingYing yang masih kebingungan.
"Sayang, mama harus jujur sama kamu agar kamu tahu semuanya dan mama merasa kamu sudah cukup besar untuk mengetahui perkara yang sebenarnya terjadi," kata Dewa sambil mengelus wajah lembut YingYing.
Bersambung...
__ADS_1