
Episode sebelumnya...
"Aku agak marah sih tapi siapa yang besar nyalinya hingga membunuh semua orang di kota ini apa dia sengaja melakukan itu agar semua orang di sini mati dalam keadaan mengenaskan?," kesal Sashuang sambil mengembungkan pipinya. Tiba-tiba sahaja suasana di sana sangat sejuk dan .....
...~Selamat membaca~...
Suasana di sana mulai sejuk dan lebih sepi dari tadi.
"Aku merasa hantu itu akan keluar lagi" kata Felix sambil bersembunyi di atas pokok. Sementara Zhang Wei langsung menggendong Sashuang ke atas pokok untuk bersembunyi dan dia lagi-lagi menggunakan kuasanya agar tidak keliatan.
"Zhang Wei, sampai kapan kita akan bersembunyi begini?," kata Sashuang yang kesal karena dirinya selalu bersembunyi seperti seorang pengecut. Sashuang langsung melompat ke bawah.
"Hantu, aku tidak takut padamu sekarang kesini lah!!!," teriak Sashuang dengan sangat kuat.
"Dasar anak bodoh," kata Felix sambil menepuk kepalanya sendiri. Ada yang sesuatu yang keluar dari dalam pohon besar itu. Yang keluar itu adalah hantu yang diseru oleh Sashuang, hantu itu langsung lari ke arah Sashuang dengan sangat pantas.
"Mereka sangat pantas bagaimana bisa aku mengalahkan mereka kalau mereka sangat kuat," dalam batin Sashuang.
Para hantu itu keluar satu-persatu dari pohon dan langsung berlari ke arah Sashuang. Dia langsung mengelak satu-persatu dari mereka. Namun para hantu itu semakin lama semakin bertambah banyak.
"Sudah kuduga inilah yang akan berlaku, apabila menyerang mereka depan-depan seperti ini mereka akan terus hidup dan bertambah kuat," kata Zhang Wei sambil melompat turun dari pohon. Dia langsung membuka kain putih yang ada di matanya dan mengambil sesuatu yang berada di kantongnya. Zhang Wei mengibaskan benda itu dan benda itu bertukar menjadi sebuah pedang yang berbentuk naga.
"Wah, jadi dia adalah klan dari Naga langit pantesan aura pria itu sangat kuat," kata Felix yang hanya melihat dari atas pohon. Zhang Wei langsung menikam mereka semua dalam sekejap mereka semua langsung mati dan hancur.
__ADS_1
"Hebat," kata Sashuang. Dan tiba-tiba sahaja pohon itu mengeluarkan asap berwarna hitam.
"Sashuang, tutup wajahmu pakai kain ini kalau tidak hidupmu akan melayang!," tegas Zhang Wei sambil menyerahkan sebuah kain panjang berwarna hitam. Sashuang mengambil kain itu dan menutup wajahnya, Zhang Wei langsung memeluk Sashuang dengan erat dan asap hitam itu mulai bertebaran seluruh kota itu.
"Gawat," kata Felix sambil mengambil menutup wajahnya dengan daun yang baru saja dikutip dari pohon itu.
Beberapa menit kemudian asap itu langsung hilang....
Zhang Wei dengan perlahan melepaskan Sashuang.
Uhukk! uhuk!!
batuk Zhang Wei sambil memegang dadanya yang kesakitan.
"Zhang Wei, kamu memberiku kain ini tetapi kenapa kamu sendiri tidak memakai kain untuk menutupi wajahmu?," tanya Sashuang yang mulai ketakutan.
"Zhang Wei, jangan membuat ku takut, bangun lah!," teriak Sashuang yang mulai panik dan mengangkat kepala Zhang Wei dan meletakkan nya di paha nya. Sementara Felix yang melihat Sashuang berteriak langsung terbang dan mendarat di sebelah Sashuang.
"Apa dia terkena asap hitam itu?," tanya Felix.
"Iya, dia terkena asap itu sekarang apa yang harus kita lakukan?," tanya Sashuang yang panik sampai air matanya tidak bisa tertahan kan lagi.
"Tenanglah aku akan mencari penawarnya kamu bawa dia keluar dari kota terkutuk ini," tegas Felix sambil pergi terbang dan menjauh dari mereka. Sashuang langsung menggendong Zhang Wei dan dia langsung berlari keluar dari kota itu secepat mungkin.
__ADS_1
Setalah berlari beberapa kilometer dari kota mereka berhenti di sebuah kedai makan...
Sashuang menurunkan Zhang Wei dan membaringkannya di sebuah sofa yang ada di dalam kedai makan itu.
"Felix, tolonglah kembali dengan segera," kata Sashuang sambil menengok ke arah langit dia mulai bingung harus ngapain lagi wajah Zhang Wei mulai pucat dan nafasnya sudah terputus-putus.
"Zhang Wei, kamu harus hidup!," kata Sashuang sambil mengecek nadi Zhang Wei.
"Aku tahu penawar bagi benda ini," kata Sashuang sambil mengambil cermin yang ada di kantongnya. Cermin itu bisa menelepon seseorang.
"Halo Felix, kamu harus mengambil bahan yang sudah ku kasih tahu ini dengarkan baik-baik bahan pertama cabe, timun, terong, cendawan merah racun Ying, buah pirda liwana dan juga bungalefelosia harus cari sebelum waktunya tamat!," tegas Sashuang yang memikir bahwa Zhang Wei masih ada harapan untuk hidup.
Sementara Felix...
"Aneh-aneh aja dah bahan-bahannya bagaimana bisa aku mencari bahan yang sudah begitu dalam waktu nya tamat," keluh Felix sambil berhenti di sebuah pohon yang penuh dengan cendawan merah racun Ying. Felix menyentuh cendawan itu dalam sekejap beribu kalajengking yang keluar dari pohon itu.
"Gawat kalajengking ini adalah kalajengking air, kalau sampai mereka menyentuhku energiku berkurang dengan sangat banyak ini bisa gawat," kata Felix sambil mengundur ke belakang dia mulai terbang dan dengan cepat mengambil salah satu cendawan itu dan langsung terbang pergi dari situ dengan sangat pantas. Felix berhenti lagi di sebuah sungai yang arusnya sangat kuat dan sungai itu sangat bersih dari atas melihat saja bisa melihat sampai ke dasar sungai. Felix mulai menyentuh air sungai yang sangat bersih itu.
"Air ini sangat bersih dari sini saja aku bisa melihat dasarnya aku merasa sungai ini bukanlah sungai yang biasa," kata Felix sambil mengangkat tangannya kembali dia mulai menengok kiri dan kanannya tetapi sunyi dan hanya terdengar aliran sungai sahaja. Felix langsung mengambil beberapa helai daun daun dan membentuk daun itu seperti sebuah cawan. Dia langsung meletakkan cawan itu di permukaan air dan tiba-tiba sahaja keluar sebiji buah dan juga bunga yang masuk ke dalam cawan Felix, dia langsung mengangkat cawan itu dan mengambil benda yang ada di dalam gelas itu.
"Ini adalah pirda liwana dan juga bungalefelosia!," kata Felix wajahnya mulai tersenyum dan langsung pergi mencari bahan-bahan yang lain.
Sementara Sashuang...
__ADS_1
Sashuang duduk di sebelah Zhang Wei dan menunggu Felix untuk membawa bahan-bahan yang sudah di arahkan. Sashuang mengenggam erat tangan Zhang Wei dia mulai tenang apabila melihat wajah Zhang Wei yang sudah mulai membaik.