
Episode sebelumnya...
Sashuang duduk di sebelah Zhang Wei dan menunggu Felix untuk membawa bahan-bahan yang sudah di arahkan. Sashuang mengenggam erat tangan Zhang Wei dia mulai tenang apabila melihat wajah Zhang Wei yang sudah mulai membaik.
...~Selamat membaca~...
"Baiklah aku sudah menemukan bahan-bahan untuk menyembuhkan dewa iblis itu," kata Felix sambil terbang untuk kembali kepada Sashuang.
Setelah kembali kepada Sashuang...
Felix langsung memberikan semua bahan-bahan itu kepada Sashuang. Dia mengambil semua bahan itu dan mencampurkan semua bahan-bahan ke dalam satu pengisar ajaib.
"Kenapa harus gunakan pengisar ajaib?" kata Felix yang kebingungan karena kan bisa saja kalau menggunakan pengisar biasa.
"Kalau tidak menggunakan pengisar ajaib masa penyembuhannya akan sangat lambat dan sulit ditangani," jawab Sashuang, Felix hanya mengiyakan apa yang dikatakan Sashuang. Setalah selesai mengisar semua bahan dia langsung memasukkan bahan-bahan yang sudah dikisar kedalam mangkuk dan langsung bergegas ke arah Zhang Wei yang masih tidak sadarkan diri.
"Zhang Wei, marilah minum obatmu," kata Sashuang sambil mengangkat kepala Zhang Wei dengan perlahan lalu dia meminumkan obat itu pada Zhang Wei.
"Apa benar dia akan pulih dengan cepat?," tanya Felix yang hanya duduk di bahu Sashuang.
"Aku pasti dia akan sadar sebentar lagi kok," jawab Sashuang walau dia sedikit takut kalau Zhang Wei tidak sadarkan diri dia langsung berdiri dan saat dia mau melangkah tangganya ditahan dan langkahnya pun terhenti. Sashuang langsung menoleh kebelakang dan melihat Zhang Wei lah yang telah menahan tangannya.
"Kamu sudah sadar!," kata Sashuang sambil duduk kembali perasaan nya saat itu sangat gembira.
"Aku sudah sadar dan tubuhku sudah mulai membaik kok," kata Zhang Wei sambil tersenyum. Dan Sashuang membalas senyum dari pria yang ada dihadapannya itu.
Saat malam harinya....
__ADS_1
Malam hari itu sangat sunyi dan sangat tenang sementara di tempat Sashuang juga sangat sunyi dan tenang.
"Apa yang akan aku lakukan sekarang semua keluargaku sudah meninggal kan ku cuman tinggal aku doang yang masih hidup jadi seharusnya aku berada di tempat ayah untuk menjadi ratu, dan aku harus segera punya suami agar aku bisa punya keturunan," kata Sashuang sambil menatap ke arah jendela. Bulan bersinar dengan sangat terang dan suasana di tempat itu sangat indah dan juga terasa sejuk juga.
"Kenapa masih belum tidur?," kata Zhang Wei yang kebetulan masuk ke dalam kamar Sashuang.
"Aku cuman meratapi nasibku yang akan datang itu saja," kata Sashuang yang masih merenung ke luar jendela. Zhang Wei perlahan mendekati Sashuang dan memeluknya dari belakang.
"Kalau takut masa depanmu hancur makan menikahlah denganku baru bisa masa depanmu cerah," kata Zhang Wei dengan suara lembut. Wajah Sashuang lagi-lagi memerah dia langsung mendorong Zhang Wei dan langsung berlari keluar. Zhang Wei hanya tersenyum melihat kelakuan Sashuang.
"Pria itu benar-benar deh tapi benar juga sih semakin cepat aku menikah bersamanya semakin cepat semua ini berakhir," kata Sashuang sambil duduk di luar rumah kayu itu. Dan akhirnya dia ketiduran di luar rumah itu. Zhang Wei langsung menggendong nya masuk ke kamar lalu membaringkan Sashuang di kasur. Zhang Wei langsung keluar dari kamar itu dan langsung ke halaman belakang. Saat dia sudah ke halaman belakang ada sesuatu yang sangat laju berhenti di hadapan Zhang Wei dan benda itu adalah seorang pria, pria itu langsung menunduk kepada Zhang Wei.
"Tuanku, sampai kapan anda maju duduk di sini?," kata pria itu.
"Aku masih belum mendapat jodohku yang seharusnya tetapi aku pasti bisa menemukan jodohku," kata Zhang Wei sambil membuka kain putih yang ada di matanya. Dari situ matanya berwarna hitam dan sebelah lagi berwarna biru.
"Aku sudah melihat punggung wanita itu pada saat dia kabur dari istana karena tidak ingin menikahi ku," kata Zhang Wei yang sedikit merasa kecewa.
"Baiklah saya kesini untuk memberitahu Tuanku, kalau Putri Arrendel sudah berada di istana anda," kata pria itu.
"Bukanya dia sudah bersama pria lain kenapa dia masih mencari ku?," kata Zhang Wei sambil mengerutkan keningnya.
"Dia sudah bercerai dengan suaminya dan dia ingin bertemu dengan anda untuk menikah harap Tuanku, kembali ke istana," kata pria itu sambil menutup matanya.
"Beritahu padanya aku tidak butuh sampah yang sudah berjalan sendiri ke dalam tong sampah," kata Zhang Wei sambil menoleh kebelakang lalu melangkah pergi.
__ADS_1
"Tapi tuanku," kata pria itu yang sedikit bingung karena biasanya Zhang Wei tidak pernah menolak rayuan Putri Arrendel.
"Disini kamu berkuasa atau aku yang berkuasa?," tanya Zhang Wei sambil menghentikan langkahnya dan memusingkan sedikit kepalanya ke belakang dan matanya menatap tajam ke arah pria itu.
"Tuanku, hamba tidak berani lagi untuk membantah anda," kata pria itu sambil menundukkan kembali kepalanya. Pria itu langsung pergi sepantas kilat sementara Zhang Wei melanjutkan langkahnya dan memakai kembali kain putih itu ke matanya.
Keesokan harinya...
Sashuang bangun dari tidurnya dan mulai menguap dia melihat ke arah jendela dan turun dari kasurnya dan langsung membuka jendela kamar itu.
"Hari ini aku mau kemana yah," kata Sashuang sambil meletakkan tangannya dekat jendela sementara Felix langsung terbang dan berdiri di bahu Sashuang.
"Felix, kamu sudah bangun yah," kata Sashuang sambil mengelus lembut kepala Felix.
"Manusia berhenti mengelus-elus buluku atau....uh itu nyaman...," kata Felix yang merasa nyaman saat Sashuang mengelus kepalanya. Sashuang seketika berhenti mengelus kepala Felix dan dia langsung keluar dari kamar itu. Zhang Wei yang duduk di jendela ruang tamu itu hanya terdiam dengan kain putih yang ada di matanya.
"Aku mau tanya, sampai kapan pria itu mau memakai kain putih yang ada di matanya itu?," tanya Felix yang sedikit kesal melihat Zhang Wei.
"Abaikan dia, dia itu orang aneh yang akan memakai kain busuk nya kemana-mana dia pergi walau dia tidak buta sama sekali," kata Sashuang yang berbisik kepada Felix.
"Kalau kau menyuruhku menghajarnya aku akan menghajarnya sekarang juga kesal kali lah ku tengok tuh anak," kata Felix dan tubuhnya mulai membesar.
"Felix, kau tidak akan bisa menyentuhnya sama sekali karena dia sangat kuat aku dapat merasakan auranya sangat kuat dan auraku mungkin saja masih jauh dari levelnya," kata Sashuang berbisik kepada Felix sambil menatap Zhang Wei dengan tatapan kesal karena levelnya masih rendah dari level Zhang Wei. Kedua orang yang mengatai Zhang Wei itu masih menatap Zhang Wei dengan tatapan tajam. Zhang Wei langsung memalingkan pandangannya kepada dua orang yang iri padanya dan seketika dua orang itu langsung dengan cepat mengalihkan pandangan mereka ke tempat lain dan seakan-akan tidak menyadari keberadaan Zhang Wei.
"Felix, lihatlah rumah kayu kita ini sangat cantik dan tidak pernah bocor makanya ku bilang kokoh," kata Sashuang sambil tersenyum.
"Iya rumah ini sangat kokoh nanti bila hujan pasti airnya tidak masuk ke ruang tamu ini karena kayunya sangat kokoh," kata Felix yang membalas kata-kata Sashuang. Dan tiba-tiba saja awan mendung dan air hujan mulai turun dan ruang tamu itu basah karena air hujan menetes. Seketika dua orang itu langsung membulatkan matanya dan bangong. Zhang Wei langsung bangun dan mendekati dua orang itu.
__ADS_1
"Hehehehe, keliatannya air hujan tidak masuk kok kering kali ruang tamu ini yah kayunya juga kokoh tidak ada bolongnya," kata Zhang Wei sambil tertawa kecil dan memegang bahu Sashuang. Dua orang itu hanya bisa membulatkan matanya dan hanya bisa bangong.
Bersambung...