
Episode sebelumnya...
"Karena aku mau mengumpan seseorang dan benar saja orang itu benar-benar datang," kata Zhang Wei sambil tersenyum ke arah YingYing dengan kain putih yang menutupi mata Zhang Wei.
...~Selamat membaca semuanya~...
"Orang kamu umpan itu aku kan?," tanya YingYing yang sedikit kesal.
"Iya kamulah orangnya," kata Zhang Wei dan memakai bajunya kembali dan mengikat kembali rambutnya. Sementara YingYing hanya melangkah pergi dari situ dengan wajah marahnya dia keluar dari tempat itu dan meninggalkan Zhang Wei sendirian di dalam.
Setelah berjalan ke beberapa toko pakaian...
"Aku akan memakai baju wanita dulu dan selepas itu aku harus mengumpulkan energi ku kembali," kata YingYing sambil membeli beberapa helai baju yang sangat cantik setelah membayar baju itu dia terus memakai baju di ruang ganti pakaian.
"Sekarang aku harus kembali ke kediaman ku," kata YingYing sambil bergegas pulang ke kediamannya. Dan dari jauh dia melihat XingXing yang sedang berlari ke arah nya.
"Tuan Putri, akhirnya aku menemukan mu!," kata XingXing dengan nafas yang terputus-putus karena berlari.
"XingXing, ada apa denganmu kenapa kamu mencarinya?," tanya YingYing keheranan.
"Tuan Putri, kita harus pergi ke istana terbesar di sebelah gunung Fuhe sekarang!," kata XingXing.
"Tapi kenapa kita harus kesana?," tanya YingYing lagi.
"Itu adalah arahan dari Raja, Tuan Putri," jawab XingXing sambil menarik tangan YingYing untuk masuk ke dalam kereta kuda. YingYing pun masuk ke dalam kereta kuda itu dan mereka pun pergi menuju ke arah gunung Fuhe untuk tiba di istana terbesar dan termegah di situ.
"Ya ampun, bisa-bisanya aku mabok naik kereta kuda ini," kata YingYing sambil berbaring agar dirinya tidak mual lagi.
Setelah berjalan selama 3 jam akhirnya mereka tiba di Istana terbesar itu...
__ADS_1
YingYing turun dari kereta kudanya dan langsung bergegas ke semak-semak agar dia bisa muntah.
"Hoek, hoek, hoek,"
"Tuan Putri, anda baik-baik saja kan?," tanya XingXing yang takut akan terjadi sesuatu pada YingYing.
"Aku tidak apa-apa cuman aku akan masuk sebentar lagi kamu pergilah tunggu di depan istana dulu," kata YingYing. XingXing pun langsung bergegas ke depan istana. Sementara YingYing yang sudah selesai mengurus dirinya dia pun langsung bergegas masuk ke dalam istana di ikuti dengan XingXing.
"XingXing, siapa wanita itu?," tanya YingYing yang melihat seorang wanita yang sengaja menumpahkan air ke kepala seorang wanita yang berlutut di hadapannya.
"Dia adalah anak jenderal yang terhebat di kota ini," jawab XingXing.
"Berani sekali dia buat keributan di sini!," kata YingYing sambil mencoba menghampiri wanita itu.
"Tuan Putri, lebih baik anda jangan ikut campur dengan wanita itu kalau tidak dia akan membunuh Tuan Putri!," tegas XingXing sambil menahan tangan YingYing.
"XingXing, percayalah padaku aku pasti bisa memukul wanita itu sampai babak belur," kata YingYing sambil melepaskan tangan XingXing dari taganya. Dia pun langsung menuju ke arah anak jenderal itu.
"Siapa kamu yang mau mengatur istana ini lagian juga luh siapa aku mau menyuruh ku jangan buat keributan?!," kata wanita itu dengan sangat sombong.
"Aku bukan siapa-siapa kok cuman saja aku mau kasi tau kalau luh jangan cari masalah di istana ini!," tegas YingYing. Tangan wanita itu melayang di wajah YingYing dan dia terkena tamparan dari wanita itu.
Plakkkk
bunyi tamparan yang terdengar.
"Tuan Putri, anda tidak apa-apa kan?," kata XingXing dan langsung bergegas ke arah YingYing.
"Apa katamu, dia Tuan Putri?," kaget wanita itu sambil dengan perlahan mengundur ke belakang.
__ADS_1
"Kenapa mundur, ayok lah tampar lagi!," teriak YingYing kepada wanita itu.
"Kamu fikir kamu Tuan Putri aku takut padamu hah?," kata wanita itu dan lagi-lagi dia menampar YingYing.
"Berhenti menampar Tuan Putri atau kamu akan dihukum mati!," teriak XingXing kepada anak perempuan jenderal itu. Dan kali ini wanita itu langsung memukul YingYing dengan sangat kuat. Kali ini selepas dipukul YingYing langsung bangun dan memegang tangan wanita itu lalu memukulnya dengan sangat kuat sehingga wanita itu keluar darah dari mulutnya.
"Uhukk uhukk mana mungkin wanita sepertimu bisa memukul ku sampai begini," kaget wanita itu sambil terbatuk-batuk. YingYing langsung memasukkan sebiji ubat berwarna biru dengan bentuk bulat ke dalam mulut wanita itu.
"Kali ini aku memasukkan ubat yang bisa melumpuhkan tangan kananmu karena kamu suka sekali menampar orang dan kalau kau mengangguku lagi aku akan membuat seluruh tubuhmu lumpuh serta suaramu akan ku senyapkan," kata YingYing sambil tersenyum manis sementara orang-orang yang ada disekitarnya mulai ngeri dengan senyuman YingYing. Dia pun melangkah pergi dari hadapan wanita itu.
"Tuan Putri, sila tunggu sebentar!," teriak suara yang terdengar dari belakang YingYing dia pun menghentikan langkahnya dan langsung menoleh ke arah belakang.
"Tuan Putri, Raja sedang sakit parah dan dia ingin bertemu dengan Tuan Putri," kata orang itu dengan wajah sedih. YingYing yang mendengar itu langsung berlari ke dalam istana itu dan langsung masuk ke kamar ayahnya.
"Ayahanda!," teriak YingYing sambil membuka pintu kamar Raja tetapi dia melihat semua orang menangis sementara ayahnya kelihatan sudah tidak bernafas dan matanya sudah tertutup rapat. YingYing perlahan mendekati ayahnya dan air matanya mulai menetes dia langsung terduduk.
"Ayahanda, maafkan aku karena tidak disamping mu saat kamu sakit dan sekarang sebelum terakhir kali kamu melihat dunia ayahanda, tidak melihatku!!!," teriak YingYing sambil nangis sekencang-kencangnya dia memeluk ayahnya sementara Ibunya hanya mencoba menenangkan YingYing. Hanya mereka berempat lah yang ada dikamar YingYing, kakak pertama, ibunya dan ayahnya yang sudah meninggal kan dunia. Tetapi mereka tidak melihat LeiLei sama sekali saat ayah mereka pergi.
Setelah selesai acara pemakaman Raja...
"Ayahanda, setalah pergi siapa lagi yang akan menemani hari-hari ku lagi selepas ini?," tanya YingYing sambil berbaring di kamar Raja dengan memeluk sehelai baju milik ayahnya. Pintu kamar itu perlahan di buka dan yang buka kamar itu adalah Zhang Wei.
"YingYing, marilah makan dulu," kata Zhang Wei sambil mendekati YingYing.
"Aku tidak ingin makan dan keluar kamu dari sini!," teriak YingYing sekencang-kencangnya namun Zhang Wei hanya pasrah dan menutup kembali pintu kamar itu.
Saat malam harinya...
YingYing tertidur dengan sangat pulas dan Zhang Wei lagi-lagi masuk ke kamar itu dan langsung duduk di samping YingYing.
__ADS_1
"YingYing, aku tahu ini sangat berat bagi dirimu untuk menghadapi semua ini," kata Zhang Wei sambil mengelus lembut kepala YingYing.