
Aku berdiri mematut diri di cermin untuk yang terakhir kali, sempurna. Semua terlihat seperti seharusnya. Rambut kuncir kuda dan seragam putih abu-abu yang rapih. Ini style-ku dan aku menyukainaya. Tasku sudah sangat siap untuk dibawa dengan buku-buku pelajaran cantik di dalamnya. Untuk sentuhan akhir, aku mengambil parfum wangi strawberry yang lembut favoritku.
“Rex! Udah jam berapa ini? Ayo bangun!” Suara mama terdengar begitu menggelegar di setiap sudut rumah. Tentu saja ini karena ulah si pemalas itu!
“Rex!” teriak mama sekali lagi. Kali ini lebih menggelegar karena tidak mendapat jawaban apapun dari orang yang dipanggil. Aku hanya bisa mendengus saja, karena memang inilah rutinitas pagi hari di keluarga kami dan aku sudah terbiasa. Aku menghela napas panjang kemudian meraih tas ranselku. Tidak lupa juga memeriksa ikatan tali sepatuku.
Aku berjalan menuju pintu kamarku dan pada saat aku membukanya, di sanalah terlihat pemandangan yang sangat menyebalkan.
Rex!
Rexy Aditya Chandra, itu nama lengkapnya. Orang yang paling menyebalkan di rumah ini atau bahkan di planet ini. Mama bilang kalau nama Rexy itu terinspirasi dari pemain bulutangkis favoritnya yaitu Rexy Mainaky. Dari sepengetahuanku, Rexy Mainaky itu adalah atlet yang berprestasi dan tentunya sangat disiplin. Tapi Rexy yang satu ini adalah kebalikannya.
Rex membuka pintu kamarnya yang letaknya persis di depan kamarku. Dia menggaruk-garuk kepala sambil menguap lengkap dengan kaus oblong putih dan celana boxer spiderman merahnya. Benar-benar pemandangan yang menyebalkan! Tapi yang lebih menyebalkan lagi adalah fakta bahwa Rex yang menyebalkan ini adalah saudara kembarku. Maksudku, bagaimana bisa aku punya kembaran seperti dia?
“Bisa gak sih, kamu itu bangun tepat waktu?” semprotku sebal.
“Aduh...Ren. Bisa gak sih, pagi-pagi gak usah ceramah?” jawabnya dengan ekspresi menyebalkan.
“Denger ya, aku ini baru bangun dan nyawaku baru dalam proses buat ngumpul jadi satu. Jadi kalau dengerin kamu ceramah pagi-pagi gini, nanti nyawaku bisa ambyar lagi, nih.”
“Nggak lucu!”
Rex hanya membalas dengan cengiran. Tanpa bicara lagi, aku langsung pergi dari sana. Untuk apa aku harus peduli dengan Rex dan candaan konyolnya itu? Masih banyak hal yang lebih penting dibanding dia.
Aku bergegas dan segera menuruni tangga. Mama terlihat sedang menata sarapan di meja makan. Aroma masakannya sudah tercium lezat di hidungku.
“Sarapan apa, Ma?”
“Eh, Ren. Selamat pagi.” ucap mama dengan senyuman khasnya. Aku suka saat melihat senyum mama karena dihiasi dengan sepasang lesung pipi manis di wajahnya.
“Pagi juga.” jawabku sembari menarik kursi dan segera duduk. Ada semangkuk besar nasi goreng keju dan sepiring telur mata sapi yang terlihat begitu menggoda lidah.
“Rex udah bangun?” tanya mama sambil menyendokkan nasi goreng ke piringku.
“Udah, lagi mandi.” Aku menuang air putih ke dalam gelas dan langsung meminumnya. Tenggorokanku terasa kering karena belum dialiri setetes air pun.
__ADS_1
“Papa baru pulang beberapa hari lagi. Masih banyak kerjaan yang harus diurus.” jelas mama yang kini sudah duduk di kursinya sembari menyendok nasi goreng miliknya.
“Papa nelpon?” tanyaku dengan mulut penuh terisi nasi.
“Iya, tadi malam. Katanya titip salam buat si kembar dan mama disuruh tanyain kalian mau dibawain oleh-oleh apa?”
Papa adalah seorang pengusaha sukses yang sering melakukan perjalanan bisnis. Seperti saat ini, papa sedang ada di luar kota dan biasanya paling lama seminggu. Aku tidak bermaksud sombong dengan mengatakan bahwa papaku pengusaha sukses. Tapi kesuksesan papa memang benar-benar diraih dengan disiplin dan kerja keras. Papa memulai usahanya benar-benar dari nol. Berkali-kali jatuh bangun, tapi berkat kerja kerasnya, keluarga kami bisa hidup nyaman seperti sekarang.
Aku sudah akan membuka mulutku untuk menjawab, tapi tiba-tiba terdengar suara gaib menyahut.
“Satu set alat drum keluaran terbaru!”
Rex berjalan menghampiri meja makan dan segera menarik kursi.
“Bilangin ke papa aku minta satu set drum, Ma.”
“Gak usah, Ma!” potongku.
Rex menyipitkan matanya sambil menatapku.
“Kamu iri, kan?”
“Idih, ngapain iri.”
“Terus kenapa?”
“Ngapain buang-buang duit buat beli begituan. Unfaedah!”
“Udah...pagi-pagi jangan berantem. Pantang!” ujar mama yang dari tadi tertawa melihat kelakuan kami.
Bukan hal baru lagi, aku dan Rex memang selalu seperti ini. Meski kembar kami selalu tidak cocok dalam berbagai hal. Aku juga bingung kenapa anak kembar bisa seperti kami ini? Maksudku, biasanya anak kembar itu identik dengan saling menyayangi dan terlihat harmonis satu sama lain. Setidaknya itulah yang aku lihat di film -film. Tapi semua yang kulihat itu berbeda 180 derajat dengan apa yang kualami. Kadang aku meragukan data dan fakta bahwa Rex adalah kembaranku.
“Nanti masing-masing pasti dapat oleh-oleh dari papa.” lanjut mama lagi. Rex hanya tersenyum sambil memasang ekspresi mengejek ke arahku. Ini masih pagi dan melihat ekspresinya itu membuat jiwa psikopatku meronta-ronta. Kenapa aku harus punya kembaran seperti dia, sih?
“Aku pergi dulu, Ma.” ucapku sambil beranjak.
__ADS_1
“Cepet banget?” protes Rex dengan mulut penuh nasi.
“Makanya, kalau bangun pagi itu jangan telat.” sindir mama. Rex tampak tidak ambil pusing dan tetap makan dengan lahap.
“Pergi dulu, Ma.” ucapku sambil mencium tangan mama.
“Iya, hati-hati. Pak Alif udah nunggu di mobil.” Aku hanya mengangguk.
“Ren, tunggu!” Tanpa memperdulikan Rex, aku langsung bergegas menuju ke tempat Pak Alif memarkirkan mobil. Sedikit berlari kecil agar cepat sampai dan cepat pergi dari sini. Begitu sampai, aku langsung membuka pintu belakang mobil lalu naik. Suara bantingan pintu sepertinya membuat Pak Alif sedikit terkejut.
“Ayo, Pak. Kita jalan.” pintaku. Pak Alif langsung menoleh ke belakang.
“Iya, Mbak.” jawabnya sembari celingukan mencari sesuatu.
“Ayo, Pak.”
“Tapi, Mas Rex nya mana?”
“Dia naik taksi. Ayo, Pak. Cepetan!”
Pak Alif segera menghidupkan mesin tapi tiba-tiba pintu belakang terbuka.
“Eits...mau kemana sih buru-buru amat?”
Rex masuk dengan senyuman konyol mengejeknya yang sangat menyebalkan. Gagal sudah rencanaku yang sangat brilian tadi!
“Lah, katanya Mas Rex naik taksi?”
“Taksi? Gak dong, Pak. Kalau aku naik taksi, nanti ada yang hilang dan gak lengkap.”
“Apa itu, Mas?”
“Seperti Yin dan Yang, Ren tanpa Rex rasanya kurang lengkap. Iyakan, Pak?” kata Rex sambil melirik jahil padaku.
Sejurus kemudian dia dan Pak Alif tertawa terbahak. Mereka tahu benar bahwa ekspresiku saat ini pasti sangat mengerikan. Rex benar-benar sudah menyebarkan racun menyebalkannya keseluruh penjuru bumi, termasuk ke Pak Alif! Mobil pun segera meluncur menyusuri jalanan. Seperti biasa, pagi ini cuaca sangat cerah tapi aku mengawali hari dengan sangat menyebalkan. Aku harap, pagi yang menyebalkan ini tidak berlanjut sampai di sekolah nanti.
__ADS_1