
Akhirnya setelah perjalanan panjang yang menyiksa, aku sampai juga di sekolah. Setelah turun di parkiran, aku dan Rex langsung berpisah menuju habitat masing-masing. Kami memang satu sekolah, tapi tentu saja ditempatkan di kelas yang berbeda. Untuk itu aku sangat bersyukur, setidaknya ada tempat dimana aku tidak satu ruangan bersamanya. Maksudku, cukuplah kami satu rumah. Kalau sempat harus satu ruang kelas juga, aku mungkin akan pensiun dini jadi pelajar.
Jika sudah berada di lingkungan sekolah, aku dan Rex sudah menjalani hidup masing-masing. Bukannya selama ini kami mati atau bagaimana, tapi seperti yang kalian tahu kami selalu saja bertengkar. Walaupun begitu, tetap saja aku sering melihatnya melintas wara-wiri tapi selama tidak mengganggu, aku sih masa bodo. Aku sedang berjalan menuju kelas, tiba-tiba seseorang memanggil.
“Ren! Ren!”
Maya tampak melambaikan tangannya sambil berlari menghampiriku. Kelihatannya dia juga baru datang. Untuk banyak hal, aku memang tipe orang yang cuek. Tapi bukan berarti aku tidak mempunyai teman. Mari kita berhitung berapa banyak jumlah temanku, ada Maya, ada...
Ah, apa pentingnya kuantitas? Yang paling penting itu kualitas, bukan? Dan Maya adalah satu-satunya teman berkualitasku.
“Kamu baru nyampe juga?” tanyanya kemudian. Aku hanya mengangguk.
“Aku belum sarapan, nih. Tadi bangun kesiangan, takut telat jadi gak sarapan, deh.” ocehnya.
“Hobi banget kamu bangun telat.”
“Yah, mau gimana lagi. Semalam tidurnya juga telat, hehe...” jawabnya sambil nyengir.
“Ngapain aja? Main judi?”
“Astagfirullah! Tega banget sih ngomong gitu?” respon Maya dengan ekspresi pura-pura horornya. Aku hanya tersenyum geli melihatnya karena dengan ekspresi seperti itu matanya yang bulat seperti mau keluar.
“Terus?”
“Biasa, nonton drama Korea.”
“Ya...ampun May, gak penting banget, sih. Kesehatan itu lebih penting, May.” cerocosku.
Aku benar-benar tidak mengerti kenapa banyak orang sangat terobsesi dengan drama Korea. Maksudku, baiklah mungkin tema dan jalan ceritanya yang bagus di samping para aktor dan aktrisnya yang good looking. Tapi tidak harus nonton sampai bergadang juga, kan?
“Iya, Ren. Tapi nanggung, sih. Mau tamat soalnya.” Aku hanya bisa menggeleng tidak habis pikir.
Ping!
“Ah, ada apa ini...” ucap Maya setelah mendengar nada dering di smartphone-nya. Dengan cekatan dia membuka dan membacanya.
“Oh, hari ini ada pertandingan persahabatan basket antar sekolah.” katanya kemudian.
__ADS_1
“Hari ini? Emang ada?” tanyaku heran karena sebelumnya tidak mendengar pengumuman tentang hal itu. Maya mengangguk.
“Hmm...Rex pasti ikutkan?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari smartphone.
“Rex?”
“Hmm...”
“Gak tahu.” jawabku ketus. Mendengar namanya disebut saja sudah membuatku merasa kesal.
“Jelas aja dia pasti ikut. Rex kan anak klub basket.”
“Kamu tau dari mana?”
Maya langsung menoleh sambil tersenyum kikuk.
“Ah, ini dari grup WA.”
Aku langsung menghentikan langkahku.
Maya hanya memasang senyuman aneh sambil menatapku. Aku merebut smartphone di tangannya sebelum sempat dia masukkan ke dalam tas. Gerak geriknya membuatku curiga. Grup apa sih sebenarnya?
REXYLICIOUS
“Rexylicious?” tanyaku dengan alis bertaut. Grup macam apa ini? Sepertinya terdengar sangat familiar. Jangan-jangan...
“Serius? Ini...” Maya mengangguk.
“Grup para penggemar Rex.” jawabnya dengan penuh penekanan.
“Rex punya grup penggemar?” tanyaku lagi sambil geleng-geleng kepala. Aku tidak menyangka bahwa pengaruh Rex sampai seperti ini. Kurasa Rex memang benar-benar sudah menyebarkan racun menyebalkannya ke seluruh penjuru bumi, bahkan di sekolah juga! Aku tahu Rex memang idola di sini, tidak bisa dipungkiri pesonanya memang seperti virus yang menjangkit hampir semua siswi perempuan. Tapi sampai punya grup penggemar sendiri, ini benar-benar tidak masuk akal. Memangnya dia siapa? Artis? Ayolah, dia itu hanya Rex!
“Unfaedah!” ujarku sambil mengembalikan smartphone ke tangan Maya. Dia langsung memasukannya ke dalam tas.
“Emangnya, berapaan member grupnya?” tanyaku penasaran.
“Yee...unfaedah tapi nanya juga.” sindir Maya sambil mengerlingkan matanya dengan ekspresi geli.
__ADS_1
“Gak kamu kasih tau juga gak apa, kok.”
“Membernya banyak, rata-rata hampir semua anak cewek di sekolah.” jelas Maya. Hampir setengah populasi kaum hawa di sekolah yang jadi pemujanya? Benar-benar unfaedah!
“Terus, kamu kenapa sih May ikut grup gak penting itu juga?” protesku.
“Ya, cuma buat seru-seruan aja kali, Ren. Gak usah panik gitu. Lagian ini tuh cuma grup penggemar bukan group perusak perdamaian dunia.”
“Emang bukan perusak perdamaian dunia tapi perdamaian sekolah.”
“Hadeh...” keluh Maya tanda menyerah. Maya tahu hubunganku dengan kembaranku itu tidak begitu baik. Jadi tidak ada gunanya berdebat segala sesuatu tentang Rex denganku, karena pasti tidak akan ada ujungnya.
“Jangan-jangan, adminnya kamu lagi May?” Maya langsung mengerutkan dahinya.
“Apaan sih, Ren? Ya, nggak lah! Adminnya itu anak kelas sepuluh, namanya Dita apa Nita gitu.” Apa? Anak kelas sepuluh? Bahkan mereka belum menjalani separuh hidup mereka di sekolah ini tapi sudah menyia-nyiakan waktu untuk memuja Rex. Kasian sekali...
“Anak kelas sepuluh? Hah, dasar pedofil!”
“Pedofil? Maksudnya?”
“Iya, pedofil. Manfaatin keluguan junior buat jadi admin grup gak jelas gitu.”
Tawa Maya langsung meledak.
“Ya, ampun...Ren. Sampai segitunya sih kamu sama Rex. Apa hubungannya coba pedofil sama Rex? Lagian Rex mungkin juga gak tahu kalau grup ini ada.” jelas Maya yang terdengar jelas-jelas membela Rex. Wow...lihat satu-satunya sahabat berkualitasku sudah terjangkit virus Rex.
“Lagian gak ada salahnya kan kalau banyak yang suka sama Rex?” tambahnya lagi. Aku hanya mengangkat kedua bahuku tak ingin membahas lebih jauh lagi soal ini. Tapi kelihatannya Maya belum mau menyudahi pembahasan konyol ini.
“Kenapa sih Ren, kelihatannya kamu itu benci banget sama dia?” tanyanya. Aku cukup kaget dengan pertanyaan Maya itu. Sejenak aku berpikir, begitukah yang orang pikirkan tentangku terhadap Rex? Apa aku memang membenci Rex?
“Benci sih enggak. Cuma aku sebel aja lihatnya. Rex itu pecicilan banget orangnya. Selalu aja suka show off.” jelasku. Perkataan itu tulus dari dalam hatiku. Maksudku, aku tidak pernah berpikiran untuk membenci Rex. Sama sekali tidak. Bagaimana pun kami ini saudara kembar yang saling terikat satu sama lain. Walau pun sering tidak akur.
“Kadang aku suka mikir deh, Ren. Bener gak sih kalian itu kembar? Soalnya kalian itu bener-bener beda banget!”
“Hmm...aku juga sering mikir gitu.” sahutku sambil mengedipkan sebelah mata. Maya langsung tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Kami pun sampai di ruang kelas yang membuat suasana hatiku menjadi lebih baik. Ini adalah waktu favoritku, belajar. Maya langsung menghela napas lelah sambil berjalan berat menuju mejanya. Ekspresi macam apa itu? Kalau bicara tentang Rex saja langsung semangat tapi waktunya belajar langsung pura-pura lemas. Virus Rex sudah merasuk ke sum-sum tulang Maya sepertinya. Aku segera berjalan menuju mejaku dengan perasaan bahagia. Meja ini adalah awal dari semua mimpiku dan aku harus melakukan yang terbaik.
__ADS_1