REX & REN

REX & REN
Maaf dan Terima Kasih


__ADS_3

Mama langsung meninterogasiku seusai makan malam, apa lagi kalau bukan tentang Ren. Setelah kejadian itu Ren tidak keluar dari kamar dan hanya terlihat turun untuk makan malam saja. Tapi sepanjang makan malam, Ren hanya diam. Bahkan dia tidak bergeming sedikit pun saat mama menceritakan lelucon tentang burung beo yang mama dapat dari teman arisannya. Papa dan aku juga turut mengomentari cerita mama untuk mencairkan suasana. Tapi semua itu tidak berpengaruh pada Ren. Tak lama kemudian Ren beranjak tanpa menghabiskan makanannya. Padahal mama sengaja masak makanan favoritnya, semur ayam.


“Ma, Pa, Ren ke kamar duluan, ya.”


“Oh, iya.” jawab Mama.


Saat Ren beranjak, sekilas aku melihat luka di lututnya, masih bengkak tapi sudah diberi obat merah. Ren langsung naik ke kamarnya dan mama memberi tatapan menuntut penjelasan yang membuatku sedikit bergidik. Oke, tanpa diminta juga pasti aku akan jelaskan.


“Jadi, apa yang terjadi?” tanya mama. Papa sendiri hanya melanjutkan makan sambil menyimak.


“Ren jatuh, jadi Rex gendong dia.”


“Hmm...” gumam mama, lalu aku melanjutkan.


“Dia dapat B minus di Biologi, terus dia jadi gitu, deh.” Mama mendesah dan semua terdiam untuk beberapa saat.


“Kenapa Ren sampe segitunya? Mama sama papa itu gak menuntut kalian untuk sempurna, Rex. Kami gak menuntut kalian harus punya nilai bagus, harus juara, harus ini, itu, nggak!” Mama berhenti sejenak dan menatapku dengan lembut.


“Kami cuma ingin kamu dan Ren itu menjalani hidup dengan sewajarnya. Melakukan hal-hal yang positif, bersosialisasi dengan baik dan yang penting kalian harus menikmati dan menjalani hidup yang bahagia.” lanjut mama.


“Yang dibilang mama bener, Rex. Kami ini gak menuntut banyak, kamu dan Ren hadir dalam hidup kami, itu udah anugerah yang luar biasa.” timpal papa.


Yah, aku bisa mengerti perasaan orang tuaku saat ini. Menjalani pernikahan tanpa dikaruniai seorang anak selama lima tahun, bukanlah hal mudah. Apa lagi mama pernah keguguran dua kali dan sempat dirawat di rumah sakit selama seminggu karena mengalami trauma berat pasca keguguran. Tapi orang tuaku tidak menyerah dan terus berusaha sampai akhirnya Tuhan memberikan momongan, bukan cuma satu tapi dua sekaligus, yaitu aku dan Ren. Mama sering mengatakan betapa bersyukurnya mereka karena memiliki anak-anak seperti kami.


Harusnya Ren juga seperti itu, tidak menyerah hanya karena B minus!


“Apa mama bicara sama Ren aja ya sekarang?”


“Menurut papa, jangan sekarang...nanti aja kalau Ren udah merasa lebih baik. Sekarang kita biarkan dulu.” ucap papa. Aku mengangguk menyetujui perkataan papa.


Melihat kedua orang tuaku seperti ini, aku merasa sangat beruntung dan bersyukur karena Tuhan memberikan orang tua yang hebat. Orang tua yang sangat mengasihi dan menyayangi kami.


Aku naik ke kamarku dan berhenti di depan pintu kamar Ren yang tertutup. Biasanya Ren selalu membuka pintu kamarnya sedikit kalau dia sedang belajar di jam-jam seperti ini. Sangat jelas dia sedang tidak ingin diganggu, atau mungkin sekarang dia sedang menangis.


Memikirkan hal itu, aku jadi teringat kejadian saat pulang tadi. Ren menangis di punggungku. Sebenarnya aku ingin sekali mengatakan sesuatu, apa pun itu untuk menghiburnya. Tapi aku yakin itu akan memperburuk keadaan. Jadi sepanjang jalan aku hanya membiarkannya menangis, meluapkan emosinya sampai dia puas.

__ADS_1


***


Pagi ini aku sudah menunggu Ren di parkiran bersama Pak Alif. Bukan hal gampang karena aku harus memasang alarm dengan volume maksimal untuk bangun tepat waktu. Walau dari tadi sudah tidak terhitung berapa kali aku menguap.


“Tumben Mas Rex bangunnya gak telat?” tanya Pak Alif yang sedang membersihkan kaca spion.


“Ah, iya Pak. Rajin nya lagi kumat.” candaku. Pak Alif hanya tersenyum geli.


Oke, biar aku beritahu alasan yang sebenarnya. Sudah dua hari sikap Ren masih saja seperti itu. Walau pun mama sudah menasihatinya tapi ternyata dia masih mengunci diri di kamar. Membuat mama dan papa jadi khawatir.


Maksudku, ayolah...mendapat nilai B minus bukan berarti kiamat, kan? Aku saja yang sering dapat nilai C bahkan C minus, tetap santai dan masih tetap menjadi idola cewek-cewek. Menurutku diusia remaja seperti ini kita harusnya menikmati bukan malah stres memikirkan nilai. Dapat nilai B minus saja Ren seperti ini apa lagi dapat nilai C? Bisa-bisa dia masuk rumah sakit jiwa. Jadi aku bermaksud untuk bicara padanya agar tidak membuat orang tua kami khawatir.


Tak lama kemudian Ren muncul dan berjalan ke arah kami. Aku membukakan pintu untuknya tapi dengan tidak peduli Ren malah membuka pintu satunya. Pak Alif hanya menatapku sambil menggidikkan bahu kemudian masuk ke kemudi. Ya sudahlah, aku pun masuk ke mobil. Aku melirik sekilas ke arah Ren, lututnya terpasang plaster.


“Hmm...Ren,” kataku. Ren menoleh ke arahku sekilas kemudian membuang pandangannya kembali.


“Apa?” jawabnya.


“Luka kamu gimana?” Diam sejenak. Sial! Kurasa ini bukan waktu yang tepat untuk bicara.


Aha! Ini kesempatanku!


“Oh...Ren, bisa gak kamu itu jangan ngunci diri terus di kamar?” kataku. Ren menatapku sambil mengerutkan dahi.


“Maksud kamu apaan sih Rex?”


“Maksudku, sikap kamu itu bikin mama kuatir. Kamu gak kasian apa sama mama?” Ren membuka mulutnya tapi dia menutupnya lagi. Kurasa perkataanku barusan tentang mama mengena di hatinya. Lalu Ren kembali membuang muka, memandang ke jendela mobil.


“Ya udahlah, Ren. Jangan terlalu di pikirin,” sambungku.


“Kamu gak ngerti sih Rex, gimana rasanya jadi aku. Gimana nanti aku bisa ke Oxford kalau ada riwayat nilai B minus.” potong Ren tanpa menoleh sedikit pun.


“Emang penting banget ya Oxford itu?”


“Penting dong, Rex! Itu masa depan aku!” Ren langsing menatapku sambil membelalakan matanya penuh emosi. Aku hanya bisa melongo melihat reaksi Ren. Aku baru sadar, ternyata Ren benar-benar orang ambisius.

__ADS_1


Aku hanya bisa tersenyum kecut. Kami memang kembar, tapi kami juga sangat-sangat berbeda.


“Kenapa senyum?” protes Ren.


“Nggak, aku cuma mau bilang, jangan sampe kamu kehilangan diri kamu sendiri karena sikap ambisius kamu itu. Dan tolong, kamu juga harus pikirin gimana perasaan orag tua kita.” jelasku sebelum akhirnya aku juga membuang muka menatap jendela. Entah kenapa aku jadi merasa kesal sekarang! Suasana menjadi hening cukup lama dan terlihat Pak Alif beberapa kali mengawasi kami dari kaca dashboard.


“Maaf...” akhirnya Ren bersuara. Aku langsung menoleh ke arahnya.


“Maaf?” Ren menghela napas dan balik menatapku.


“Iya, maaf kalau aku udah buat kalian kuatir. Aku cuma, entahlah...” sambungnya.


Aku hanya diam, cukup lama, sambil menatap Ren. Melihatku yang tidak merespon apa pun membuat Ren salah tingkah.


“Apaan sih, Rex!”


“Bukan cuma maaf yang harus kamu bilang.” kataku.


“Maksud kamu?” Ren tampak bingung.


“Kamu juga harus bilang makasih.”


“Kok makasih?”


“Kamu nyadar gak Ren, kalau badan kamu itu berat banget! Aku sampe encok gendong kamu. Terus nih ya, punggung aku jadi gatal-gatal kena ingus kamu pas nangis kemaren.” cerocosku.


Ren melongo sambil melotot untuk sesaat.


“Kamu tuh nyebelin banget sih, Rex!” jawabnya dengan nada kesal seperti biasanya. Melihat ekspresi Ren sekarang membuatku tertawa.


“Nah, gitu dong Mbak Ren, jangan sedih-sedih terus...” timpal Pak Alif yang ternyata juga merasa senang karena akhirnya Ren sudah kembali normal.


“Apaan sih Pak Alif.” protesnya lalu kembali memandang ke luar jendela.


Pak Alif tersenyum padaku dari kaca dashboard seakan memberi dukungan padaku. Aku sendiri merasa lega akhirnya Ren mulai kembali seperti sediakala. Walau aku tidak tahu apa dia benar-benar sudah normal seperti biasa, tapi setidaknya aku bisa melihat ekspresi kesalnya lagi. Bagaimana pun juga Ren itu saudra kembarku. Dan sebagai saudara kembar, harus saling peduli, bukan?

__ADS_1


__ADS_2