REX & REN

REX & REN
Masalah Baru


__ADS_3

Untuk pertama kalinya, aku populer di seantero sekolah. Bukan populer dalam artian baik, maksudku, seperti memecahkan rumus Konjektur Goldbach atau memenangkan olimpiade sains dunia. Tapi aku populer sebagai diriku sendiri.


Yaitu sebagai cewek introvert bar bar plus psikopat.


“Sumpah bukan aku yang ngegosip, Ren.” Maya terus berkata.


“Aku tau, May.” kataku lemah.


Oke, mari kita analisa situasi ini, selain aku dan Maya waktu itu, ada Rex dan anggota klub komputer lainnya. Aku percaya Maya bukan tipe cewek ember yang suka bergosip. Rex, walaupun menyebalkan, dia tidak mungkin berbuat sesuatu yang bisa mempermalukanku. Jadi aku bisa menarik kesimpulan, kalau salah satu anggota klub komputer yang membocorkannya. Bisa jadi si Abi!


Tidak bisa lagi kuhitung entah berapa banyak bisik-bisik yang kudengar sepanjang hari.


“Eh, itu Ren si cewek bar bar.”


“Iya, katanya dia nembak Abi tapi ditolak terus si Abi ditendang.”


“Ya, ampun...tega banget. Cinta ditolak kaki bertindak.”


“Biasanya yang kayak gitu gejala-gejala psikopat.”


“Eh, tapi dia kan kembaran si Rex.”


“Iya, aku denger juga Rex berantem gara-gara dia juga.”


“Beda banget ya sama si Rex. Dia bar bar sedangkan Rex sempurna banget.”


Bahkan aku mendengar ada yang menyanyikan lagu dengan lirik konyol yang jelas-jelas menyindirku.


Oke, cukup! Aku hanya berusaha tenang, tidak terpancing provokasi mereka. Meladeni mereka hanya akan membuat masalah baru.


Seakan itu belum cukup buruk, Pak Wahyu memanggilku ke kantor. Yah, tidak butuh waktu lama baginya untuk mengetahui gosip yang beredar. Aku berani bertaruh, semua guru pasti juga mengetahuinya atau bahkan mereka ikut menggosip juga.


“Ren, sebenernya apa yang terjadi? Maksud bapak, semua murid heboh ngomongin kamu.” katanya dengan sangat hati-hati.


Mungkin Pak Wahyu tidak ingin membuatku tertekan atau semacamnya, atau juga mungkin dia takut penyakit psikopatku kambuh dan mengamuk. Entahlah, kuharap dia tidak percaya.


“Enggak ada apa-apa kok, Pak. Cuma salah paham aja,”


“Bapak itu khawatir, kalau kamu jadi gak fokus lagi sama belajar kamu.”


“Tenang aja, Pak. Saya bisa ngatasinnya, kok.” Pak Wahyu hanya mengangguk.


Lautan siswa langsung terbelah begitu aku lewat koridor, seakan-akan aku ini pasien dengan penyakit menular atau semacamnya. Ini pengalaman yang baru sekaligus aneh buatku. Sebelumnya aku bisa dengan leluasa berjalan kemanapun tanpa ada yag melirik atau bahkan mereka malah menganggapku tidak ada. Yah, seperti itulah kehidupanmu di sekolah kalau kamu seorang introvert yang hanya punya satu teman.


Di sisi lain, Maya tampak santai saja menanggapi keadaan dan dengan nyaman berjalan di sampingku. Sesekali dia tampak menatang kalau ada siswa yang memandang kami terlalu intens, seperti pandangan mengancam.


“Eh, mata tuh dijaga. Lihat apaan?” kata Maya sambil menunjuk mata mereka dengan kedua jarinya.

__ADS_1


“May, udah deh jangan diladenin.”


“Gak bisa, Ren. Mereka itu harus dilawan biar gak ngelunjak.” sanggahnya. Kemudian kembali menantang segerombolan murid lain.


“Apaan lihat-lihat? Gak pernah lihat model papan atas jalan, ya?” katanya lagi yang kini dibarengi dengan pose ala Gigi Hadid sambil bertolak pinggang.


Sedangkan aku? Aku hanya ingin semua ini cepat berakhir.


***


Oke, tak peduli seberapa tegar aku menghadapi semua ini, pada akhirnya aku meyerah. Maksudku, siapa sih yang tahan digunjing sepanjang hari, di semua tempat termasuk kantin. Aku tidak tahan lagi!


Dengan tergesa-gesa, aku berjalan menuju aula tempat Rex berlatih. Aku tahu memang tidak seharusnya aku mencurigai Rex, tapi tidak ada salahnya juga kan bertanya padanya.


“Rex!” Suaraku terdengar menggema. Rex yang sedang mendribling bola langsung berhenti. Kemudian dia berlari menghampiriku di ikuti dengan tatapan penasaran teman-temannya.


“Ada apa?” tanyanya sambil mengelap keringat dengan handuk di leher. Bisa kulihat ada bulir-bulir keringat menetes dari rambutnya.


Aku menatapnya sembari melipat tangan di dada.


“Kamu pasti udah denger kan orang-orang gosipin aku?” cecarku. Rex mengangkat sebelah alisnya.


“Gosip? Jadi, kamu jauh-jauh ke sini buat kasih tau tentang gosip?”


Aku menggeleng.


“Soal kamu suka sama Abi?”


“Sssttt...” Aku langsung menekan bibir Rex dengan jariku, sambil mengintip ke arah teman-temannya. Kurasa suara Rex terlalu keras!


Rex menyingkirkan tanganku.


“Terus kenapa kamu nanyak ke aku? Aku tuh gak ada waktu buat ngarang cerita murahan kayak gitu. Harusnya kamu tuh tanyak ke si berengsek itu, atau sama temen-temennya.” bantah Rex.


Aku tahu memang itulah yang harus kulakukan. Tapi masalahnya, aku masih belum siap untuk kembali ke klub komputer, atau bertemu dengan Abi lagi. Bukan aku pengecut, bukan! Hanya saja, aku belum sepenuhnya lupa tentang semua yang terjadi.


“Ya, udah.” katanya. Rex hendak kembali latihan tapi tiba-tiba seseorang memanggil.


“Rex!” Aku dan Rex sama-sama menoleh.


Ada Vania yang berjalan menghampiri kami.


Mau apa dia?


“Hadeh!” keluh Rex.


Kenapa reaksi Rex begitu?

__ADS_1


“Rex, lagi latihan, ya?” sapa Vania dengan senyum secerah mentari.


“Iya.” jawab Rex sekenanya.


“Ngapain kamu ke sini?” tanya Rex.


“Ah, iya. Nih, aku cuma mau kasih ini ke kamu. Pasti kamu laper kan habis latihan.” ucap Vania yang menyodorkan luch box merah pada Rex.


Apa itu? Sushi lagi?


“Eh, ada Ren rupanya, kirain siapa...” ucap Vania sambil mengibaskan rambut.


Lah, dari tadi aku di sini, sebesar ini gak kelihatan? Oh Tuhan...


Aku hanya tersenyum.


“Apaan nih?” Rex tampak mengguncangkan lunc box di tangannya. Jujur, aku juga penasaran sih.


“Itu kroket isi. Ada isi daging, telur puyuh, udang, cumi terus...ada kroket spesial yang di isi dengan cinta.”


Seketika aku terbatuk mendengarnya dan langsung saja mendapat tatapan membunuh dari Vania.


“Eh, denger-denger, kamu ada masalah ya sama anak...” Belum sempat Vania menyelesaikan kata-katanya, Rex menyela.


“Ya, udah. Makasih ya kroketnya. Kalau gitu aku mau latihan lagi, bye.”


Bisa kulihat wajah Vania merah padam kemudian dia berbalik. Tapi sebelum pergi, Vania menatapku sembari menggerutu.


“Kamu gak kasian sama dia?” tanyaku. Rex kembali menatapku bingung.


“Kasian?”


“Dia jelas-jelas suka sama kamu, sampe bawain makanan segala. Tapi kok kamu gitu banget nanggepinnya?” Rex hanya menggidikkan bahu.


“Dia yang terus-terusan kayak gitu,” jawabnya santai seperti itu bukan hal penting dan itu membuatku berang.


“Rex, kamu itu kalau gak suka, jangan kasih harapan.” geramku.


“Siapa yang ngasih harapan?”


“Kamu gak tau gimana rasanya sakit hati karena ditolak sama seseorang yang kamu suka! Itu tuh buat semuanya jadi kacau!” kesalku.


“Kok kamu jadi marah-marah ke aku sih, Ren?” protes Rex dengan nada kesal juga. Bisa kurasakan semua mata tertuju pada kami sekarang.


“Kamu itu sama aja ya kayak Abi!” kesalku kemudian pergi.


Aku tahu seharusnya aku tidak melakukan ini pada Rex, karena memang bukan itu tujuan awalku. Tapi melihat Vania tadi, aku jadi teringat diriku sendiri yang membawa snickerdoodle penuh gula tapi berakhir dengan patah hati. Entahlah...kurasa aku memang benar-benar sudah gila sekarang.

__ADS_1


__ADS_2