REX & REN

REX & REN
Pertama Untuk Segalanya


__ADS_3

Ini pertama kalinya aku duduk di sebelah orang lain saat berkendara. Masksudku, selain Pak Alif, Papa dan terakhir kali Rex. Aku menatap Niko yang sedang menyetir, lalu tiba-tiba dia melirikku dari sudut matanya. Cepat-cepat aku mengalihkan pandanganku ke depan, meremas-remas jemariku untuk meredakan rasa gugup.


“Kenapa, Ren?” tanya Niko.


“Ah, gak apa-apa.” Aku mendapati suaraku sedikit bergetar. Sial! Aku memang payah dalam hal menyembunyikan kegugupanku. Tapi kelihatannya, Niko tidak menyadari hal itu, jadi aku bisa sedikit merasa lega.


“Maaf ya, Ren. Tiba-tiba ngajak kamu jalan, pasti kamu agak kurang nyaman, ya?” katanya lagi.


“Gak apa-apa, kok. Aku juga seneng kok, kamu ngajak aku jalan.” Kali ini suaraku terdengar lebih santai. Bagus.


Niko menghela napas ketika selesai berbelok, kemudian dia berkata, “Jadi, sebelum nonton, gimana kalau kita makan dulu? Soalnya, kalau kita langsung nonton, entar kita kelaperan.”


Aku mengangguk, mengiyakan. Lagi pula aku tidak akan tahan menahan lapar di dalam bioskop selama dua jam.


“Oke,”


***


Kupikir saat Niko bilang akan mengajakku makan, dia akan membawaku ke restoran mewah seperti Le Quartier, Eleven Madison Park atau semacamnya. Layaknya seperti di film-film yang ada adegan makan malam romatisnya.


Tapi ternyata Niko sedang memarkirkan mobilnya di pinggir jalan tepat di depan sebuah warung kaki lima. Dia mematikan mesin lalu keluar dan memutari mobil untuk membukakan pintuku.


“Ayo,” katanya sembari membantuku turun.


Aku mengikuti Niko yang berjalan di depanku menuju warung kaki lima tersebut. Begitu sampai, kami langsung disambut seorang pria paruh baya, seperinya dia adalah pemilik warung.


“Eh, ada Mas Niko. Apa kabar, Mas?” sapa pria itu ramah.


“Baik, Pak. Bapak kabar baik juga, kan?”


Mereka saling menyapa seperti sudah lama kenal, dan sepertinya memang begitu.


“Wah, iya dong, Mas. Tumben, Mas Niko bawa pacarnya.”


Dadaku langsung berdesir mendengar kata ‘pacar’ disebut. Niko menoleh sekilas ke arahku sambil tersenyum.


“Oh, ini temen aku, Pak.”


“Temen apa temen...”


“Hehe...Bapak bisa aja.”


Entah kenapa ada sebersit rasa kecewa di hatiku mendengar jawaban Niko. Maksudku, memang benar kami bukan pacaran, tapi tidak bisakah dia memberi jawaban diplomatis saja. Jawabannya seolah-seolah menempatkanku pada posisi teman satu malam dan besoknya kemungkinan tidak lagi.


“Ya udah, Pak. Kita pesen nasi goreng, dua.”


“Beres!”


Setelah mengatakan itu, Niko menatapku yang dari tadi hanya berdiri diam di sampingnya.


“Gak apa-apa kan Ren, kita makan di sini?” tanyanya. Aku mengangguk.


“Gak apa-apa, kok.”


“Tenang aja, kamu gak bakalan kecewa, kok. Tempatnya emang emperko, tapi soal rasa, nomero uno.”


“Emperko?” Dahiku berkerut, aku tidak mengerti maksudnya.


“Iya. Emperan Toko.” bisiknya yang membuatku langsung tergelak.

__ADS_1


Oke, sepertinya aku akan menarik kembali omonganku tentang Niko yang tidak mempunyai selera humor. Ternyata saat ini dia berhasil membuatku tertawa.


“Ayo, kita duduk.” ajaknya kemudian.


Meski cuma kaki lima, tapi warung ini kelihatan ramai. Tempatnya juga bersih dan nyaman. Kami sempat berdesakkan dengan pengunjung lain saat menuju meja di sudut.


Kami duduk berhadapan dan ini pertama kalinya aku bisa melihat wajah Niko dengan jelas. Memang sih di klub komputer aku juga sering melihatnya. Tapi dengan pakaian casual seperti ini, Niko jadi tampak lebih tampan dan dewasa. Warna mata abu-abu yang aku yakin pasti warisan darah Jermannya, berpadu dengan lekuk rahang tegas di wajahnya, hidung mancung serta bibir yang terlihat penuh. Dibingkai dengan dua alis tebal yang telihat hampir menyatu.


Sesempurna itu.


Sambil menunggu makanan datang, kami pun mengobrol.


“Jadi, gimana persiapan Oxford kamu?”


“Oke. Aku yakin bisa ngelakuinnya.”


“Hmm...itu pilihan yang bagus. Inggris punya banyak tempat-tempat bagus, jadi kamu bisa sambil wisata budaya nanti.”


Mendengar Inggris disebut, aku jadi teringat sesuatu yang sebenarnya sangat ingin kuketahui.


“Oh, ya, denger-denger, kamu pernah tinggal di Jerman, kan?”


Niko mengangguk. “Yup.”


“Aku lahir di Jerman, mama orang Jerman. Tapi cuma sampe sekitar umur 12 tahun, terus kami pindah ke sini karena papa di pindah tugaskan di sini.” lanjutnya. Aku hanya manggut-manggut.


“Kepanjangan inisial S di seragam kamu apa, sih? Yang ditulis cuma Niko S Atmadja.” tanyaku penasaran.


“Oh, itu nama belakang mama, nama Jermannya. S itu Schmidt, karena agak susah diucapkan, ribet juga dituliskan, jadi aku singkat aja.” jawabnya acuh tak acuh.


“Sebenernya nama panjangku itu Nikolai Schmidt Atmadja. Tapi aku lebih suka dipanggil Niko, menurutku lebih keren.” sambungnya lagi sambil nyengir.


Aku hanya tersenyum menanggapinya. Mau Niko atau Nikolai, bagiku keduanya sama-sama keren.


“Wah!” Aku berseru.


“Kenapa, Ren? Panas?” tanya Niko dengan wajah cemas. Bisa kurasakn seluruh pengunjung lain juga tengah menatap ke arah kami.


Aku menggeleng.


“Enak banget!” sahutku akhirnya. Niko tampak tersenyum puas.


“Benerkan, apa kubilang, kamu pasti nggak akan kecewa.” ucapnya.


Aku sendiri sudah melanjutkan makan, tidak mau kehilangan cita rasa nasi goreng ini selagi panas. Mungkin aku berlebihan, tapi aku belum pernah sekali pun dalam hidupku makan nasi goreng seenak ini. Maksudku, buatan mama memang enak, tapi yang ini beda. Aku akan memberi tahu mama nanti, mungkin kapan-kapan kami bisa kemari dan menanyakan resepnya.


***


Setelah memanjakan lidah dan mengenyangkan perut dengan nasi goreng super enak tadi, kami pun sampai di bioskop. Karena mungkin ini malam minggu, jadi bioskop tampak ramai. Niko mengajakku untuk melihat-lihat film apa yang akan kami tonton.


“Gimana kalau kita nonton ini, aja.” Niko menunjuk salah satu poster yang sepertinya itu film action. Karena di posternya pemeran utamanya memegang pistol.


“Boleh,” kataku.


“Hmm...tapi kayaknya ini seru juga.” Sekarang dia menunjuk poster sebelahnya, yang kali ini jelas-jelas film komedi.


“Oke,” anggukku. Tapi Niko menggeleng.


“Nggak, deh. Kayaknya ini lebih bagus.” Sekarang dia menunjuk poster film drama romantis.

__ADS_1


“Yup,” tukasku.


Oke, sejujurnya aku tidak peduli film apa yang akan kami tonton. Mau film sejarah zaman megalitikum sampai pembunuhan gila-gilaan, asal bersama Niko, aku pasti meontonnya.


Jadi, setelah membeli tiket, pop corn dan Pepsi, kami masuk ke ruang bioskop. Menonton kisah romantis bak negeri dongeng antara Constance Wu dan Hendry Golding dengan khusyuk.


***


Sehabis nonton, kami menuju parkiran dan masuk ke mobil, bersiap untuk pulang. Tapi Niko tidak langsung menghidupkan mesin mobilnya. Apa dia belum mau pulang? Memang belum jam sepuluh sih, tapi maksudku, dia mau kemana lagi rupanya?


“Ren, “ panggilnya.


“Ya?” Aku menoleh.


“Kamu kelihatan cantik banget malem ini. Makasih ya, kamu udah mau pergi sama aku.”


Bisa kurasakan darahku panas dan mengalir dengan cepat ke otak. Wajahku pasti semerah tomat sekarang.


“Iya, sama-sama.” lirihku malu-malu.


Ini pertama kalinya ada cowok selain papa yang bilang kalau aku cantik. Rex pasti tidak akan percaya jika mendengar ini, karena selama ini menurutnya aku sama sekali tidak cantik tapi lebih mirip seperti ikan buntal.


“Ren, aku mau ngomong sesuatu.” lanjut Niko. Mata abu-abunya menatapku dengan intens dan otomatis, jantungku berdentam.


“A-apa?”


Niko berdeham beberapa kali.


“Aku suka sama kamu. Kamu mau gak jadi pacar aku?”


Jantungku serasa berhenti berdetak dan otakku kosong. Apa yang barusan dia bilang? Ini bukan mimpi, kan?


“Ah, maaf ya. Kamu, gak perlu jawab sekarang, kok.” Kata Niko yang tampak salah tingkah.


“Kalau kamu perlu waktu, kamu bisa mikirin dulu. Aku gak akan maksa atau...”


Aku tidak tahu apa yang terjadi pada sel-sel otakku. Tapi sebelum Niko menyelesaikan kalimatnya, aku menjawab, “Ya.”


Niko tersenyum sumeringah sementara aku tetap pada posisi semula, diam tak bergerak. Bagai gerakan lambat, kemudian Niko menjulurkan kepalanya dan mencium bibirku.


Aku terpana.


Niko menciumku dengan perlahan, bukan ciuman nafsu tapi sebuah ciuman lembut, seringan kapas.


***


Hal pertama yang kupirkan setelah sampai di kamarku adalah: Bibirku masih mengingat bibirnya.


Hal kedua yang kupikirkan adalah: Aku tidak tahu kenapa aku mengatakan ‘Ya.’


Sejenak ada keraguan yang hinggap di pikiranku. Bagaimana jika aku salah mengambil keputusan dengan mengatakan ‘ya'? Bagaimana jika nantinya aku berakhir dengan patah hati lagi? Apa aku bisa menangani patah hatiku untuk yang kedua kali? Atau, bagaiman jika Niko sama berengseknya seperti Abi?


Aku langsung menggelengkan kepalaku, mengahalu semua rasa ragu.


Mulai sekarang, aku tidak ingin merasa ragu atau takut lagi. Aku ingin berani. Aku ingin memiliki kehidupan remajaku sendiri, termasuk jatuh cinta dengan cowok yang kusukai dan yang menyukaiku.


Kusentuh bibirku dengan jemari. Niko baru saja menciumku. Ciuman pertamaku. Dia menciumku dan aku menyukainya. Aku cukup yakin aku menyukainya. Aku cukup yakin aku menyukai Niko.


Tiba-tiba aku teringat Maya dan Vania. Haruskah kuceritakan soal ciuman ini pada mereka?

__ADS_1


Tidak.


Kurasa, aku berhak untuk menyimpan sesuatu yang berharga untuk menjadi rahasiaku sendiri. Yah, aku akan menyimpan ciuman ini untuk diriku sendiri.


__ADS_2