REX & REN

REX & REN
Everything Just Perfect


__ADS_3

Keesokan harinya Niko sudah menungguku di parkiran. Sekitar jam enam pagi tadi, aku mendapat pesan WA darinya.


Kutunggu nanti di parkiran sekolah.


Aku langsung tersenyum senang dan memandangi layar smartphone-ku sekitar 5 menit lamanya. Ini pertama kalinya ada cowok yang mengirimi aku pesan WA spesial. Rasanya semua yang berhubungan dengan Niko, otomatis membuatku bahagia.


Sebagai balasan aku mengetik,


OK


Dengan tambahan emoji bentuk hati berwarna merah.


Begitu aku turun dari mobil, Niko berjalan menghampiri.


“Hai,” sapanya. “Selamat pagi.”


“Hai, selamat pagi.” balasku.


Niko menatapku sambil tersenyum dan aku balas menatapnya dengan ekspresi malu-malu. Masih terukir jelas semua kejadian malam tadi. Jujur, aku tidak bisa lupa atau lebih tepatnya tidak mau melupakannya. Saat kami larut dalam suasana bahagia, saling mentap dengan cinta, aku hampir melupakan seseorang yang ternyata dari tadi memperhatikan kami.


“Eheemm...” Rex berdeham dengan intonasi yang jelas-jelas menyindir.


“Ah, hai Rex.” sapa Niko begitu kesadaran menyapanya.


“Masih pagi, udah mabok cinta aja.”


“Apaan sih, Rex!” ucapku sambil menatapnya jengkel. Maksudku, dia bisa bersikap menyebalkan sebanyak apa pun padaku, tapi jangan di depan Niko juga!


Seperti biasa, Rex hanya nyengir dan menjulurkan lidahnya untuk mengejekku. Kemudian dia ngeloyor pergi. Kekanak-kanakan sekali, bukan?


“Maaf ya,” kataku pada Niko.


“Gak apa-apa kok, Ren. Nyantai aja.” jawabnya sambil tersenyum.


Oh, nikmat mana lagi yang kudustakan di saat seperti ini. Memiliki seorang pacar sempurna seperti Niko. Yah, sekarang aku bisa dengan bangga mendeklarasikan bahwa aku punya pacar!


“Ayo,” katanya. Lalu dia meraih tanganku dan menggenggamnya.


Karen terkejut, refleks aku membuat gerakan seperti ingin menarik tanganku kembali.


“Kenapa, Ren?” Niko menatapku bingung.


“Ini,” kataku sambil memandang pegangan tangan kami lalu aku menatap Niko lagi. Dia tampak tersenyum mengerti.

__ADS_1


“Kamu malu, ya?” tanyanya. Aku hanya bisa menundukkan pandanganku dengan kombinasi eksperesi antara aneh dan malu.


“Ya udah, kalau kamu gak mau juga gak apa-apa.” ucapnya sembari melepas genggaman tangan kami. Tapi sangat jelas terdengar nada kekecewaan di sana meski pun wajahnya tersenyum.


Tiba-tiba aku punya firasat buruk. Maksudku, ini hari pertama aku dan Niko resmi pacaran dan sekarang dia terdengar sangat kecewa. Aku tidak ingin membuatnya kecewa terlalu dini.


“Bukan.” kataku akhirnya. “Maksudku, kita ada di sekolah, nanti banyak yang lihat.” lanjutku.


“Justru itu. Aku mau semua orang tau, kalau kamu itu pacar aku sekarang.”


Oh, aku seperti meleleh mendengar kata-katanya.


“Lagian, cuma sampe depan kelas aja, kok. Setuju?”


Aku hanya mengangguk. Aku tidak pernah membayangkan begini rasanya diperlakukan sebagai seorang pacar. Niko tersenyum sumeringah lalu dia meraih tanganku kembali dan menggenggamnya selagi kami berjalan bersama menuju sekolah.


Lagi, ini adalah pertama kalinya aku berjalan ke sekolah sambil bergandengan dengan seorang cowok. Jika aku harus menjelaskan bagaimana perasaanku, aku tidak tahu. Ada rasa senang tapi di satu sisi juga takut, malu karena otomatis semua mata tertuju pada kami.


Angelica Santoso sampai melihat kami dua kali untuk memastikan. Angelica adalah salah satu cewek populer, ketua pemandu sorak yang juga tergila-gila pada Rex. Aku tidak yakin apa yang di pikirkan para murid yang melihat kami sekarang. Tapi aku berani bertaruh bahawa sebagian dari mereka merasa iri dengan posisiku yang sedang digandeng cowok keren, setelah Rex tentunya. Rex selalu jadi standart nomor satu untuk penilaian cowok keren di sekolah ini.


Saat tiba di depan kelasku, akhirnya kami melepaskan tangan.


“See you.” katanya dengan senyum manis di wajah.


“See you.” balasku. Kemudian dia pergi, berjalan menuju kelasnya.


“Jadi?” tanyanya. Aku hanya melengos, berpura-pura tidak memerdulikannya menuju mejaku. Tapi aku juga tidak bisa menahan senyuman bahagiaku.


***


Saat makan di kantin, Vania dan Maya tak henti-hentinya mendesakku untuk menceritakan semua yang terjadi antara aku dan Niko.


“Ren, jadi gimana?” kata Maya.


“Ceritain, dong. Kita kan penasaran.” timpal Vania sambil mengetuk-ngetuk meja tidak sabar.


Aku hanya tersenyum, tidak tahu harus mulai dari mana untuk membagikan cerita bahagianku ini. Jadi, aku mulai dengan berdeham terlebih dahulu.


“Jadi, waktu jalan kemaren, kita makan nasi goreng terus nonton.” kataku. Vania dan Maya tampak serius mendengarkan.


“Ah, kita nonton Crazy Rich Asian yang dari novel Kevin Kwan itu.” lanjutku.


“Terus?” celetuk Vania.

__ADS_1


“Yah, abis itu pulang.”


Maya berdecak.


“Ren, kita gak mau tau kalian kemana aja atau ngapain aja. Yang kita mau tau itu, Niko bilang apa? Dia nembak kamu, kan?” katanya dengan ekspresi menggebu-gebu. Vania langsung mengangguk setuju.


“Iya,” jawabku.


“Awww...so sweet. Baru jalan sekali udah jadian aja.” seru Vania girang. Sementara Maya tampak menggeleng seakan tidak percaya.


“Gila, Niko itu orangnya to the point banget. Sumpah ya baru kali ini aku nemuin cowok model begitu. Niko itu cowok langka, satu banding sejuta di dunia.” ucap Maya dengan ekspresi takjub. Tentu saja aku mengangguk setuju karena Niko itu memang the best.


“Aku juga pengen dapet cowok kayak gitu...” celetuk Vania sambil menopang dagu dengan tangannya.


“Jangan ngimpi. Selera kamu aja masih gak jauh-jauh dari Rex.” sahut Maya yang langsung membuat mulut Vania mengerucut.


“Terus, cara dia nembak gimana, Ren?” sambung Maya lagi.


“Oh, di mobil, sebelum pulang. Yah, tiba-tiba aja dia bilang kalau dia suka sama aku. Terus nanya apa aku mau jadi pacarnya.” Kurasa wajahku sedikit merona karena mengingat kejadian itu.


“Yah, kirain pake bunga atau boneka kayak di drama Korea gitu.”


“Kurang romantis, ya?” timpal Vania.


Dahiku lagsung berkerut, tidak setuju dengan pendapat mereka. Memang sih tidak ada elemen romatis seperti bunga atau semacamnya, tapi tetap saja semua itu tidak mengurangi rasa bahagiaku. Maksudku, siapa peduli akan hal-hal romantis jika saat bersamanya saja aku sudah merasa di level tertinggi kebahagiaan.


“Walau pun gak romantis, tapi,”


Aku langsung mengatupkan mulutku. Hampir saja aku keceplosan tentang ciuman itu.


“Tapi apa?” tanya Maya dan Vania yang sedang memandangku penuh harap.


“Tapi....Aku seneng, kok.” kataku akhirnya yang kelihatannya berhasil membuat rasa penasaran mereka lenyap.


***


Pada suatu malam ketika aku sedang belajar seperti biasa, Rex tiba-tiba masuk ke kamarku. Sambil bertolak pinggang, (dia memakai boxer Spiderman warna kuning yang norak) kemudian berkata, “Niko,” jeda sejenak, “lumayan juga.”


“Eh?” kataku sambil mengerutkan dahi.


Nih anak kenapa? Mabok miras oplosan apa gimana?


“Maksudku, aku suka karakternya yang gentleman terus gak banyak cing cong.” lanjutnya lagi dengan ekspresi salah tingkah.

__ADS_1


“Oke. Udah. Aku cuma mau bilang itu aja.” Kemudian Rex langsung buru-buru pergi.


Meskipun rasanya aneh, tapi aku tidak bisa menahan senyumku setelah Rex pergi. Apa ini artiya dia setuju aku pacaran dengan Niko? Kurasa bukan hanya keluargaku atau teman-temanku, bahkan semesta pun sepertinya setuju. Akhirnya setelah beribu-ribu purnama, aku bisa menjalani masa remaja yang indah dan sempurna.


__ADS_2