
Hari paling buruk telah terjadi semalam. Harusnya aku bisa menduganya. Harusnya aku pura-pura sakit dan tinggal di rumah saja semalam untuk menghindarinya. Hasil PR Biologi terakhir semalam dibagikan. Aku dapat B! Dan bukan cuma B, tapi B minus! B minus pertamaku di sekolah. Oh, tidak bahkan B minus pertama sepanjang hidupku!
Aku selalu mendapat nilai A sebelumnya.
A for Ren.
Tapi semalam ketika Bu Sinta membagikan hasil PR Biologi, semua menjadi terasa seperti mimpi buruk. Bu Sinta memandangku sejenak sebelum menyerahkan kertas PR milikku. Aku tidak mengerti apa maksudnya, jadi aku anggap hanya angin lalu. Bagai petir di siang bolong aku benar-benar tidak percaya saat melihat kertasku.
B-
Itu yang tertera dan ditulis dengan tinta merah. Aku langsung menoleh kanan kiri kalau-kalau kertasku ini tertukar. Atau akan ada seseorang yang bicara, ‘Ren, B- itu nilaiku. A yang kupegang ini milikmu.’ Atau Bu Sinta yang akan bilang, ‘Ren, maaf ya, Ibu salah memberi nilai, harusnya nilai mu A. Sini ibu koreksi lagi.’ Tapi ternyata tidak terjadi apa pun. Berarti ini kenyataan, tidak terjadi kesalahan apa pun. Kertas dengan nilai B minus ini memang milikku. Aku terlalu syok, bahkan sampai tidak memperdulikan Maya yang bicara padaku.
Tanganku masih memegang kertas PR itu ketika aku berjalan keluar kelas. Aku berjalan seakan tanpa arah hingga akhirnya aku sampai di bawah pohon beringin depan kelas. Tidak ada siapa pun mengikutiku, termasuk Maya. Aku terus saja memperhatikan kertas yang ada di tanganku. Kugosok nilai B-nya dengan kukuku. Sumpah, aku bersedia kerja rodi selama seribu tahun kalau itu berarti nilaiku bisa berubah menjadi A.
“Lagi ngapain kamu?” tanya seseorang. Tiba-tiba saja Rex sudah ada di belakangku. Aku sangat terkejut melihatnya, dari sekian banyak orang, kenapa harus Rex!
“Nggak ada,” Langsung kusembunyikan kertas itu di belakang punggungku. Demi Tuhan, aku tidak ingin dia tahu. Aku mohon Tuhan jangan sampai Rex tahu.
“Apa itu?” tanyanya ketika melihat reaksiku.
“Bukan apa-apa.” Detik berikutnya kertas itu sudah terlepas dari genggamanku. Aku kalah cepat. Dia mengambil kertas itu!
“Apa ini? Biologi?” tanya Rex dengan sebuah senyum di wajahnya. Jelas-jelas dia terlihat senang dan sedang mengejekku habis-habisan sekarang.
“Kamu dapat B minus? Haha...selamat Ren, kayaknya kamu mulai normal, nih.” katanya sambil tertawa.
Apa-apan itu? Maksudku, dia sudah melihat nilaiku, tapi apa harus dia menyebutkannya sambil tertawa? Apa dia mau seluruh siswa di sekolah ini tahu kalau aku dapat nilai B minus? Sungguh sangat menyebalkan! Dan yang lebih menyebalkan lagi, aku tidak bisa mengatakan apa pun untuk membela diri.
“Apaan, sih?” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.
__ADS_1
“Apa?”
“Ya, aku dapat nilai B minus, puas?” kataku sambil merebut kertas itu dari tangan Rex.
“Ehee...jangan marah-marah dong, Ren. Cuma bercanda, kok.”
“Nggak lucu!”
Kurasakan mataku mulai panas. Tidak, aku tidak boleh menangis di sini. Tidak di depan Rex. Aku langsung meninggalkannya tanpa menoleh saat dia terdengar memanggilku.
Hancur sudah semuanya...Aku mendapat B minus dan Rex mengetahuinya.
***
Sesampainya di rumah, mama jadi histeris saat melihat Rex yang sedang menurunkanku dari gendongannya.
“Ini kenapa...?”
“Nggak apa-apa, Ma.” kataku. Mama terlihat tidak puas dengan jawabanku lalu memandang Rex, mengharap dapat penjelasan. Tapi Rex tidak mengatakan apa pun.
“Ma, Ren ke kamar dulu.”
“Tapi,”
Mama berusaha mencegahku tapi aku langsung bergegas naik ke kamar walau sedikit terpincang-pincang karena nyeri di lututku yang mulai terasa. Aku masih belum siap untuk bicara apa pun saat ini. Tapi aku yakin, meski aku tidak mengatakan apa pun, nanti Rex pasti akan mengoceh, termasuk tentang B minus-ku. Lengkap sudah penderitaanku, bukan hanya Rex yang tahu tapi orang tuaku juga!
***
Setelah mengobati lututku dan turun untuk makan malam dalam diam, aku hanya bisa berbaring di tempat tidur. Ritual belajar yang biasa kulakukan pun terabaikan. Menatap langit-langit sembari memikirkan dimana letak kesalahanku? PR Biologi tentang karangan rekayasa genetika yang aku yakin sudah kukerjakan dengan baik, tapi nyatanya aku dapat B minus. Apa yang salah? Aku yang salah atau Bu Sinta yang salah?
__ADS_1
Tak kunjung menemukan jawabannya, aku hanya bisa memejamkan mata seraya mendesah lelah. Aku melirik ke tasku yang tergeletak di meja belajar. Lembar kertas itu masih di dalam sana, seakan ikut menertawakan keadaanku sekarang. Seolah berkata, ‘Hey, Ren! Aku adalah PR Biologimu dan aku dicap B minus dengan tinta merah!’ Bagaimana bisa ini terjadi padaku? Otakku tidak dapat berhenti memikirkan hal-hal aneh, rasanya mau pecah!
Lama kelamaan aku terjatuh dalam tidur yang resah.
Malam itu aku bermimpi sedang berada di sebuah ruang persidangan. Ada banyak orang yang hadir menatapku tajam. Aku sendiri berada di sebuah mimbar yang aku sadar bahwa aku sedang berada di posisi sebagai terdakwa. Tak lama seseorang masuk dengan memakai jubah hitam merah yang membuatku langsung melotot.
“Rex?”
Rex menempati kursi bak singgahsana yang di mejanya bertuliskan HAKIM.
“Hadirin sekalian, kita berkumpul di sidang terakhir ini untuk menentukan nasib terdakwa. Dia membuat kesalahan rekayasa genetika sehingga mendapat B minus. Itu benar-benar tidak bisa dimaafkan! Kemana semua nilai A-nya pergi? Selama ini dia mengatakan bahwa dia berusaha keras mempertahankan nilai-nilainya. Bahkan dia bilang akan pergi ke Oxford! Tapi dia dapat B minus. Dia benar-benar tidak pantas!”
Sunyi senyap. Semua yang hadir di sana saling berpandangan, menunggu seseorang untuk mengatakan sesuatu. Akhirnya seorang cewek di bangku paling belakang berdiri dan mencicit, “Keberatan! Terdakwa memang sudah bekerja keras mempertahankan nilainya. Dia berusaha keras untuk bisa ke Oxford. Bahkan dia ikut klub komputer.”
Aku tidak kenal siapa dia, tapi aku sangat berterima kasih karena dia mau membelaku. Aku mengangguk-anggukkan kepalaku seraya mengamini perkataannya. Aku memang sangat bekerja keras untuk mempertahankan nilaiku.
Kemudian Rex mengetok palu satu kali sembari menggeleng.
“Di klub komputer dia tidak bisa menyelesaikan program chatbot-nya. Bahkan masih banyak bug di program itu!”
Seketika suara gaduh terdengar dan aku kembali menjadi pusat perhatian mereka dengan ekspresi seakan mereka jijik. Aku hanya bisa menggigit bibir bawahku sembari menahan tangis. Aku sudah hancur, sangat-sangat hancur.
Rex mengetuk palunya sekali lagi dan seketika semua orang terdiam.
“Kami sudah membuat keputusan. Dengan ini kami menyatakan bahwa terdakwa sebenarnya adalah orang yang...”
Dia menghentikan kalimatnya dengan dramatis. Baru sekitar satu abad kemudian dia melanjutkan, “...bodoh.”
Aku terbangun perlahan dari mimpi absurd itu, merasa dingin dan kesepian. Sunyi senyap. Bahkan suara jangkrik pun tidak ada. Aku mencoba bangun dan langsung merasakan nyeri di lututku. Mencoba mengusir ingatan tentang mimpi aneh itu dengan minum air putih yang ada di meja nakas. Sambil meyakinkan diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja, aku kembali berbaring. Menarik selimut dan mulai memejamkan mata, mencoba menghitung seribu domba agar kembali tertidur.
__ADS_1