REX & REN

REX & REN
Oxford


__ADS_3

“Gimana sekolahnya hari ini?” tanya mama yang sedang menyuap nasi ke mulutnya.


“Baik, Ma.” jawabku. Aku mengambil sepotong paha ayam semur yang sudah kuincar dari tadi. Kalau tidak cepat bisa-bisa ludes dilahap Rex.


“Baguslah.”


Ini adalah ritual rutin kami saat makan malam. Mama dan Papa selalu rajin bertanya tentang kegiatan kami seharian. Orang tuaku memang sudah membiasakan diri untuk menjalin komunikasi yang baik dengan anak-anaknya sejak dini. Jadi bisa dibilang mereka tahu perkembangan dan lingkungan sosial kami seperti apa. Tapi kali ini hanya ada mama karena papa masih belum kembali dari perjalanan bisnis luar kotanya.


“Kalau ada masalah, cerita ke mama, ya.”


“Iya, Ma. Tapi Ren gak ada masalah, kok.”


“Aku punya banyak cerita dan masalah, Ma!” seru Rex yang turun dari tangga. Dengan gaya pecicilannya, dia menarik kursi dan langsung menyendok nasi ke piring.


“Oh, paha ayamnya udah disikat duluan ternyata.” komentarnya sambil melirik isi piringku. Aku sih masa bodo!


“Jadi?” tanya mama.


“Kasih selamat dong, Ma. Tim basketku hari ini menang!”


“Wow...”


“Cuma pertandingan persahabatan, Ma.” sanggahku. Rex langsung melirik ke arahku dengan tajam. Seakan-akan ada sinar laser yang akan keluar dari matanya.


“Tapi tetep aja menang!” belanya.


“Mau pertandingan persahabatan atau bukan, mama tetap bangga, kok.” ujar mama. Mendapat dukungan dari mama, Rex langsung menjulurkan lidahnya mengejekku. Andai aku punya kekuatan super, mungkin lidah Rex sudah kupotong-potong dan kujadikan sop.


“Dan Ren juga nonton loh, Ma.”

__ADS_1


“Oh, ya?” ekspresi mama terlihat sangat senang. Mama menatapku dengan mata berbinar. Ayolah, menonton pertandingan Rex bukanlah hal yang luar biasa!


“Cuma bentar, doang. Itu juga Maya yang maksa.” sangkalku.


“Eits...tapi tetep aja nonton, kan?” Aku hanya melengos jengah melihat ekspresi Rex yang jelas-jelas bermaksud membuatku kesal. Ingin sekali rasanya kutimpuk jidatnya pakai paha ayam.


“Itu kemajuan dong, Ren. Mama bangga banget, deh.” ujar mama sambil memberikan tatapan sendu padaku. Melihat ekspresi mama membuat jiwaku yang lemah bin norak ini menjadi ikutan sendu juga.


“Biasa aja kali, Ma. Lagian ditemenin Maya juga.” Mama menggeleng.


“Gak, Ren. Mama seneng banget kamu udah mulai membuka diri buat bersosialisasi. Jadi mama gak kuatir, takut kamu gak bisa bergaul sama banyak orang.”


“Iya, Ma.” Hanya itu jawabanku, karena mendengar perkataan mama tadi membuat hatiku jadi tidak menentu. Aku mengerti kekhawatiran mama, tapi walau pun aku seperti ini, aku merasa baik-baik saja. Temanku di sekolah memang cuma Maya dan buatku itu cukup.


“Denger tuh, Ren. Mama kuatir kalau kamu tuh gak normal.”


“Rex!” tegur mama. Dan orang yang tegur hanya bisa cengengesan. Dalam setiap situasi yang temaram pasti selalu saja ada yang namanya perusak suasana dan Rex adalah orang yang ahli dalam melakukan hal itu. Aku hanya melanjutkan makanku tanpa memperdulikannya. Jika terus meladeninnya bisa-bisa aku mual dan memuntahkan semua makananku. Kemudian aku teringat sesuatu.


“Oh, udah. Tapi, nanti mama bicarain lagi sama papa kalau papa udah pulang, ya.”


“Beneran yah, Ma.” tuntutku.


“Hmm...” gumam mama yang terdengar ragu.


Aku sudah memutuskan bahwa setelah tamat sekolah tahun ini, aku akan melanjutkan kuliah di Oxford, Inggris. Beberapa bulan lalu aku sudah mengatakannya kepada orang tuaku tapi sampai sekarang kelihatannya mereka belum mengizinkanku seratus persen. Mama selalu bilang bahwa papa sedikit keberatan kalau aku harus kuliah di Oxford dengan alasan tidak adanya saudara atau kenalan yang tinggal di sana. Tapi melihat ekspresi mama saat ini, aku jadi tidak yakin entah siapa di antara mereka yang berat melepasku untuk pergi ke Inggris. Aku melirik ke arah Rex dan terlihat dia sedang menyantap makanannya dengan khidmat. Tumben dia tidak menyela omonganku?


***


Setelah selesai makan dan membantu mama mencuci piring, aku langsung pergi naik ke kamarku. Aku tidak tahu dari mana datangnya tapi jelas-jelas Rex mengintil di belakangku. Mungkin dia juga ingin pergi ke kamarnya karena kamar kami ada di lantai yang sama. Aku mencoba tidak memperdulikannya. Begitu sampai di depan kamar, aku langsung membuka pintu dan masuk. Tapi saat aku berbalik hendak menutupnya, Rex sudah bersandar di kusen pintu dengan melipat kedua tangannya ke dada. Mau apa dia?

__ADS_1


“Apaan, sih?” protesku. Rex tidak menjawab apa pun dan hanya menatapku dengan ekspresi serius. Aku mendesah dan mencoba mensugesti alam bawah sadarku untuk bersabar. Aku tidak boleh terpancing emosi karena ini adalah waktu sakralku belajar. Dengan mengabaikan kehadirannya, aku langsung berjalan menuju meja belajar yang letaknya tepat di samping tempat tidurku. Aku membuka buku matematika, mempelajari kembali soal-soal di sekolah tadi. Tapi percuma, sangat susah berkonsentrasi jika Rex masih tetap berdiri di sana! Ya Tuhan, mau apa sih dia?


“Mau kamu apa, sih?” tanyaku dengan nada tidak sabar. Rex tampak berpikir dengan mengelus dagunya.


“Kenapa harus Oxford?” tanyanya kemudian. Punggungku mulai menegang, kenapa tiba-tiba Rex bertanya seperti itu?


“Kenapa nggak?”


“Kenapa harus?”


Aku menggelengkan kepalaku, jengah menghadapi tingkahnya dan kembali menatap buku matematika.


“Mau jadi anggota kerajaan?” lanjutnya lagi.


Tetap tenang Ren, jangan pedulikan dia. Fokus. Ayo fokus!


“Ah, tapi Ren, Pangeran William dan Harry kan udah nikah. Udah punya anak lagi, jadi mana mungkin bisa. Kamu sih lahirnya telat,”


Darah di seluruh tubuhku seakan mendidih mendengar ocehan Rex. Cukup! Aku tidak bisa lagi menahan emosi. Spontan aku mengangkat buku matematikaku dan langsung melemparkannya ke arah Rex. Tapi sialnya, Rex berhasil menghindar. Sambil tertawa dia lantas segera lari dan membuka pintu kamarnya. Tentu saja dia tidak langsung menutupnya, karena sebelum itu Rex berjoget ria menggoyangkan perut dan pinggulnya, mengejekku dengan senyum konyol yang super menyebalkan di wajahnya. Aku hanya bisa memejamkan mataku seraya mendesah lelah.


Ya Tuhan, kuatkanlah iman dan taqwaku menghadapi cobaan-Mu ini. Hanya satu tahun lagi, bantu aku fokus dalam belajar dan meraih hasil sempurna agar bisa pergi ke Oxford. Aku mohon...


***


Aku menggeliat dari tidurku, terasa sangat nyaman. Tadi malam aku bermimpi sedang berada di salah satu ruangan kelas di Oxford. Dalam mimpiku, aku sedang mengikuti salah satu mata kuliah dari seorang dosen berkumis putih. Aku duduk di bangku paling depan dan merasa sangat antusias. Ah, mimpi yang indah dan terlihat sangat nyata. Tapi, tunggu dulu! Jam berapa ini? Seketika aku langsung membuka mata saat kesadaran menyapa. Langsung kuambil jam waker di meja nakas yang ada di samping tempat tidur. Sial! Aku telat bangun!


Tanpa pikir panjang, aku langsung menyingkirkan selimut dan bangun. Bagaimana bisa aku lupa mengatur jam waker semalam? Ini semua gara-gara Rex! Segera aku mengambil handuk dan membuka pintu. Entah karena ikatan batin yang kuat atau memang sengaja, Rex juga terlihat membuka pintunya. Kami saling berpandangan, mencoba menganalisa situasi. Rex tampak memegangi perutnya dengan wajah tegang seperti menahan sakit. Sebelum aku sadar sepenuhnya, Rex sudah berlari secepat kilat menuju kamar mandi.


Tidak!

__ADS_1


“Tidaaak...!” jeritku histeris. Bagaikan gerak slow motion, aku mencoba mengejar dan menghentikan Rex. Tapi tentu saja aku kalah cepat. Rex berhasil mencapai pintu kamar mandi duluan dan langsung menguncinya. Lagi dan lagi...Kenapa Rex benar-benar menyebalkan! Kenapa Tuhan...Kenapa?


__ADS_2