
Ada saatnya kau dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama penting. Tapi kau diharuskan untuk memilih salah satu, tidak bisa memilih keduanya. Setidaknya itulah yang kusadari, aku telah memilih.
Selagi menunggu Rex yang sedang dioperasi, aku duduk terdiam. Kata mama, sewaktu Rex hendak ke kamar mandi, tiba-tiba kondisinya drop. Maka dari itu dokter memutuskan untuk segera melakukan tindakan operasi untuk menghindari pencahnya pembuluh darah lain.
Aku nyaris tidak punya energi untuk membuka mulut. Menghabiskan waktu dengan memikirkan keputusan yang kubuat.
Aku percaya insting seorang ibu itu sangat kuat. Karena mama menghampiri sambil merangkul bahuku.
Dia berkata, “Ren, kamu gak apa-apa?” Aku hanya mengangguk lemah.
“Apa kamu mau balik ke sana? Siapa tau ujiannya belum selesai.”
Kali ini aku menggeleng.
“Gak, Ma.”
Mama hanya menatapku sambil mengelus-elus rambutku.
“Ma,” lirihku.
“Ya?”
“Kalau Ren mutusin gak masuk kuliah apa pun tahun ini, apa boleh Ren tunda sampe tahun depan?”
Mama tampak terkejut tapi kemudian raut wajahnya melembut.
“Tentu boleh, Nak. Gunakan waktu sebanyak yang Ren butuhkan. Ren bisa pergi kuliah kemanapun, papa dan mama akan selalu dukung apapun keputusan Ren. Kalau memang itu yang terbaik buat Ren.” Hening sejenak, kemudian mama melanjutkan.
“Mama sama papa, gak pernah minta kalian buat jadi yang terbaik. Kami hanya ingin kalian menjani hidup dengan baik. Jadi, kalaupun Ren gak masuk kuliah tahun ini, itu sama sekali bukan masalah.” Mama nengambil tanganku dan menggenggamnya erat.
“Kami itu sayang sama kalian, Ren ngerti, kan?”
Aku tersenyum dan mengeratkan genggaman tanganku.
Mendengar kata-kata mama membuat hatiku menghangat. Sepertinya aku tidak harus merutuki atau menyesali pilihan yang sudah kuambil.
Pintu ruang operasi terbuka, dokter dan seorang suster keluar terlebih dahulu. Kami semua sudah berdiri, menunggu kepastian dan penjelasan.
“Dokter, gimana anak saya?” tanya papa.
Dokter itu tampak bernapas lega kemudian tersenyum lembut. Bisa kulihat bulir-bulir keringat di rambutnya. Tanda bahwa dia telah bekerja dan berusaha keras.
“Operasinya berhasil. Kondisinya stabil. Sekarang Rex hanya perlu istirahat untuk pemulihan.”
Papa langsung mengucap syukur sembari mengusap-usap wajahnya. Seolah memnyapu semua rasa takut dan cemas. Mama juga terlihat tidak dapat menahan tangis harunya lalu memelukku erat. Pak Alif juga tampak tersenyum senang.
Dan aku… aku merasa lega. Seakan beban seberat seribu ton di pundakku terangkat begitu saja.
***
Ketika di ruang rawat, aku memandangi Rex yang masih tidur di bawah pengaruh obat bius. Kepalanya masih dibebat perban, tapi wajahnya terlihat tenang dan damai. Seolah Rex sedang berpetualang di dunia mimpi yang indah.
Sembari menggenggam tangannya, aku mencondogkan wajahku ke ketelinganya.
“Rex, terima kasih kamu udah tepati janji. Terima kasih karena kamu masih hidup.” bisikku dengan lembut.
“I love you.” sambungku kemudian mengecup keningnya yang dibalut perban putih.
Dengan sebuah kecupan kulepaskan semua penyesalanku. Dengan sebuah kecupan kurelakan impianku. Tapi hanya untuk sementara karena tahun depan aku akan kembali menjadi seseorang yang lebih baik lagi dan lebih kuat lagi. Aku yakin itu.
***
Saat aku memberitaukan pada Pak Wahyu, tergambar jelas raut kecewa di wajahnya. Tapi dia bisa mengerti alasannku tidak ikut ujian dan berkata, “Setidaknya, semangat dan kerja keras kamu udah membawa kamu sampe sejauh ini. Dan itu tetap menjadi contoh positif buat yang lain. Bapak harap kamu tidak putus asa ya, Ren. Tetep semangat.”
__ADS_1
“Terima kasih, Pak.”
Tentu saja semangatku tidak akan pernah padam. Ini hanya masalah waktu, dan aku bisa mengatasinya.
Respon tak biasa kudapat saat mengabarkan hal ini pada Maya dan Vania. Mereka langsung memelukku dengan simpati. Kami berpelukan layaknya Teletubies untuk beberapa saat. Lalu setelah mereka melepaskan pelukan kami, langsung menceramahiku dengan kata-kata motivasi untuk menyemangati.
Hal baik lainnya dari pilihanku yang memutuskan menunda satu tahun untuk kuliah adalah Niko. Maksudku, aku punya waktu satu tahun lagi untuk bersamanya. Saat aku berencana ingin memberitahunya tentang hal ini, tiba-tiba sebuah pesan masuk dan itu dari Niko. Sepertinya dia bisa membaca pikiranku, ibaratnya kami sudah satu hati. Kubuka pesannya dengan senyum di wajah.
Aku, kamu dan burger sepulang sekolah. Ada yang ingin kubicarakan. Oke?
Lalu aku membalasnya dengan mengetik,
OK!
Jadi, di sinilah kami, duduk di sebuah restoran cepat saji dengan dua nampan burger di meja.
“Ren, ada yang mau aku omongin sama kamu.” kata Niko. Dia hanya memakan separuh burger di nampannya.
“Sama. Aku juga ada sesuatu yang mau aku omongin.”
“Oh, ya? Apa?”
Aku menggeleng sambil tersenyum.
“Kamu duluan aja, deh. Nanti baru aku.” kataku.
“Oh…” gumamnya.
“Jadi?” tanyaku. Niko menunduk sejenak kemudian menatapku sembari duduk tegak.
“Sebenarnya, setelah tamat nanti, aku akan pindah lagi ke Jerman.”
Jantungku mencolos, aku terpaku seperti orang bodoh.
Otakku rasanya tidak dapat lagi mencerna kata-kata yang diucapkan Niko.
Refleks aku berkata, “Itu bohong, kan?”
Niko menatapku penuh simpati dan aku tidak suka itu.
“Ren,”
“Bilang kalau itu bohong. Bilang kalau itu semua gak bener. Kamu cuma bercanda, kan?” kataku dengan napas memburu.
Please…bilang kalau itu semua bohong.
Please…Niko.
Tapi Niko hanya menunduk, lalu berkata, “Maaf, Ren.”
Detik berikutnya aku langsung berdiri dan berjalan keluar dari restoran itu. Tidak peduli dengan nampan burgerku yang masih penuh. Tidak peduli dengan teriakkan Niko di belakangku. Yang aku tahu semua ini sangat menyesakkan dan aku harus pergi dari sini.
“Ren! Tunggu! Dengerin dulu!”
Aku tidak peduli dengan teriakkan Niko. Aku berlalri menuju arah jalan raya.
“Ren! Mau kemana! Biar aku antar!”
Aku tahu dia mengejarku tapi seakan aku beruntung, secara kebetulan ada taksi yang melintas, aku menyetopnya.
“Ren!”
Aku naik taksi itu dan sopir langsung bertanya, “Mau kemana, Mbak?”
__ADS_1
“Jalan aja dulu, Pak.”
Taksi itu melaju dan menjauh meninggalkan Niko di belakangnya.
Setelah memberitahu arah tujuanku, seketika aku menangis terisak. Bisa kulihat beberapa kali sopir itu memperhatikanku dari kaca dashboard, tapi aku tidak peduli.
Kupikir dengan menunda kuliahku satu tahun lagi, aku bisa menghabiskan waktu lebih lama bersamanya. Kupikir selama setahun nanti aku bisa mengubah pikirannya untuk ikut dengaku mendaftar ke Oxford, lalu kami akan bersama lagi saat kuliah. Kupikir kami akan melanjutkan masa-masa pacaran yang indah ini. Kupikir Niko bisa membantuku melewati kesusahan dalam hidup, karena bersamanya semua terasa mudah dan aku sudah terbiasa dengan itu. Kupikir dia akan senang jika aku memberitahukan hal ini padanya.
Tapi pada akhirnya, yang pergi bukan aku. Tapi dia yang akan pergi. Meninggalkanku dengan hati hancur berkeping-keping di sini.
***
“Ren?” panggil mama sambil mengetuk pintu kamarku. Lalu dia memutar kenop dan membukanya.
“Ada telepon dari Niko di bawah. Kamu mau terima, gak?”
Aku tidak menjawab apa pun hanya berbaring menatap langit-langit.
Mama terdengar mendesah.
“Ren, mama gak tau ada masalah apa antara kamu dan Niko. Tapi, diem-dieman gini juga bukan solusi. Yang ada nanti malah nambah masalah baru lagi. Jadi, sekarang kamu aktifkan ponsel kamu terus ngomong secara baik-baik.”
Lagi, aku hanya diam. Mama mendesah sekali lagi, lalu menutup pintu
Beberapa menit setelah mama keluar, aku meraih smartphone-ku. Lalu duduk di tempat tidur sembari mengaktifkannya. Aku memang mematikan ponselku setelah bertemu Niko dua hari lalu. Rasanya aku tidak punya tenaga lagi setelah kejadian itu.
Setelah aktif, yang telihat adalah hampir enam puluh panggilan tak terjawab dan lima belas pesan masuk. Sebagian dari Maya dan Vania dan yang paling banyak tentu saja dari Niko. Dengan sisa-sia tenaga yang ada, aku membuka semua pesan dan membacanya satu demi satu.
***
Hari ini Rex sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Luka bekas operasi di kepalanya sudah lumayan membaik tapi saat ini dia harus memakai tongkat penyangga saat berjalan. Karena kakinya belum sepenuhnya bisa berjalan normal.
Walau sudah diperbolehkan pulang, Rex masih harus tetap menjalani beberapa terapi di rumah sakit. Dokter telah memberikan buku panduan dan jadwal terapi untuknya.
Begitu sampai di rumah, Rex duduk di ruang tamu sambil memandangi foto couple Rilakkuma kami yang terpampang nyata di dinding. Aku menghampirinya lalu duduk di sampingnya, ikut memandangi foto konyol kami. Di foto itu, aku tersenyum lebar dan Rex menampilkan senyum terpaksa.
“Kalau kamu mau, aku bisa minta mama buat nurunin foto itu.” kataku.
Rex menggeleng tanpa menoleh.
“Nggak, Ren. Foto ini bisa jadi artefak sejarah berharga kalau kita udah tua nanti.”
Aku langsung tersenyum.
“Tadi Iqbal telepon. Katanya kami kalah dengan skor tipis, 90-91.” Aku tidak merespon apa pun karena aku tahu Rex masih akan melanjutkan.
“Mereka kalah pasti karena aku gak ikut main.” lanjutnya. Yah, benar. Kompetisi basket SMA tingkat nasional memang sudah dimulai dan Rex terpaksa harus mengubur impiannya untuk ikut karena kecelakaan itu.
“Rex,” panggilku yang akhirnya membuat Rex menoleh.
“Kamu baik-baik aja?" Rex mendengus sambil tersenyum.
“Kenapa kamu nanya gitu?” katanya.
Aku mengangkat bahu.
“Karena kamu gak bisa ikut kompetisi basket nasional.” kataku.
Kali ini Rex yang mengankat bahunya.
“Ini gak jauh lebih buruk dari Oxford, kan?” balasnya.
Kami yang saling mentap serius, seketika saling menertawakan.
__ADS_1
Lalu kami kembali memandang foto konyol ukuran jumbo kami di dinding. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Aku tidak tahu pasti apa yang Rex pikirkan. Tapi saat ini yang ada di pikiranku adalah semua yang telah terjadi mengajarkan kami bagaimana caranya menerima keadaan dan bersikap lebih dewasa.