
Setelah bergelut dengan kertas dan pena, akhirnya aku berhasil. Meski harus mengorbankan puluhan lembar kertas karena salah berulang kali, tapi aku bisa menyelesaikannya. Aku berusaha menulis surat yang mudah dipahami dan tidak terkesan berlebihan. Surat yang bisa menggambarkan perasaanku tanpa terdengar memalukan. Dan jujur itu sangat sulit. Bahkan menulis selembar surat cinta lebih sulit dari mengerjakan seratus lembar essai sains. Rasanya aku seperti memaksa setengah milyar sel-sel otakku untuk bekerja lebih keras.
Sesudahnya aku melipat surat itu dan segera menelepon Maya untuk memberitahukan keberhasilanku. Mendengar hal itu dia sangat kegirangan dan memberi saran lainnya.
“Ren, suratnya jangan lupa dikasih parfum. Biar wanginya nempel.”
Untuk saran Maya yang satu ini aku tidak berpikir dua kali untuk menolaknya. Membayangkan sebuah kertas dengan wangi menyengat, tanpa sadar membuatku bergidik.
EW! itu sangat norak.
Tadinya aku tidak yakin akan benar-benar memberikan surat ini pada Abi. Bahkan aku hampir memutuskan untuk tidak memberikannya dan menyimpannya untuk diriku sendiri. Tapi entah kenapa sebagian dari diriku menolak gagasan itu. Seperti ada yang berbisik, ‘untuk apa capek-capek nulis kalau akhirnya dia gak akan tau?’ Aku seratus persen setuju akan hal itu. Tapi kemudian terdengar bisikan lainnya, ‘yakin kamu mau kasih ke dia? Yakin dia punya perasaan yang sama kayak kamu? Kalau gak gimana? Pasti kamu malu, kan?’ Aku juga mengamini pemikiran itu. Tapi pada akhirnya aku sendiri yang memutuskan, aku sudah sampai sejauh ini dan aku akan mencoba.
Kemarin setelah pertemuan klub komputer, aku menanyakan pada Abi apakah dia punya waktu karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Abi mengangguk dan berkata iya. Kami menunggu ruangan klub kosong dan saat tinggal kami berdua, aku memberanikan diri mengatakanya.
“Oke, tadi kamu mau ngomongin apa, Ren?” tanya Abi sambil menatapku. Posisi kami seperti biasa, duduk bersebelahan.
Aku berusaha menelan ludah lalu menarik napas untuk menenangkan jantungku yang berdegup kencang. Kemudian aku mengambil tasku dan merogohnya. Perlahan aku mengeluarkan surat yang sudah terlipat rapih itu dan Abi tampak memperhatikanku penuh minat. Aku memberanikan diri menatap Abi.
“Ini...” Aku menyodorkan surat itu padanya. Abi mengerutkan dahinya tampak bingung.
“Apa ini?” tanyanya.
“Su-ra-t.” kata itu seolah sangat sulit keluar dari mulutku. Kurasakan telapak tanganku mulai berkeringat.
“Maksudnya?” tanya Abi lagi, masih tidak mengerti.
“Ini surat buat kamu. Tolong dibaca, ya.” Abi sudah membuka mutnya untuk mengatakan sesuatu tapi akhirnya ia menutupnya kembali. Kenapa? Apa ini artinnya dia tidak suka padaku? Melihatnya dengan ekspresi seperti itu, membuatku ragu dan hampir saja menarik kembali surat di tanganku untuk kumasukan ke dalam tas.
__ADS_1
Sedetik kemudian dia tersenyum sembari mengambil surat itu dari tanganku.
“Baiklah.” ucapnya.
***
Hari ini aku tak henti-hentinya memandang ke arah Abi yang sedang sibuk bersama Rudy di meja reparasi. Mereka terlihat sedang mengutak-atik PC dan sesekali saling adu argumen.
“Komponen yang ini harus diganti.” kata Abi
“Ini masih oke, ini cuma butuh kabel penghubung.” sanggah Rudy.
“Kabelnya udah pas, yang bermasalah itu bagian ini.” kata Abi lagi.
“Ya udah, kita tambahin aja.” timpal Rudy dengan nada ngotot.
Aku tidak tahu seserius apa masalah yang ada pada PC itu, tapi kegundahan yang sedang aku alami sekarang lebih dari serius. Sejak aku memberikan surat itu, Abi tidak pernah menyinggungnya sedikit pun hari ini. Ini sangat tidak adil, karena semalaman aku tidak bisa tidur sibuk memikirkan reaksi Abi ketika membacaya sedangkan dia terlihat baik-baik saja. Atau, apa jangan-jangan dia tidak membacanya? Atau malah membuangnya?
Memang Abi bersikap seperti biasa terhadapku. Dia masih membantu dan menjelaskan sesuatu jika ada hal yang tidak aku mengerti. Tapi hari ini bukan hanya sikap baiknya saja yang kuharapkan, apa lagi setelah aku menyatakan perasaanku melalui surat itu. Aku ingin dia mengatakan, entahlah seperti, ‘Ren, ada waktu gak? Ada yang mau aku omongin.’ Atau, ‘Ren, makasih ya...nanti aku kirim balasannya lewat pos.’ Pokoknya apa saja yang menindikasikan bahwa dia sudah membacanya.
Saat ini pikiranku banyak dijejali dengan spekulasi dan pertanyaan aneh. Dan itu semua menambah kadar kegundahanku. Apa sih yang sebenarnya sedang aku lakukan! Tak kunjung menemukan jawaban, aku jadi merasa kesal sendiri.
“Ngapain, sih?”
“Astaga!” pekikku terkejut saat mendapati seseorang tiba-tiba saja ada di sampingku. Aku menoleh dan mendapati Ferdi sedang memperhatikan layar komputerku.
“Bikin kaget aja, sih!” kesalku.
__ADS_1
“Makanya jangan ngelamun.” semprotnya.
“Siapa yang ngelamun, aku lagi ngerjain programku.” Aku langsung menggeser-geser mouse dengan kasar. Sepertinya mood-ku mulai memburuk. Ferdi langsung tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dengan ekspresi mengejek.
“Ngerjain program apa? Gimana mau selesai coba, kalau dari tadi kamu tuh cuma ngelihatin Abi.” ucapnya sambil menunjuk ke arah meja reparasi. Jadi dari tadi dia memperhatikanku? Kurang kerjaan sekali sih!
“Emang kenapa? Ada masalah?” tanyanya lagi.
“Nggak, kok.” acuhku. Demi Tuhan, saat ini mood-ku sedang buruk dan aku tidak ingin berdebat. Tapi sepertinya Ferdi memang sengaja berniat untuk menjahiliku.
“Eits...jangan bohong....”
“Apaan, sih!”
“Berisik!”
Kami berdua langsung tersentak mendengar suara tersebut. Ferdi dan aku menoleh ke sumber suara itu dan di sana sudah ada Niko yang menatap kami tajam. Dengan ekspresi wajah yang seolah penuh dendam, dia memelototi kami berdua bergantian.
“Kalau kalian mau ngerumpi, sana di luar aja. Jangan di sini, berisik, ganggu!” sambungnya lagi dengan penuh penekanan. Bahkan dua kata terakhir diucapkannya dengan lambat-lambat seakan Niko menegaskan bahwa dia benar-benar tidak suka dengan tingkah kami. Atau mungkin dia memang tidak suka dengan kehadiranku?
“Dia manusia bukan, sih?” bisikku pada Ferdi yang kini pura-pura terlihat sibuk menatap layar komputer di sebelahku yang ternyata dia hanya membuka game.
“Aku juga nggak yakin,” jawab Ferdi sekenanya, lalu dia mulai bermain game kartu soliter.
Aku melirik kembali ke arah Niko yang sudah sibuk kembali dengan komputernya. Kalau di pikir-pikir lagi, sejak pertama aku bergabung di klub ini, dia memang tidak pernah ramah padaku. Tidak, jangankan bersikap ramah, sekadar bertegur sapa pun hampir tidak pernah. Bukannya aku mengharap dia menegurku atau apa, tapi apa harus dia bersikap seperti itu? Sedangkan Rudy yang menyebalkan pun kadang masih mau menyapaku. Aku jadi penasaran apa dia punya pacar? Kalau wajah sih lumayan tapi dengan sikap seperti itu, apa ada cewek yang betah dengannya? Atau bahkan dia tidak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta?
Eh, tapi tunggu dulu. Aku memutar kepala, menatap Abi yang masih terlihat sibuk bersama Rudy. Sepertinya suara Niko tadi tidak mempengaruhinya sama sekali. Seketika perasaan gusar kembali merasukiku, apa Abi belum membaca suratku?
__ADS_1