REX & REN

REX & REN
Kemalangan II


__ADS_3

Begitu sampai di rumah Maya, aku dan Rex langsung turun. Ada tenda yang didirikan di halaman rumahnya dengan bangku-bangku pelayat yang tersusun rapi. Langkahku terhenti, aku merasa gugup. Tapi kemudian kurasakan tangan Rex di punggungku. Aku menatapnya dan dia mengangguk seraya memberiku kekuatan. Oke, di saat-saat seperti ini, Rex memang paling bisa diandalkan.


Kami berjalan melewati beberapa pelayat yang lalu lalang. Ada beberapa orang yang masih duduk sambil bercerita.


“Iya, kasian banget malah anak-anaknya ada yang masih kecil.”


“Pasti keluarganya syok, ya.”


”Kasian...”


Sayup-sayup terdengar percakapan mereka saat kami lewat. Bulu kudukku langsung meremang, yang aku pikirkan hanya bagaimana keadaan Maya sekarang?


Aku dan Rex sampai di ambang pintu, terlihat masih ada beberapa pelayat yang duduk dan mendoakan jenazah.


“Asalamualaikum...” ucap Rex dengan sopan.


“Walaikumsalam...” Maya melihat ke arah kami dan segera menghampiriku.


“Ren...” ucapnya dengan suara serak sembari memelukku.


“Maaf...May. Maafin aku...” kataku yang langsung ikut menangis bersamanya. Kurasakan Maya menggeleng tapi tidak mengatakan apa pun. Untuk beberapa saat kami terus berpelukan, saling berbagi rasa.


Setelah prosesi pemakaman selesai, Maya mengajak kami duduk di teras. Dia memang tidak menangis lagi, tapi matanya masih bengkak.


“Aku pikir kamu gak akan datang, Ren.” ucap Maya.


“Kamu mikir apaan sih, May? Aku pasti datang lah, emang kamu pikir aku sahabat apaan?” kataku. Maya hanya tersenyum, tapi aku tahu hatinya masih bersedih.


“Jadi kamu tau dari mana kalau aku lagi kemalangan?”


“Tuh...” Aku menunjuk ke arah Rex yang terlihat sedang santai menyantap cemilan yang di sediakan ibu Maya beberapa saat lalu. Merasa jadi pusat perhatian, dia hanya nyengir.

__ADS_1


“Iya, dari grup. Anak-anak bilang kalau mereka habis melayat dari rumah kamu. Jadi, ya gitu...” jawab Rex seadanya kemudian melanjutkan makannya lagi. Anak itu benar-benar!


“Ternyata gak sia-sia ya, grup Rexylicious itu. Kayaknya kamu juga harus gabung deh, Ren.”


“Idih...ogah!” sanggahku dengan ekspresi ngeri yang membuat Maya tertawa. Syukurlah, setidaknya aku bisa sedikit menghiburnya.


“Kalau boleh tau, emangnya sakit apa, May?” tanya Rex.


“Bapak kena serangan jantung dan stroke. Terus koma selama beberapa hari, dan akhirnya bapak nyerah...” jelas Maya. Jadi ini alasannya Maya absen dari sekolah tanpa keterangan apa pun.


“Jadi, ya, aku harus bagi tugas sama ibu. Ibu di rumah sakit, aku di rumah ngurusin adik-adik.” lanjutnya.


“Lagian kenapa sih, May. Kamu gak ngasih kabar ke aku? Telepon kamu juga mati.” tanyaku.


“Gimana aku mau kasih tau kamu, Ren. Kamu kelihatannya masih sibuk mikirin nilai B minus itu. Kamu kelihatan stres banget mikirin nilai-nilai kamu.”


Seketika jantungku serasa mencolos, aku seolah jatuh dari ketinggian dan terjerembab ke tanah mendengar jawaban Maya. Apa yang diucapkan Maya memang benar. Tapi aku baru tahu bahwa kebenaran juga bisa sangat menyakitkan.


Tapi disaat dia sedang kesusahan, aku tidak ada untukknya. Jangankan ada untuknya, peka terhadap perasaannya pun tidak. Aku benar-benar sahabat yang buruk! Tanpa sadar air mataku mengalir di pipi.


“Loh Ren, kok kamu nangis?” tanya Maya heran.


“Maafin aku ya, May. Aku emang temen yang egois. Aku gak bisa peka sama keadaan kamu, entah kamu sedih atau lagi kesusahan, aku gak bisa ngerti. Sedangkan kamu, selalu ada dan ngertiin aku. Maaf ya, May...” ucapku terisak sambil terus mengusap air mata dengan punggung tanganku. Maya menggeleng kemudian menggenggam tanganku.


“Nggak, Ren. Kamu itu temen yang baik. Kamu datang ke sini dan bisa melawan introvert kamu itu, aku udah seneng banget, Ren. Jadi jangan pernah mikir kalau kamu itu temen yang buruk. Aku malah bersyukur bisa temenan sama kamu.” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Aku langsung berhambur memeluk Maya dan lagi, kami larut dalam tangis. Bukan tangis sedih, tapi tangis bahagia karena kami tahu betapa berartinya pertemanan yang kami jalin.


“Terus rencana kamu apa, May?” tanyaku setelah melepaskan pelukan Maya. Dia hanya menggidikan bahu.


“Setelah tamat, mungkin aku akan langsung cari kerja, Ren.”


“Loh, terus kamu gak lanjut kuliah?” Aku terkejut dengan jawaban Maya karena dia pernah bilang sangat ingin melanjutkan kuliah di luar kota.

__ADS_1


“Aku punya dua adik yang masih kecil-kecil, Ren. Pastinya mereka butuh biaya buat sekolah. Dan aku juga gak mau biarin ibu nanggung beban sendirian. Lagian, aku ini anak paling besar, ditambah bapak udah gak ada, otomatis aku jadi tulang punggung keluarga.”


Aku terpana dengan ucapan Maya. Seketika banyak hal yang terlintas di pikiranku yang membuatku tidak tahu lagi harus berkata apa.


***


Kami baru pulang menjelang sore. Aku memandang keluar jendela, di atas sana langit sudah berubah warna menjadi jingga. Sepanjang perjalanan aku dan Rex hanya diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


“Kita, mau langsung pulang atau beli makanan dulu?” tanya Rex memecah kesunyian. Tapi aku tidak menjawab apa pun.


“Atau kita bisa nongkrong dulu di cafe. Mama sama papa pasti pulangnya agak maleman...”


“Rex,” potongku tanpa menoleh ke arahnya.


“Ya?”


“Menurut kamu, apa yang terjadi sama Maya, bakalan terjadi juga gak sama kita?” Aku menoleh ke arah Rex dan dia tampak menyandarkan punggung ke belakang. Menghela napas sembari mengendurkan jari-jari tangannya di kemudi.


“Setiap yang bernyawa itu pasti akan ngerasain yang namanya mati, Ren. Itu tuh, sama aja kayak matematika. Gak peduli gimana caranya, jalannya hasilnya pasti. Cuma yang gak kita tau itu, kapan, dimana dan bagaimananya.”


Aku langsung terbayang wajah mama dan papa. Rasanya aku tidak akan sanggup jika harus berada di posisi Maya. Sembari menutup wajahku dengan tangan, aku menggelengkan kepala agar tidak menangis.


“Tapi Maya tegar banget ya, Rex. Dia rela ngelepas impiannya buat kuliah.”


“Maya gak punya pilihan lain, Ren. Mau gak mau, dia harus. Sekarang dia punya tanggung jawab yang lebih besar sama keluarganya. Dia sadar, kalau dia itu gak boleh egois atau sedih berlarut-larut, karena masih ada keluarga yang mesti dia urusin. Itulah gunanya keluarga, suka duka dihadapi bersama. Hidup kan mesti terus berlanjut, Ren.” jelasnya lagi.


“Kalau itu beneran terjadi, kita akan kayak gimana ya, Rex? Aku gak yakin bisa setegar Maya...” kataku lagi.


“Akan gimana...aku juga gak tau...” ucapnya lirih tanpa melihatku. Setelah itu kami kembali terdiam, meresapi batin masing-masing.


Untuk pertama kalinya, aku dan Rex bisa bicara sewajarnya. Tanpa ada perasaan marah atau pun kesal. Hanya ada aku dan Rex, yang bicara dari hati ke hati.

__ADS_1


__ADS_2