REX & REN

REX & REN
Cowok Idaman


__ADS_3

Setelah menginterogasi Maya perihal bagaimana Rex bisa tahu kalau aku ikut klub komputer, membuatku hanya bisa mendesah pasrah. Tadinya Maya sempat berkelit, tapi dia tahu benar aku tidak mudah dibohongi. Saat aku berulang kali protes padanya kenapa dia harus memberitahu Rex, pada akhirnya aku hanya mendapatkan jawaban klasik.


“Aku nggak tega Ren lihat wajah Rex yang glowing itu mohon-mohon.”


Setelahnya Maya memaksa untuk ikut denganku menghadiri pertemuan di klub komputer. Dia bilang semalaman tidak bisa tidur memikirkan tentang ekskul yang kuikuti. Aku heran, kenapa dia harus kepikiran? Jadi anggotanya juga bukan! Awalnya aku menolak idenya, tapi dia bersikeras supaya aku bisa mengenalkannya pada cowok-cowok anggota klub. Dan di sinilah aku, berjalan bersama Maya yang menggandeng tanganku erat.


“Jadi gak sabar deh, Ren. Kira-kira mereka kayak apa, ya?”


“Ya kayak manusialah, May.”


“Maksudnya cakep-cakep gak? Apa cakep nya kayak Rex?”


Hello...please deh Maya, Rex itu biasa aja! Lagi pula kenapa sih harus Rex yang jadi pembanding?


“Udah deh gak usah ngomongin Rex!” kesalku.


“Iya, iya. Sensi banget, sih.”


Mendengar nama Rex disebut aku jadi teringat kembali kejadian waktu makan malam. Mama menghias ruang makan dengan balon sejuta warna dan tulisan selamat yang terlihat sangat konyol. Bukannya aku tidak menghargai, tapi demi Tuhan, aku hanya ikut ekskul bukan menang lomba sains tingkat dunia atau bukan juga memenangkan nobel perdamaian. Dan cengiran di wajah Rex yang seakan tidak bersalah melengkapi semua kekesalanku.


“Aduh, Ren, jantung aku mau copot.” kata Maya sambil memegangi dadanya. Harusnya yang deg-degan itu sekarang aku, apa coba tanggapan cowok-cowok itu tentangku. Membawa orang lain ke sini hanya untuk melihat kadar kegantengan mereka dan bukan untuk bergabung menjadi anggota.


Kami berada di depan pintu, aku mengetuk sejenak sebelum akhirnya membukanya dan masuk. Maya sudah memasang senyuman mautnya dan mengintil di belakangku. Orang yang pertama kali menyambut kami dengan tatapan sinisnya adalah Niko. Tanpa sadar aku langsung menelan ludah.

__ADS_1


“Ren, yang belasteran itu yang namanya Niko? Ya Tuhan, cakep gila,” bisik Maya. Matanya langsung tidak bisa lepas menatap Niko. Andai Maya tahu wajah ganteng Niko sangat berbanding terbalik dengan karakternya.


“Hai, Ren. Baru dateng?” sapa Abi dengan ramah. Melihat Abi di sini, bagaikan melihat oase di tengah gurun pasir.


“Iya.” Abi berderap menghampiriku.


“Ini siapa?” tanyanya sambil menatap Maya.


“Ini temen aku.” jawabku. Abi mengangguk.


“Mau gabung klub komputer juga?”


“Oh, nggak kok. Aku cuma nganterin Ren aja.” Aku melirik ke arah Maya, dia hanya nyengir sambil terus menebar senyum mautnya. Alasan yang klise, faktanya dia yang jelas-jelas maksa untuk ikut!


“Oh, gitu. Oh, ya, aku Abi.”


“Kayak anak kecil aja dianterin.” ledek Rudy yang kini sudah duduk di sebelah Doni dan Ferdi, tentunya sambil bisik-bisik memperhatikan kami. Aku hanya memberi respon, bodoh amat!


“Kenalin juga, itu Rudy, Doni, Ferdi, nah yang main komputer itu Niko.” jelas Abi memperkenalkan anggota yang lain.


“Wah, banyak juga ya anggotanya...” timpal Maya basa-basi.


“Sebenernya masih ada Putra, tapi gak tau tuh dia kemana.” Maya hanya manggut-manggut.

__ADS_1


“Ya udah, kalau gitu enjoy aja di sini.”


“Oke...” Abi lalu pergi untuk mengerjakan programnya. Aku sendiri menarik kursi dan duduk di komputerku. Tidak ketinggalan Maya juga ikut duduk di sebelahku.


“Eh, Ren. Abi itu lumayan juga, ya? Tapi...” bisiknya.


“Tapi?”


“Iya, tapi Niko itu yang paling ganteng. Kalau gini gawat, nih, Rex ada saingannya.” lanjutnya lagi. Aku hanya bisa menggeleng melihat tingkah Maya. Bosan mendengar ocehannya, aku menyalakan komputer dan mengerjakan kembali programku. Maya sendiri masih betah memandang Niko sambil senyum-senyum, yang aku yakin dia pasti juga sedang berkhayal. Niko sendiri, terlihat tidak peduli dan tetap fokus dengan layar komputernya. Andaikan ada gempa, mungkin dia juga tidak akan bergeser dari posisinya. Cowok itu benar-benar...


***


Aku, di sisi lain, tidak semudah itu melupakan kata-kata Maya.


“Eh, Ren. Abi itu lumayan juga, ya?”


Apa sih yang di pikirkan Maya? Tentu saja Abi itu lumayan! Bukan, dia lebih dari lumayan. Bahkan, aku tidak bisa membayangkan seorang pun yang lebih baik dari Abi!


Misalnya, bagaimana dia mengibaskan poninya dari dahi, bagaimana tawanya yang menyenangkan membuatmu ingin ikut tertawa bersamanya, atau bagaimana bahunya yang bidang bergerak di balik seragamnya. Yang paling penting adalah sikap perhatian dan ramahnya bisa membuat hati semua orang meleleh. Abi tidak ada tandingannya, bahkan Rex yang di idolakan semua kaum hawa di sekolah, tidak ada apa-apanya.


Kalau menyangkut urusan cowok, sejarahku tidak panjang. Walau aku seorang introvert, tapi pernah kok ada cowok yang menyukaiku. Mari kita lihat, pertama-tama ada Willy temanku waktu TK. Kami duduk sebangku dan dia sering meminjamkanku crayon warna miliknya. Aku ingat suatu hari Willy pernah mencium pipiku, entah disengaja atau tidak, tapi aku tidak marah, malahan merasa senang. Walau pun kejadian itu waktu TK, tapi tetap saja kan Willy menyukaiku.


Ada lagi Rangga, rumahnya masih di kompkek yang sama denganku. Teman sekelasku waktu kelas lima SD. Aku ingat sekali Rangga sering mentraktirku jajan di kantin, bola-bola kornet ayam yang enak. Rangga juga sering datang bermain di rumahku, tapi Rex si biang kerok selalu saja menjahilinya. Pernah suatu kali Rangga datang membawa sebungkus cookies coklat ke rumahku. Belum sempat kami makan, Rex dengan paksa merebutnya sambil mengatakan bahwa jika Rangga ingin tetap main ke rumahku, dia harus membawa banyak makanan. Kalau tidak dia akan terkena kutukan, muntah belatung saat makan.

__ADS_1


Sejak hari itu, Rangga tidak pernah datang lagi ke rumahku. Lihatlah, bahkan waktu masih kelas lima SD, Rex sudah sangat menyebalkan! Sampai sekarang aku tidak pernah lagi bertegur sapa dengan Rangga. Tapi aku sering melihatnya jalan bareng teman-temannya dengan membawa gitar listrik, mungkin sekarang dia jadi anak band atau apa.


Penggambaranku tentang cowok idaman itu tidak jauh-jauh dari sosok nerd. Serial favoritku adalah The Good Doctor versi Hollywood bukan Korea! Freddie Highmore adalah defenisi cowok keren buatku. Wajahnya terlihat lugu tapi di sisi lain mempunyai aura yang menurutku cerdas. Aku pernah membaca artikel bahwa di kehidupan nyata, Freddie juga seorang introvert, dan itu membuatku merasa terhubung dengannya. Tentu aku sadar, mana mungkin Freddie mengenalku? Mengetahui bahwa ada seorang introvert sepertinya yang bernama Ren bernapas di dunia ini pun, pasti dia tidak tahu. Tapi saat ini yang aku tahu, seorang Saylendra Abimanyu dari klub komputer menyadari keberadaanku dan itu membuatku sangat senang!


__ADS_2