REX & REN

REX & REN
Another Surprises


__ADS_3

Dua minggu belakangan semua berjalan begitu normal hingga aku yakin sudah mendapatkan hidupku kembali. Semua gosip tentangku sudah mereda dan aku bisa nyaman kembali berjalan di koridor tanpa harus dihujani tatapan mencemooh.


Semangatku cukup tinggi hari ini, meski cuaca mendung dan gerimis.


Aku sedang mengantre untuk membeli bakso, dan setelah mendapatkannya, aku langsung bergabung ke meja sudut bersama Maya dan Vania yang sudah menunggu di sana.


“Coba lihat, bagus gak?” kata Vania yang terlihat menyentuh rambutnya, bermaksud untuk memamerkan warna unggu ombre di bagian dalamnya.


“Ganti warna lagi?” komentar Maya. Karena beberapa hari lalu warnanya memang bukan ungu tapi abu-abu terang.


“Iya, imut, kan?”


“Lumayan.”


Kalian pasti bingung, kenapa Vania bisa terdampar di sini bersama kami.


Jadi, beberapa hari setelah kutolak permintaannya untuk jadi mak comblang waktu itu, Vania menemuiku lagi.


“Ren, makasih ya.”


“Makasih apa?”


“Iya, karena kata-kata kamu waktu itu, aku jadi sadar kalau memang gak ada gunanya buang-buang waktu buat orang yang peduli sama kita.”


Nih anak abis kesamber petir apa gimana, tumben bisa mikir bener.


Sejak saat itu Vania jadi sering bergabung bersamaku dan Maya. Berulang kali kami, maksudku aku dan Maya, meyakinkan satu sama lain bahwa Vania bukan teman kami. Tapi, di sisi lain, Vania tampaknya bersikeras bahwa kami bertiga berteman. Dan berteman dengan Vania berarti melibatkan pembicaraan tentang cowok plus membiasakan diri untuk melihat kebiasaannya, mengibaskan rambut.


Tentu saja hal itu tidak liput dari patauan Rex. Karena suatu malam, dia tiba-tiba mendobrak pintu kamarku sambil bertanya.


“Sejak kapan kamu temenan sama Vania?”


“Kami gak deket, cuma temen makan di kantin doang.”


“Apa maksudnya itu?”


“Maksudnya, kami duduk bareng, ngesosipin hal gak penting sambil makan bakso.”


“Kan, ada Maya, kenapa dia mesti gabung juga?”


Aku menutup buku yang kubaca dengan kasar, merasa kesal karena sikap Rex ini sangat mengganggu.


“Mau kamu apa sih sebenernya? Waktu dia ngejer-ngejer, kamu tolak. Terus, sekarang kamu heboh ngurusin ruang lingkup pertemanan dia kayak kebakaran jenggot. Jangan-jangan, kamu mulai suka sama dia, ya?”


Rex terbelalak sambil tertawa yang jelas-jelas terdengar sangat dibuat-buat.


“Gak mungkin!” serunya kemudian berbalik, membanting pintu masuk ke kamarnya.


Begitulah cerita bagaimana aku dan Maya bisa berakhir bersama Vania sekarang.

__ADS_1


***


Di sisi lain, aku masih tetap ikut klub komputer, meskipun sempat kacau. Kadang-kadang, aku juga masih bertemu Abi di sana, kebanyakan secara kebetulan, tapi aku tidak peduli. Tidak mau terus menjadi beban, aku memutuskan untuk mengubur semua kenangan buruk tentang Abi dan bersikap masa bodoh.


Sementara aku dan Abi merentangkan jarak antara kami, aku dan Niko justeru semakin dekat. Maksudku, sebagai teman, bukan sebagai pengganti Abi atau semacamnya. Aku tidak mau mengulangi kisah buruk untuk kedua kali, keledai saja tidak mau jatuh di lubang yang sama, bukan?


Niko banyak membantuku soal komputer, dan percaya atau tidak, kurasa aku benar-benar tertarik mempelajarinya. Tapi tentu saja, belajar formal tetap jadi prioritas utama. Cara Niko menjelaskan dan memberi contoh, sungguh sangat mengasikkan, hampir sama mengasikkannya seperti Pak Wahyu saat menjelaskan rumus Fisika. Dan itu membuatku suka, maksudku, betah.


Selain itu Niko juga berkomitmen akan membantuku mendapat surat rekomendasi dari Pak Surya yang belakangan kuketahui bahwa dia adalah pamannya. Wow...betapa beruntungnya aku!


“Ren, “ panggil Niko.


“Ya?”


Aku menolehkan pandangan dari layar komputer, menatap Niko yang kini juga menatapku dengan raut serius. Niko sedang memperlihatkan program aplikasi start up buatannya padaku.


“Kamu, besok malam, ada waktu, gak?” tanyanya. Keningku langsung berkerut mendengar pertanyaannya. Kenapa dia bertanya seperti itu? Besok malam itu sabtu malam minggu, kurasa jawabannya sudah jelas, itu hari libur dan tentu saja aku banyak waktu. Biasanya aku menghabiskan malam minggu dengan menonton west series, sekarang yang sedang kutonton adalah The Outsider.


“Jelas banyaklah, itukan sabtu, hari libur. Gimana, sih.” jawabku sambil tergelak. Hal sepele seperti itu saja, dia tidak paham. Ternyata anak jenius komputer seperti Niko, punya kelemahan juga.


“Bukan, maksudnya, kamu ada janji gak sama orang lain?” tanyanya lagi.


Apa katanya? Janji sama orang lain? Di hari libur? Memangnya aku ini Rex, yang sering kelayapan bersama teman-temannya dan melakukan hal-hal tidak penting saat libur. Dari pada menyia-nyiakan waktu libur, lebih baik digunakan untuk merilekskan diri setelah penat belajar, misalnya nonton serial favorit sepertiku.


“Ah, tentu aja ada. Aku janjian sama mama buat nonton The Outsider, besok tayang episode terbaru.” candaku. Tapi Niko sama sekali tidak tertawa, wajahnya tetap datar, serius memandangku.


Anak ini sepertinya tidak punya selera humor.


Niko berdeham dan tampak berpikir.


“Kalau gitu, kamu mau gak nonton bareng aku?” ucapnya kemudian.


“Nonton The Outsider?”


Niko menggeleng.


“Bukan. Nonton di bioskop.”


Aku tidak tahu pasti apa yang kupirkan, tapi...


“Iya.” Itulah jawaban yang keluar dari mulutku.


Bagaimana bisa...seseorang seperti Niko mengajakku pergi nonton ke bioskop. Maksudku, ini pertama kalinya, ada seseorang yang memintaku pergi di malam minggu.


Kemudian Niko tersenyum.


Lalu otakku kosong dan jantungku berdebar.


***

__ADS_1


Maya tersedak minuman saat aku memberitahunya.


“Sumpah?” kata Maya sambil melotot. Minumannya langsung di letakkan di atas meja.


“Iya, tapi aku ngerasa itu aneh...”


“Aneh apanya? Itu tuh romantis banget!” timpal Vania yang memang selalu gembira kalau membicarakan tentang cowok.


“Romantis?”


“Iya. Nih, biasanya urutannya, nonton bioskop, nembak, terus jadian deh, hahaha...”


Aku hanya menggeleng melihat tingkah Vania.


“Vania, stop!” sanggahku. Apa maksudnya jadian? Aku tidak berpikir sampai sejauh itu. Maksudku, itu tidak mungkin, kan?


“Kenapa?”


“Itu nggak mungkin.”


“Kenapa enggak?”


“Tapi, Ren...” sanggah Maya yang berhasil membuat aku dan Vania berhenti berdebat dan berfokus padanya.


“Kayaknya Vania ada benernya, deh.” lanjutnya. Aku langsung memutar bola mataku.


“Omongan Vania kamu percaya...” kataku.


Vania sendiri tampak menyunggingkan senyum kemenangan karena akhirnya ada yang sependapat dengannya.


“Sekarang gini, kamu tau gak si Niko ngajak kamu nonton bioskop besok malam, itu artinya apa?”


Aku tidak menjawab tapi tetap menatap Maya dengan intens, sangat ingin mendengar dia lanjut berbicara.


“Itu artinya, kalian itu...” Maya berhenti sejenak, yang pastinya dengan ekspresi dramatis.


“Ngedate!” lanjutnya.


Mulutku langsung menganga, aku tidak percaya dengan apa yang barusan Maya katakan.


“Selamat ya Ren, akhirnya kamu bisa ngedate juga.” ucap Vania tersenyum girang sambil bertepuk tangan seperti singa laut sirkus.


Maya sendiri hanya tersenyum simpul, tapi ada raut puas di wajahnya.


Ada semua dengan mereka?


*Tapi, apa kata Maya tadi, date? Kencan? Niko mengajakku kencan?


Tidak mungkin*...

__ADS_1


__ADS_2