REX & REN

REX & REN
Move On


__ADS_3

Aku terbangun dari tidur, seketika meletakkan telapak tangan di dada, jantungku berdegup kencang. Ternyata aku masih merasakan nyeri akibat patah hati, aku belum bisa sepenuhnya lupa.


Perlahan, sambil memejamkan mata, aku bernapas dari hidung lalu pelan-pelan kukeluarkan dari mulut. Ini salah satu teknik pernapasan untuk membuat tubuh menjadi lebih rileks. Aku pernah melihatnya di channel yoga di youtube.


Aku menggelengkan kepala, tidak bisa begini, aku tidak boleh begini terus. Sampai kapan aku harus merasakan patah hati ini? Maksudku, aku adalah korban yang paling dirugikan di sini. Pertama kali jatuh cinta dan menyatakannya dengan menulis surat yang Abi bilang sangat kuno, absurd dan lebay? Dia tidak tahu aku sangat berusaha keras untuk itu! Bahkan aku membuatkan kue untuknya, tapi semua usahaku itu hanya berujung patah hati.


Tidak bisa begini terus!


Hidupku terlalu berharga untuk disia-siakan meratapi patah hati. Masih banyak hal lain yang harus aku lakukan. Aku punya tujuan dan impian yang lebih besar, Oxford. Bagai mendapat kekuatan super, aku langsung bangkit dari tempat tidur. Berjalan menuju meja rias, untuk mengambil ikat rambut lalu menguncir rambutku ke atas. Yah, aku harus melakukan sesuatu untuk melupakan tragisnya cinta pertamaku.


“Semangat, Ren! Kamu pasti bisa!” kataku sambil menatap cermin. Kemudian aku pun keluar dari kamar dan turun ke bawah.


Aku berjalan ke dapur dan menemukan mama sedang asik memasak untuk makan malam. Mama terlihat sesekali bernyanyi dengan mengenakan celemek renda motif bunga-bunga.


“Ma, ada yang bisa Ren bantu?” aku menawarkan diri.


Mama menoleh dan tampak terkejut sembari menatapku dari atas sampai bawah.


“Tumben, mau bantu. Lagi kumat rajinnya atau gimana,” kata mama. Tapi dia tetap menggeser talenannya ke arahku.


Aku mulai memotong tahu, sementara mama mencuci brokoli di bawah keran. Ada beberapa macam sayuran lain juga di atas meja.


“Apa kita lagi program diet, Ma? Makanannya sayuran semua.” tanyaku. Mama mematikan keran.


“Bukan diet, tapi sekarang kita mulai program hidup sehat. Yang artinya, kita harus makan yang sehat juga, yang banyak mengandung serat. Biar pencernaan lancar.” jelas mama. Aku hanya bergidik ngeri, kurasa lama-kelamaan di dapur mama akan mengubah semua orang di rumah ini jadi vegetarian. Kalau semua jadi vegetarian, apa kabar semur ayam kesukaanku?


“Tapi gak cuma sayur, kok. Ada daging juga yang nanti mau mama buat sate.” lanjutnya. Tanpa sadar aku bernapas lega sambil manggut-manggut.


“Ren, menurut kamu, apa mama kelihatan gendut?”


“Apa?” sahutku sambil mengamatinya.


“Kayaknya enggak deh, Ma.”

__ADS_1


Faktanya, mama memang tidak selangsing dulu, tapi memangnya kenapa? Mama masih terlihat cantik. Bahkan aku tidak melihat banyak wanita yang sudah berumur lebih dari 40 tahun secantik mama. Menurutku, mama itu terlihat awet muda, apa lagi dengan lesung pipinya saat tersenyum.


“Emang papa bilang mama gendut?”


“Bukan, tapi waktu arisan minggu lalu, Bu Ami yang bilang kalau mama itu gendutan,” mama menggerutu.


Bu Ami? Ah, iya pasti yang mama maksud Bu Ami yang rumahnya ada di ujung komplek. Aku pernah bertemu dengannya waktu acara arisan di adakan di rumah kami.


“Hah, harusnya dia ngaca,” kataku. Aku tidak habis pikir bisa-bisanya dia mengatakan mama gendut, padahal ukuran tubuhnya juga melar. Bahkan dua kali lipat dari mama.


“Dia gak sadar apa, Ma? Berat badannya itu mungkin udah hampir sama kayak gajah.” Mama terkikik.


“Ya, ampun...Ren, gitu banget sih ngebandingin sama gajah.”


Aku hanya mendengus. Lalu mama menyodorkan wortel untuk kupotong-potong.


“Jadi, kamu uda baikkan sekarang?” tanya mama dengan hati-hati. Yah, aku tahu pasti apa yang sedang mama bicarakan. Tentu saja, tidak ada satu pun informasi yang luput tentang kami dari mama. Kalau aku tidak mengatakan apa pun, pasti Rex akan berkicau.


“Iya, Ma.” jawabku.


“Kalau udah soal cinta, pasti kita akan ngerasain yang namanya sakit hati, terus nangis dan itu wajar. Apa lagi buat perempuan, yang perasaannya lebih sensitif.” lanjut mama. Sekarang mama terlihat sedang mengisi air di panci.


“Jadi, Ren anggap aja ini buat pengalaman. Jatuh bangun itu biasa, sedih boleh tapi jangan lama-lama. Habis itu kita harus bangkit lagi, hidupkan mesti terus berjalan. Kalau sedih-sedih terus, itu namanya mubazir waktu. Lagian, lebih baik kita merasakan sakit dari pada gak pernah sama sekali, iya, kan?” tukas mama sambil menatapku, tersenyum dengan lesung pipinya. Seketika aku juga jadi ikut tersenyum, kurasa mama punya kekuatan menularkan senyum.


“Oke?” katanya lagi.


“Oke!” jawabku lalu mama mengelus kepalaku dengan lembut.


Jika aku bisa bereinkarnasi di kehidupan selanjutnya, dimana pun aku di tempatkan, aku tidak akan meminta seseorang yang lebih baik lagi untuk jadi ibuku selain mama.


Harusnya semua orang tua di dunia itu seperti mama. Yang selalu membimbing dan tidak kenal lelah menjalin komunikasi yang baik dengan anak-anaknya. Kurasa jika semua orang tua seperti itu, mungkin tidak ada lagi kita jumpai kasus bunuh diri atau depresi yang terjadi karena kurang kasih sayang orang tua. Yah, aku sering melihat berita seperti itu di media sosial.


“Hah, tapi ngomong-ngomong, mama masak sayuran begini, apa Rex suka, ya?” kata mama sambil bertolak pinggang.

__ADS_1


“Tenang aja, Ma. Rex itukan masuk kelompok omnivora, pemakan segalanya.”


“Ah, bener juga, ya.” Kami tertawa bersama.


Bagai mendapat suntikan semangat baru, mood-ku mendadak melonjak. Aku jadi bersemangat lagi. Yah, mungkin aku gagal dalam cinta, tapi bukan berarti aku gagal dalam hidup. Mulai sekarang, aku akan melakukan hal yang seharusnya aku lakukan, menggapai impianku. Tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku pada mama saat ini, yang aku tahu, aku sangat menyayanginya.


***


Begitu sampai di sekolah, aku tahu ada yang salah. Bisik-bisik mengikutiku sepanjang koridor. Banyak yang memandangiku lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan mereka begitu aku menoleh.


Ada apa sih?


Spontan aku langsung memperhatikan diriku sendiri, memeriksa dari ujung sepatu hingga meraba ikatan rambutku. Kurasa semua normal. Tapi kenapa mereka memandangiku seperti itu? Apa yang aneh?


Tak lama kemudian Maya berlari ke arahku.


“Sumpah, aku nggak ngegosip apa pun,” katanya sambil ngos-ngosan.


“Maksudnya apa sih, May?” tanyaku bingung.


“Loh, kamu belum tau?”


Aku menggeleng.


“Emang ada yang aneh sama aku?” kataku sembari menunjuk diri sendiri. Kini giliran Maya yang menggeleng.


“Enggak, gak ada yang salah sama penampilan kamu.”


“Terus?”


Maya menghela napas, lalu memasang wajah sedih. Kemudian dia memberitahuku.


Lalu hanya bisa melongo.

__ADS_1


Sepertinya masalah hidupku belum berakhir.


__ADS_2