
“Rex! Rex!” Sebuah suara memanggilku dan membuatku langsung menoleh. Vania terlihat sedang berlari menghampiriku.
“Kamu baru dateng?” tanyanya basa-basi sembari mengibaskan rambutnya. Demi Tuhan, apa Vania tidak capek terus-terusan mengibaskan rambut? Apa itu semacam kebiasaan atau hobi? Melihat Vania, aku jadi teringat Randy, teman SMP ku waktu kelas delapan yang mempunyai hobi mengupil.
Aku hanya mengangguk sembari tersenyum, kami sedang berjalan beriringan menuju kelas.
“Maaf...” kata Vania tiba-tiba dengan suara lirih.
“Eh, maaf buat apa?” tanyaku kebingungan. Perasaan dari tadi baik aku atau dia tidak melakukan sesuatu hal yang salah. Vania mendesah dan lagi-lagi mengibaskan rambutnya.
“Buat yang tempo hari di depan toilet. Pasti kamu kaget karena tiba-tiba aku ngomong gitu?”
“Oh,” Aku langsung teringat kejadian toilet waktu itu dan seketika aku merinding seakan merasakan dejavu. Apa Vania akan kembali menyatakan perasaannya padaku? Ya Tuhan...tolong cegah dia melakukan itu.
“Tapi kenapa kamu kabur gitu aja sih, Rex?” tanyanya dengan wajah cemberut.
“Ah, maaf...bukannya sengaja, tapi waktu itu aku emang lagi buru-buru, ada urusan.” jawabku seadanya. Sebenarnya memang sengaja, sih.
“Terus, gimana?” Ini dia, sudah kuduga pasti Vania akan membahasnya lagi. Kenapa sih dia gigih sekali?
“Jangan pura-pura gak ngerti sama apa yang aku maksud, karena aku yakin kamu pasti tau.” potongnya sebelum aku sempat membuka mulut untuk menjawab. Sial! Alahasil, aku hanya bisa mengaruk kepalaku yang tidak gatal sambil nyengir. Vania menyipitkan matanya sambil cemberut.
“Kenapa sih, Rex? Apa kamu udah punya pacar?”
“Oh, nggak!” buru-buru aku menjawab sambil menghilangkan tanganku membentuk huruf X.
“Terus, kenapa? Apa jangan-jangan kamu gay?” Aku langsung terbatuk mendengar ucapan Vania.
“Enak, aja! Nggak lah! Aku masih sejuta persen normal.” Apa-apaan si Vania ini, berani-beraninya dia mempunyai pikiran seperti itu. Emang dia pikir aku cowok apaan? Kumpulan cowok tulang rawan?
“Terus?”
“Ya, karena aku males aja.” balasku singkat. Vania terlihat membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tapi dengan cepat aku memotongnya.
“Oke, kelas aku udah sampe. Bye.” Aku berderap masuk ke dalam kelas dan meninggalkan Vania yang aku yakin masih berdiri di sana memandangiku.
Oke, biar aku jelaskan! Pertama, aku masih normal. Kedua, aku memang tidak punya pacar, tapi aku punya alasan tertentu. Jadi, singkirkan pikiran kalian jika mengganggapku tidak punya pacar karena aku gay, seperti yang Vania katakan. Itu tidak benar.
Aku pernah menyukai Risty, seniorku tahun lalu. Kami sempat pacaran sebelum akhirnya dia tamat dan sekarang kuliah. Kalau aku ingat lagi, Risty itu sangat dewasa dan keibuan, itulah yang membuatku suka padanya. Dia tidak hanya bisa mengerti diriku dengan segala tingkahku yang kadang-kadang menyebalkan, setidaknya itu yang sering Ren bilang. Tapi dia bisa membimbingmu, mengkoreksi dan menasihati kalau aku berbuat kesalahan.
Pernah satu kali, aku cekcok dengan temanku saat latihan basket, dia di sana dan melihatnya. Dia tidak marah, hanya tersenyum sambil berkata, “Rex, kamu harus belajar mengontrol emosi. Aku yakin kamu itu orang baik dan pasti bisa lebih baik lagi.” Mengingat hal itu, kadang aku merindukannya.
Sebenarnya aku punya nomornya, aku bisa menelepon kapan saja, tapi...entahlah. Maksudku, sekarang dia kuliah, lingkungannya pasti berbeda dan lagi pula sehari sebelum kelulusannya, kami sepakat untuk mengakhiri hubungan kami.
Jujur melepasnya sangat berat, tapi aku tidak ingin menjadi orang yang egiois karena menahan langkahnya. Terbang lebih tinggi untuk menggapai impiannya.
Terdengar sangat mellow, bukan? Tapi, kurasa sampai detik ini aku masih baik-baik saja. Lagi pula aku tidak akan kekurangan cinta karena aku mendapat banyak cinta dari cewek-cewek para penggemarku. Well, jadi aku hanya perlu menikmatinya.
__ADS_1
***
Jam istirahat aku hendak menuju kantin, tapi tiba-tiba mataku yang sensitif ini melihat suatu penampakan.
Ren!
Ren terlihat sedang berdiri di bawah pohon beringin yang terletak persis di depan kelasnya sambil memperhatikan sesuatu di tangannya. Dia sendirian? Kemana Maya? Aku menghampirinya perlahan, bermaksud untuk mengagetkannya. Tapi ketika aku sampai di belakangnya, aku melihat Ren sedang serius memperhatikan sesuatu.
“Lagi ngapain kamu?” kataku yang membuat Ren langsung berbalik dengan ekspresi terkejut. Wajahnya kelihatan pucat dengan mata melotot. Kenapa dia? Kesurupan?
“Nggak ada,” jawabnya cepat. Spontan dia langsung menyembunyikan sesuatu di balik punggungnya. Hmm...reaksi yang sangat mencurigakan. Seketika jiwa detektifku meronta-ronta.
“Apa itu?” tanyaku penasaran.
“Bukan apa-apa.” Sebelum Ren sempat menghindar, aku dengan cepat mengambil selembar kertas yang di sembunyikannya tadi. Aku berhasil mendapatkannya dan langsung melotot melihat kertas itu.
“Apa ini? Biologi?” tanyaku takjub sambil tersenyum geli. Ren sendiri tampak tidak bisa berbuat apa pun, dia hanya diam seperti patung.
“Kamu dapat B minus? Haha...selamat Ren, kayaknya kamu mulai normal, nih.” kataku yang tidak bisa menahan tawa. Serius? Ren dapat nilai B? Bukan hanya B tapi B minus!
Mulut Ren tampak menganga. Dia terlihat sangat syok sampai tidak bisa berkata apa-apa selama sesaat.
“Apaan, sih!” kesalnya.
“Apa?”
Ren langsung mengambil paksa kertas di tanganku.
“Ehee...jangan marah-marah dong, Ren. Cuma bercanda, kok.”
“Nggak lucu!”
Aku hendak mengatakan sesuatu lagi tapi ketika kulihat mata Ren mulai berkaca-kaca, aku mengurungkannya.
“Ren...” lirihku. Tanpa memperdulikanku, Ren melangkah pergi.
***
Hampir setengah jam aku dan Ren menunggu jemputan Pak Alif, tapi sampai sekarang belum juga datang hingga akhirnya aku mengambil smartphone-ku.
Aku menekan nomor mama dan terdengar suara berdering, Ren sendiri sedang berdiri tak jauh dari tempatku.
“Halo? Ma?” kataku begitu telepon tersambung.
“Kenapa Pak Alif belum datang-datang?” tanyaku.
“Maaf, Rex. Mama lupa kasih tau kalau Pak Alif harus supirin papa ketemu sama klien.” sahut mama.
__ADS_1
“Oh...gitu...”
“Jadi, kalian naik taksi aja, ya. Nanti sampe rumah bayar ongkosnya. Gak apa-apa, kan?” kata mama lagi.
“Ya, udah ma.” Aku memutuskan sambungan telepon dan langsung membuka aplikasi uber.
“Ren, Pak Alif gak bisa jemput. Ini aku lagi pesen uber, kita naik...” kata-kataku terhenti ketika melihat Ren tidak lagi ada di dekatku. Loh, kemana? Ternyata Ren sudah berjalan meninggalkanku menuju gerbang sekolah.
“Ren! Tunggu!” seruku sambil berlari menyusulnya.
Ren tidak menoleh sedikit pun dan kemudian naik ke sebuah angkot. Aku mempercepat lariku dan segera menaiki angkot yang sama. Ren duduk di bangku paling sudut sambil memeluk tas, dia tampak memandang keluar jendela. Aku hanya mendesah lelah, kurasa mood-nya sedang buruk.
***
Setelah kurang lebih setengah jam, kami turun di persimpangan komplek. Aku turun duluan dan segera membayar ongkos.
“Ren, ongkosnya udah aku bayar.” kataku ketika Ren turun. Dia hanya memandang ke arah sopir sejenak kemudian melengos pergi.
Aku berjalan mengikuti Ren di depanku. Kami harus berjalan kaki menuju rumah karena memang tidak ada angkot yang masuk ke area komplek ini. Ren hanya diam, bahkan menoleh pun tidak.
“Ren...” sapaku pelan. Melihat keadaannya sekarang, entah kenapa aku jadi khawatir. Mungkin karena ikatan batin yang kuat sebagai anak kembar. Jadi, apa pun yang Ren rasakan, sedikit banyaknya secara tidak langsung mempengaruhiku.
“Ren, kamu denger aku gak?”
“Apa, sih? Kenapa? Kamu penasaran sama B minus aku? Iya, Rex, aku dapet B minus!” teriaknya begitu menoleh ke arahku.
“Bukan, gitu. Aku cuma...” Ren langsung berbalik dan berjalan dengan langkah cepat.
“Ren! Jalannya pelan-pelan...” ujarku sambil berusaha mengikutinya. Namun tiba-tiba Ren tersandung sesuatu dan terjatuh.
“Ren!” teriakku sambil berlari ke arahnya. Aku memegang bahunya untuk membantunya bangun tapi Ren mendorongku.
“Nggak usah!”
“Tapi lutut kamu itu berdarah!”
“Aku bisa sendiri!”
Tidak ada yang bisa kulakukan untuk melawan keras kepalanya. Aku hanya membiarkannya mencoba bangkit sendiri, kemudian berjalan tertatih-tatih dengan kondisi lutut berdarah dan seragam kotor penuh debu. Kenapa sih dia itu keras kepala sekali!
Aku kembali mengikutinya dari belakang, sementara jalannya mulai melambat. Ren terlihat berhenti kemudian berjongkok dengan kepala tertunduk.
“Ayo, naik.” kataku. Ren menatapku yang sedang berjongkok di depannya.
“Ayo naik ke punggungku, biar aku gendong. Kamu gak akan kuat jalan dengan lutut berdarah kayak gitu.” jelasku. Ren hanya diam.
“Please, Ren.” Hanya itu yang bisa aku katakan untuk membujuknya karena aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Ren hanya diam memandangku tapi akhirnya dia menurutiku. Ren naik ke punggungku dan melingkarkan tangannya padaku. Perlahan aku berdiri dan menggendongnya.
__ADS_1
“Pegangan yang kuat.” kataku. Ren tidak menjawab apa pun, tapi kurasakan tangannya mengerat.
Tak lama kemudian, aku merasakan bahuku basah. Hujan? Sedetik kemudian suara isakan terdengar di telingaku. Ternyata Ren sedang menangis dan tiba-tiba kurasakan kepalanya menekan punggungku.