REX & REN

REX & REN
Rex...


__ADS_3

Kabar kecelakaan Rex langsung menyebar ke sekolah termasuk para penggemarnya yang kata Maya langsung membuat heboh grup Rexylicious. Semua teman-teman Rex datang silih berganti untuk menjenguknya, begitupun kepala sekolah dan para guru. Tapi tentu saja mereka hanya mendapati Rex yang tertidur karena masih belum sadarkan diri.


Seketika kamar rawat Rex penuh dengan bunga dan keranjang-keranjang buah yang di dalamnya terdapat kartu ucapan yang bertuliskan,


CEPAT SEMBUH REX!


STAY STRONG BRO!


Ada juga yang menulis,


WE MISS YOU!


WE LOVE YOU!


Yang sudah bisa ditebak itu pasti dari para fans ceweknya. Tidak dalam keadaan sehat atau pun sakit, ternyata Rex punya penggemar yang loyal. Rex sangat dicintai teman-temannya.


Niko, Maya dan Vania juga datang menjenguk. Mereka juga membawa buah tangan, khusus Vania dia membawa satu box container besar yang berisi kroket dan sushi.


Karena dokter melarang pengunjung berlama-lama di kamar rawat, jadi mereka hanya melihat sebentar. Lalu kami pergi ke kantin rumah sakit untuk minum kopi.


“Yang sabar ya, Ren.” kata Maya. Aku mengangguk lemah.


“Semoga Rex cepat sembuh ya, Ren. Aku bakal doain supaya Rex cepat bangun.” timpal Vania dengan wajah sedih. Dia bilang bagaimanapun Rex pernah jadi cowok nomor satu di hatinya, meski cintanya bertepuk sebelah tangan.


“Tenang aja, Rex pasti sadar nanti.” ucap Niko sambil menepuk lembut bahuku. Aku menatapnya lalu tersenyum. Aku sangat berterima kasih karena saat ini dukungan mereka memang sangat kubutuhkan untuk menguatkanku.


Setelah Niko, Maya dan Vania pamit, aku kembali ke kamar Rex. Mama di sana, duduk di kursi dekat tempat tidur Rex sambil mengelap tangannya dengan handuk dan air hangat. Mama memang tidak menangis lagi, tapi wajah cemasnya masih tergambar jelas. Aku menatap Rex yang masih menutup mata dengan semua alat terpasang di tubuhnya.


Rex…


***


Tiga hari sudah berlalu dan masih belum ada tanda-tanda Rex akan siuman. Sudah tiga hari pula aku dan mama menunggui di rumah sakit. Sekolah memberi despensasi khusus untukku, mereka maklum aku masih dilanda syok karena kembaranku mengalami kecelakaan dan terbaring koma. Sepertinya para guru memahami adanya ikatan batin yang kuat yang dimiliki anak kembar. Hanya saja kepala sekolah berpesan, bahwa aku tidak boleh terlalu lama cuti agar tidak ketinggalan pelajaran.

__ADS_1


Papa juga tiap hari datang berkunjung sekalian membawa keperluan kami seperti pakaian ganti dan makanan dari rumah. Papa juga harus bekerja dan tidak bisa bolos dari kantor seenaknya karena pasti akan berpengaruh ke klien nantinya. Untuk itu dia sebisa mungkin membagi waktu agar bisa tetap memantau Rex.


Pak Alif juga tidak pernah absen datang, kurasa masih ada rasa bersalah di hatinya.


Saat malam, aku dan mama saling bergantian untuk mengecek keadaan Rex. Mulai dari selang infus sampai layar EKG untuk memastikan jantungnya masih stabil. Jadi, jika ada yang tidak beres, kami bisa cepat memangil para medis.


Pagi itu mama bangun duluan dan sedang membuat kopi instan untuk kami berdua. Terlihat ada beberapa bungkus roti, (buah tangan yang dibawa teman Rex saat berkunjung tempo hari), sebagai sarapan kami. Aku melirik ke arah Rex, masih sama.


“Ma,” lirihku. Mama menoleh.


“Udah bangun, Ren?” katanya sambil terseyum. Aku mengangguk.


“Kita sarapan ini dulu, ya. Nanti siang mama akan minta papa buat beli makan. Kamu mau apa, Ren? Ayam semur?” kata mama yang kini tengah membawa nampan sarapan ke sofa.


Aku memandang mama, wajahnya terlihat sangat lelah. Kami semua lelah. Tapi mama terlihat kusut, matanya sedikit cekung dengan lingkaran hitam di sekitarnya. Perpaduan antara kurang tidur dan menangis, tentu saja wajah mama kelihatan kacau.


“Ma,” Aku menyentuh pundaknya.


“Hmm?” Mama menatapku.


Mama menghela napas seraya meundukkan pandangan.


“Kamu bener, Ren. Tapi kamu gak apa-apa di sini sendirian?”


Aku menggeleng mantap.


“Gak, Ma. Ren bisa, kok. Percaya sama Ren. Kalau ada apa-apa, Ren pasti langsung hubungin mama.”


Mama menatapku dengan dahi berkerut, tampak ragu.


Jadi, cepat-cepat aku berkata, “Mama tenang, aja. Oke?” kataku untuk meyakinkannya. Lalu mama mengangguk.


***

__ADS_1


Selepas mama pergi, aku duduk di samping tempat tidur Rex. Kukirik baskom yang berisi air hangat dan handuk yang bisa mama pakai untuk mengelap tubuh Rex. Sepertinya mama lupa untuk mengelap Rex pagi ini, jadi segera saja kuambil. Kuperas handuk itu, hangat air panas masih terasa kemudian pelan-pelan aku mengelap telapak tangan dan jemari Rex satu per satu. Tidak ada respon apa pun, Rex masih diam.


Setelah selesai, aku menyingkirkan baskom itu kemudian menggenggam tangan Rex.


“Rex…” lirihku. “Kamu bisa denger gak? Kalau kamu bisa denger, please… kamu bangun, ya.” Aku tahu Rex pasti tidak bisa mendengarku, tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin mengatakan segala unek-unek di hatiku. Yang selama beberapa hari ini terasa begitu menyesakkan.


“Rex, kamu tahu gak, kamu dapat banyak buah, bunga bahkan Vania buat sushi untuk kamu. Semua temen-temen sekolah mau kamu cepet sembuh.” kataku lagi. Aku menatapnya nanar, matanya masih terpejam.


Tiba-tiba aku ingat kata-kata Rex sepulang melayat dari rumah Maya waktu itu.


“Setiap yang bernyawa itu pasti akan ngerasain yang namanya mati, Ren. Itu tuh, sama aja kayak matematika. Gak peduli gimana caranya, jalannya hasilnya pasti. Cuma yang gak kita tau itu, kapan, dimana dan bagaimananya.”


Dadaku mulai sesak, mataku mulai panas dan aku menggeleng berkali-kali. Tidak, aku tidak mau kehilangan Rex dengan cara seperti ini. Rex tidak boleh pergi dengan cara seperti ini. Masih banyak hal yang harus dia lakukan. Dia masih harus ikut pertandingan basket tingkat nasional, bukan? Terlebih dari itu, aku ingin dia bangun, aku masih ingin melihatnya bersikap menyebalkan dan aku ingin dia menjahiliku seperti biasa.


Aku menggigit bibir bawahku, menahan agar tidak menangis. Tapi sial, air mataku lolos sempurna, menetes hingga membasahi tangan.


Cepat-cepat kuhapus, lalu berkata, “Kalau kamu bangun, aku bakalan bujuk mama buat nurunin foto couple Rilakkuma konyol itu.”


Sekal lagi aku menguap air mata di pipiku.


“Tapi kamu harus bangun, Rex. Kamu udah lama banget tidur tau, gak? Emang kamu gak capek?” kesalku. Merasa putus asa, aku menyusupkan wajahku ke sisi kasurnya sembari menggenggam erat tangan Rex. Aku terisak, menumpahkan segala emosi, rasa kesal dan lelah dalam tetesan air mata. Aku tetap dalam posisi seperti itu cukup lama, karena rasanya tubuhku sangat lelah bahkan sekadar untuk mengangkat kepala.


Di saat aku hampir merasa putus asa, tiba-tiba kurasakan ada yang bergerak di genggaman tanganku. Aku langsung menegakkan punggung dan mengamati tangan Rex.


Jari-jarinya bergerak!


Kutatap wajahnya, kelopak matanya tampak bergerak tak tentu. Lalu aku mengamati layar EKG dan menununjukkan garis-garis yang stabil, itu pertanda detak jantungnya normal. Seketika terdengar suara erangan dari bibir Rex.


“Rex?” panggilku.


Perlahan tapi pasti, matanya terbuka tapi kemudian dipicingkan kembali, kurasa karena silau atau semacamnya.


“Rex! Kamu sadar!”

__ADS_1


Rex masih mengerang.


Dengan gerakkan cepat aku langsung menekan tombol di atas kepalanya, memanggil para medis.


__ADS_2