REX & REN

REX & REN
Inikah Rasanya Cinta?


__ADS_3

Pelajaran fisika berlangsung menyenangkan seperti biasa. Pak Wahyu sedang memberikan contoh soal tentang pembahasan Listrik Arus Bolak Balik di papan tulis. Tidak begitu sulit karena aku sudah belajar tentang itu tadi malam, hanya tinggal mencatat penjelasan tambahan dan semua akan makin sempurna untuk dipahami. Saat ini aku tidak kesulitan dengan pelajarannya, tapi aku kesulitan dengan pikiranku sendiri. Bahkan sebelum pelajaran dimulai, aku sudah sulit berkonsentrasi. Pikiranku melayang-layang, terus mengulang kejadian dua hari lalu di klub komputer.


Dua hari lalu, Abi tampak sibuk membereskan ruang klub komputer dan aku memutuskan untuk membantunya. Sebenarnya Abi tidak meminta bantuanku, tapi begitu aku menawarkan diri dia dengan hati mengiyakannya.


“Ini beneran gak apa-apa, Ren? Kamu kotor-kotoran kayak gini?” tanya Abi yang tengah membereskan salah satu lemari. Lemari itu berisi kabel-kabel dan komponen lain yang tidak aku tahu namanya.


“Nggak masalah, kok. Lagian cuma bersih-bersih aja.” jawabku. Aku mendapat bagian membersihkan debu dengan kemoceng.


“Makasih banget loh Ren kamu udah mau bantuin.” Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Rasanya sangat senang mendengar Abi berkata terima kasih. Aku memang payah dalam membuat program chatbot tapi setidaknya aku bisa berguna dalam hal bersih-bersih. Terlebih selama ini Abi selalu membantuku, setidaknya ini yang bisa kulakukan untuk membalasnya.


“Tapi kenapa cuma kamu yang ngebersihin? Yang lain gak pernah ikut bantu?”


“Mereka pada sibuk sama urusannya masing-masing. Jadi, ya aku gak bisa maksa juga.” Dasar para pemalas! Selaku anggota harusnya mereka juga ikut bertanggungjawab perihal apapun itu yang menyangkut klub komputer, termasuk soal kebersihan. Kalau sudah begini sih namanya senang sama-sama susah sendirian.


“Sebenernya bisa aja sih ruangan ini dibiarin, gak dibersihin juga gak apa-apa. Tapi akunya aja yang gak nyaman kalau lihat ruangan ini kotor. Gimana pun juga kebersihan kan sebagian dari iman.” lanjut Abi yang sekarang tengah memilah-milah komponen untuk di kelompokkan sesuai dengan jenisnya. Tanpa sadar ternyata dari tadi pandangan mataku tidak lepas darinya. Kemoceng yang kupegang pun hanya berputar di situ-situ saja.


Bagaimana mungkin ada orang sebaik dan pengertian seperti Abi? Wajah, sikap dan karakternya semua sangat sempurna. Biasanya tipe-tipe cowok seperti ini hanya ada di dalam komik atau novel. Tapi saat ini ada satu yang terpampang nyata di hadapnku, bahkan aku berkesempatan melihat dan mengobrol berduaan dengannya. Lihat, betapa beruntungnya aku! Kurasa perlahan Abi akan menggantikan Freddie Highmore diurutan teratas definisi cowok idaman dalam list-ku.


“Ren, kamu kenapa?” Abi menoleh dan memandangiku dari atas sampai bawah.


“Ah, nggak apa-apa, kok.” Suaraku terdengar gelagapan. Sial! Ternyata dari tadi aku melamun. Pasti Abi heran melihatku melamun dengan pikiran melantur ke mana-mana. Malunya...


“Ya, ampun...Ren. Maaf, aku lupa!” katanya sambil menepok jidat. Eh? Kenapa?


Abi berderap menuju meja tempat dia meletakkan tasnya dan terlihat merogoh sesuatu di dalamnya. Setelah menemukannya dia kembali menghampiriku.


“Nih, pakai ini. Nanti kamu sakit lagi gara-gara kena debu.” Tanpa permisi, Abi dengan cekatan memakaikan masker ke wajahku. Jarinya dengan lembut menyelipkan tali masker ke telingaku. Aku hanya bisa pasrah, lebih tepatnya membeku di tempatku seperti es batu.


“Aku kelupaan kasih kamu masker tadi.” ujarnya lagi sambil memakai maskernya sendiri.


“Oke, kita lanjut lagi, yuk!” sambungnya dengan mata berbinar. Aku hanya mengangguk dan tersenyum senang di balik maskerku.


Kusarakan jantungku berdegup kencang seperti habis naik rollercoaster. Aku bisa merasakan itu, sensasi naik, turun dan merinding secara bersamaan. Oke, ini sangat aneh! Tanpa sadar aku mengelus-elus dada, menghirup dan membuang napas perlahan untuk menenangkan debaran jantungku.


“Oh, ya Ren. Habis ini kamu mau makan apa? Kamu mau gak aku teraktir makan burger kayak waktu itu?” tanya Abi tanpa mengalihkan pandangan dari kabel yang kini sedang digulungnya. Sedangkan aku dengan tatapan memuja langsung menoleh ke arahnya.


“Oh, oke...” jawabku lirih. Aku katakan pada kalian, lututku rasanya lemas. Ya Tuhan...jika terus seperti ini, bisa-bisa aku terkena serangan jantung!

__ADS_1


***


Begitulah awal mula penyebab pikiranku melayang-layang. Sebenarnya aku sudah mencoba untuk mengenyahkannya, tapi tetap saja tidak bisa. Tidak peduli seberapa rumit rumus fisika yang aku lihat, tapi otakku tetap saja memutar ulang setiap detail kejadian itu. Mungkin aku sudah gila!


Aku sadar, aku tidak bisa menyimpan dan menghadapi situasi ini sendiri. Aku butuh opini lain untuk memastikan apa aku benar-benar gila. Jam istirahat kedua aku memaksa Maya untuk tinggal di kelas, walau pun dia merengek ingin jajan ke kantin. Jadi kami mengambil jalan tengah, membeli jajan lalu memakannya di ruang kelas. Aku menceritakan semua yang terjadi padanya, termasuk kejadian sewaktu acara bersih-bersih dengan Abi waktu itu.


“Apa!” pekiknya. Refleks aku langsung membekap mulutnya karena takut kalau-kalau ada orang lain mendengar, meski pun kenyataannya tidak ada orang lain di kelas selain kami. Maya menyingkirkan tanganku.


“Serius? Itu beneran, Ren?” tanyanya lagi.


“Ya, beneran. Jangan kenceng-kenceng May, nanti ada yang denger!” protesku. Tentu saja Maya tidak peduli.


“Romantis banget sih, Ren! Bikin iri aja.”


“Ro-man-tis? Apaan, sih...” jawabku malu-malu, aku juga tidak mengerti mengapa aku mau. Semua jadi semakin membingungkan.


“Kayaknya, Abi suka deh sama kamu Ren.” kata Maya.


“Hah?” Suaraku terdengar seperti orang bodoh sekarang. Apa sih yang di pikirkan Maya, Abi menyukaiku? Bagaimana bisa? Maksudku, benarkah?


“Masa, iya? Apaan sih May, asal ngomong aja.” Kali ini suaraku terdengar seperti orang yang benar-benar berharap. Aduh! Kenapa sih aku jadi salah tingkah! Maya menggeleng sambil menyedot minumannya.


Padahal aku tahu pengalamannya soal cowok juga tidak jauh beda denganku. Maya pernah pacaran dengan Rashid waktu kelas sepuluh dan di kelas sebelas dia berhubungan dengan anak klub sepak bola bernama Gading, tapi hanya bertahan tiga bulan saja. Waktu itu Maya bilang mereka putus karena Gading selingkuh dengan anak kelas sepuluh bernama Intan. Tapi bagaimana pun juga Maya lebih beruntung dari pada aku karena sempat mengalami yang namanya pacaran.


“Jadi bisa dipastikan, kalau Abi itu emang suka sama kamu, Ren.” sambungnya. Benarkah?


“Terus, gimana sama teori aku tadi?” tanyaku. Maya mengerutkan dahi tampak bingung.


“Teori yang mana?”


“Teori kalau aku kayaknya udah gila, gak bisa konsentrasi karena kepikiran terus sama kejadian itu.” kataku gemas. Maya langsung tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya. Menyebalkan sekali! Memangnya apa sih yang lucu?


“May!” hardikku. Maya membekap mulut, mencoba mengontrol tawanya.


“Itu bukan karena kamu gila, Ren. Itu karena kamu itu lagi jatuh cinta.” jawabnya dengan senyum konyol di wajahnya. Apa? Apa yang barusan Maya bilang, aku jatuh cinta? Aku? Nggak mungkin!


“Apaan sih, May!”

__ADS_1


“Ren, masa sih kamu itu gak bisa menarik kesimpulan dari semua pembicaraan kita tadi? Kamu itu jelas-jelas lagi jatuh cinta sama Abi. Dan jatuh cinta itu buat orang jadi kepikiran terus sama orang yang disuka, pesis kayak kamu sekarang ini.”


Aku hanya diam tidak merespon apa pun dan langsung membuang muka tidak berani menatap Maya. Kepalaku dipenuhi dengan banyak hal saat ini. Entahlah, aku seperti tidak bisa berpikir.


“Ciee...yang lagi jatuh cinta.” goda Maya.


“Apaan sih, May!” protesku. Maya hanya cekikikan melihatku.


***


Bahkan saat pulang ke rumah pun, aku tidak berhenti memikirkan semua pembicaraanku dengan Maya. Sudah hampir satu jam aku duduk di meja belajarku dengan buku terbuka, tapi tetap saja aku tidak bisa berkonsentrasi.


“Itu bukan karena kau gila, Ren. Itu karena kamu lagi jatuh cinta.”


Kata-kata Maya itu terus terniang di otakku. Aku sendiri juga tidak bisa menganalisa dengan pasti, apa benar aku jatuh cinta?


Suara pukulan drum terdengar nyaring dari kamar Rex. Papa terlalu baik hati dengan membuang-buang uang untuk menuruti keinginan Rex yang tidak penting itu. Tapi mungkin saja aku bisa...


Aku berjalan menghampiri kamar Rex dan membuka pintunya. Rex langsung menghentikan pukulan drum nya dengan tangan yang masih memegang stick terlihat melayang di udara saat melihatku.


“Wahai Yang Mulia Ratu Reny Aulia Chandra, ada apa gerangan Yang Mulia datang ke kamar rakyat jelata seperti hamba ini...” ucapnya dengan mimik wajah konyol. Aku berderap menuju tempat tidurnya untuk mengambil bantal, lalu melemparkannya ke arah Rex. Lagi-lagi Rex berhasil menghindar. Menyebalkan sekali!


“Apaan, sih?” protesnya.


“Suara drum kamu berisik!” jawabku asal.


“Yang namanya main drum itu emang berisik. Kalau mau tenang ya main gundu. Udah sana, ganggu aja.” Rex tampak bersiap-siap kembali memukul drum nya.


“Rex,” cegahku.


“Apa lagi?”


“Ka-mu...gimana kamu tau kalau kamu itu suka sama seseorang?” tanyaku ragu-ragu.


Rex mengerutkan dahinya.


“Hah?” katanya kemudian.

__ADS_1


“Ah, nggak apa-apa. Udah, lupain aja. Gak penting!” kataku sambil berbalik keluar dan menutup pintunya sembari merutuki diri sendiri. Apa sih yang kupikirkan sampai mempunyai ide untuk bertanya soal ini ke Rex? Sudah jelas, dia hanya bisa bersikap menyebalkan dan membuatku kesal.


__ADS_2