
Bukan rahasia lagi kalau yang namanya gosip itu pasti cepat menyebar. Seperti halnya berita tentang aku dan Niko yang yang dengan cepat diketahui seluruh penghuni sekolah termasuk anggota klub komputer. Tentu saja tidak terkecuali Abi.
Jadi, saat hari pertama aku dan Niko masuk ke ruang komputer dengan menyandang status pacaran, orang pertama yang menyambut adalah Fredi.
“Kok bisa?” katanya.
“Kenapa nggak?” jawabku yang langsung membuatnya bergidik.
Rudy dan Doni hanya menatap kami. Terutama Rudy yang terlihat begitu intens memperhatikan, lebih tepatnya padaku. Sedangkan Abi, dia langsung memilih keluar saat aku dan Niko masuk tadi. Yah, bodoh amat, aku tidak ambil pusing soal cowok satu itu.
“Serius, Nik. Kok bisa? Kamu pake pelet apa Ren?” tanya Ferdi yang ternyata masih penasaran. Kini dia sudah duduk di samping Niko.
“Jaran Goyang.” jawabku yang membuat Niko terkikik. Memangnya dia pikir aku ini cewek macam apa sampai harus menggunakan pelet? Apa aku ini kelihatan tidak punya daya pikat sama sekali untuk membuat cowok jatuh cinta padaku?
“Idih...apaan.” kesalnya.
“Gak ada pelet-peletan. Memang aku yang naksir Ren dari pertama masuk ke sini.” kata Niko akhirnya yang membuat Ferdi manggut-manggut.
Yah, Niko pernah bilang padaku bahwa dia sudah menyukaiku sejak hari pertama aku gabung di klub komputer. Di balik sikap cuek dan sinisnya, Niko menutupi perasaannya, terlebih saat dia tahu kalau aku suka pada Abi. Sehingga dia mencoba untuk mundur teratur karena tidak mau merusak hubungan orang lain. Tapi begitu dia melihat kejadian tendangan kaki mautku waktu itu, dia merasa kesempatan masih terbuka lebar. Untuk itu, Niko bilang dia tidak mau membuang-buang waktu lagi untuk mendapatkanku. Jadi, dia bergerak cepat, mengambil inisiatif untuk menyatakan perasaannya. Lihatkan, betapa beruntungnya aku?
***
Dua bulan bersama Niko, aku jadi tahu beberpa hal unik tentangnya. Misalnya, saat kami makan burger, Niko pasti selalu menyingkirkan daun seladanya. Dia juga tidak suka saus pedas dan hanya menambahkan mayones di atas lembaran keju.
Saat aku bertanya, “Kok, dibuang seladanya? Kan, enak.”
“Dari kecil aku emang gak suka.”
“Burger tanpa saos rasanya pasti aneh.” kataku lagi.
“Aku gak tahan pedes. Kayaknya lidahku lebih ikut Eropa ketimbang Asia.”
Niko juga tidak suka orang yang bersendawa di dekatnya. Tidak suka ketika ada orang yang mengambil sesuatu tapi setelah selesai dipakai tidak diletakkan pada tempatnya semula. Pernah satu kali Ferdi mengambil solder dari meja reparasi tapi setelah menggunakannnya, solder itu diletakkan begitu saja di lantai.
Benar saja, Niko langsung menegurnya.
“Fer, itu solder dibailikin lagi ke tempatnya.”
__ADS_1
“Iya, nanti.” jawab Ferdi santai.
“Ferdi!”
“Hmm...iya nanti.” Masih santai.
Seketika Niko berderap ke arahnya dengan wajah marah.
“Kamu denger gak, sih? Itu solder dibalikin lagi ke tempat semula!”
Ferdi langsung terlonjak dan buru-buru berdiri untuk memungut solder itu dan di letakkan lagi ke tempat semula. Wow...saat seperti ini, Niko jadi terlihat seperti pembunuh berdarah dingin.
Tapi Niko tidak selalu seperti itu. Hampir di setiap kesempatan, dia selalu bersikap manis padaku. Misalnya saat kami sedang ada di perpustakaan, aku berusaha mengambil buku ensiklopedia di rak paling atas. Aku sangat bersusah payah menggapainya walaupun kakiku sudah berjinjit. Tiba-tiba aja Niko sudah ada di belakangku dan dengan mudahnya tangannya terulur mengambil buku itu untukku. Aku berbalik dan menatapnya takjub.
“Nih,” katanya.
“Makasih.”
“Harusnya kamu ngomong, biar aku ambilin. Ngapain sampe jinjit-jinjit gitu.”
Dan aku hanya bisa nyngir seperti orang bodoh.
“Nih, diminum. katanya ini bisa ngurangin rasa sakitnya.” katanya sembari meletakkan kantong plastik di mejaku.
“Apa ini?” gumamku sambil membukanya.
Mataku terbelalak, ternyata isinya adalah minuman pereda nyeri haid. Lagi-lagi aku takjub, bagaimana bisa dia membeli ini? Maksudku, dia itu cowok apa tidak malu saat membeli minuman pereda haid? Bagaimana bisa dia mengatasi tatapan kasir saat membayarnya?
“Kamu, bawa pembalut cadangan buat ganti? Atau mau aku beliin sekalian?” tawarnya lagi dengan ekspresi datar seolah itu adalah hal biasa.
Buru-buru aku berkata, “Eh, gak usah. Aku bawa, kok.”
Bahkan baginya membeli pembalut wanita bukan masalah. Tidak seperti Rex yang sewaktu aku kehabisan pembalut dan minta tolong padanya untuk membelikan di mini market terdekat, dia langsung berkata, “Hah? Aku? Beli pembalut? Dimana harga diriku...”
Yep, beruntunglah Niko tidak punya sifat seperti itu. Bersama Niko, aku merasa baik-baik saja. Dia membuat segalanya terasa mudah dan ringan.
***
__ADS_1
Di suatu hari di bulan November, Pak Wahyu memanggilku ke ruang guru. Aku berjalan dengan riang. Sebelumnya aku tidak pernah sesenang ini ketika dipanggil ke ruang guru. Tapi semenjak ada Niko, seperti yang kubilang, semua menjadi mudah.
“Ren, kamu udah lihatkan di website kalau pendaftaran Oxford mulai dibuka?” kata Pak Wahyu yang duduk di depanku. Entah kenapa aku merasa dia menjadi lebih tua dari beberapa bulan lalu. Terlihat ada beberapa uban yang menyembul di rambutnya.
“Iya, Pak. Saya sudah lihat.”
“Lalu gimana sama persiapan kamu? Semua persyaratannya udah kamu siapin? Atau masih ada yang kurang? Kalau iya biar bapak bantu.” lanjutnya lagi dengan raut serius. Tapi aku bisa melihat ketulusan di matanya saat Pak Wahyu mengatakan ingin membantuku.
“Enggak, Pak. Semua udah beres. Saya udah mempersiapkannya dengan baik.”
“Surat rekomendasi?”
“Udah, Pak.”
“Bagus.” katanya sambil mengangguk puas.
“Bapak sangat berharap Ren, kamu bisa lulus ke sana. Biar bisa ngasih contoh ke temen-temen dan junior kamu kalau mereka ada kemauan pasti bisa mencapai impiannya.” jelas Pak Wahyu dengan nada lembut dan bijaksana. Inilah salah satu yang kusukai darinya, sifat kebapakan yang menenangkan seperti papa.
“Iya, Pak.” jawabku. Dia mengangguk.
“Bapak doain, semoga kamu berhasil ya, Ren.” Aku langsung tersenyum saat mendengar perkataannya yang terdengar sangat tulus dan khidmat.
“Makasih, Pak.”
Aku memang sudah mempersiapkan semua yang diperlukan untuk mendaftar ke Oxford. Beberapa hari lalu mereka mengumumkan di website resmi bahwa pendaftaran tahun ajaran baru telah dibuka. Tentu saja aku sudah mengincar satu slot untuk mendapatkan beasiswa penuh. Meskipun tanpa program beasiswa, papa pasti sanggup membiayai kuliahku di sana. Tapi aku sudah bertekad bahwa aku ingin kuliah di sana atas usahaku sendiri tidak mau terlalu menyusahkan orangtua. Tentu saja dengan jalan mendapatkan program beasiswa penuh.
Jadi, setelahnya aku memberitahukan pada Niko saat di ruang komputer.
“Selamat ya, Ren. Aku bakal doain semoga kamu lulus. Aku yakin pasti kamu bisa.”
“Makasih, Nik. Aku bener-bener pengen banget ke sana.” Niko tampak mengangguk.
“Terus, kamu gimana? Rencananya mau daftar kemana?” tanyaku.
Niko tidak pernah membahas akan kemana dia setelah tamat sekolah. Sebenarnya dalam hati, aku berpikir jika sampai aku diterima di Oxford, itu artinya kami akan berjauhan. Saat memikirkan itu, aku merasa takut. Jadi aku berharap Niko mungkin bisa mengikutiku. Maksudku, dia juga cukup jenius dan pasti sangat memenuhi kriteria Oxford.
“Ah, aku belum kepikiran Ren. Saat ini aku cuma fokus buat ngembangin aplikasi start up yang udah kubuat dan itu pasti makan banyak waktu.” jawabnya kemudian.
__ADS_1
Tentu saja aku tidak bisa memaksa. Aku hanya bisa berharap kalau suatu hari nanti dia akan berubah pikiran dan ikut mendaftar beramaku ke Oxford.
Semoga.