
“Aduh! Isssshhh...sakit, Ma.”
“Makanya, jangan berantem! Ini pelajaran buat kamu.”
Mama sedang membersihkan dan mengobati lukaku. Sewaktu aku pulang tadi, mama langsung panik saat melihatku. Dan hampir saja aku dibawa ke rumah sakit, tapi langsung saja kutolak. Maksudku, ayolah, ini hanya luka kecil, anak cowok itu wajar kalau wajahnya babak belur, setidaknya sekali seumur hidup.
“Ya, tapi kan, ada alasannya sih, Ma.”
“Rex, apapun alasannya, tindakan kekerasan itu nggak dibenarkan, ngerti?”
“Iyaaa...”
“Ya udah, habis ini kamu siap-siap buat makan malam.” kata mama setelah selesai berkutat dengan lukaku dan membereskan kotak P3K. Aku hanya mengangguk sembari meraba-raba perban di pelipisku yang baru diganti. Sakit sih, tapi aku puas!
Oke, sebelum kalian semua salah paham, biar kujelaskan duduk perkaranya. Lagi pula aku tidak mau kehilangan para fans-ku gara-gara kejadian ini.
***
Saat jam istirahat kedua, aku langsung bergegas menuju toilet sambil memegangi perutku. Entah aku salah makan atau kebanyakan makan sewaktu di katin, tiba-tiba perutku mules. Dengan sedikit berlari, akhirnya aku sampai di toilet. Ada beberapa orang di sana yang sedang pipis, tanpa peduli, aku langsung masuk ke alah satu bilik WC.
Beberapa menit berselang, rasa lega langsung membanjiriku. Kurasa aku memang terlalu banyak makan. Setelah selesai, aku langsung bersih-bersih dan menyiram WC berkali-kali hanya untuk memastikan agar tidak meninggalkan jejak. Saat akan keluar, aku mendengar beberapa cowok sedang ngobrol. Bukannya aku tukang nguping atau apa, tapi terdengar ada pembicaraan yang menarik. Maksudku, aku tahu siapa yang mereka bicarakan.
“Bi, kamu kenapa jarang nongol lagi di klub komputer?”
Aha! Klub komputer? Sepertinya aku pernah dengar.
“Males.”
“Kenapa?” Terdengar suara keran air di wastafel sedang dibuka. Cukup lama cowok yang ditanya temannya itu tidak menjawab, jadi kupikir mereka sudah mengakhiri pembicaraan. Tapi ketika aku hendak membuka pintu, cowok itu menjawab.
“Males ketemu sama Ren.”
Darahku langsung berdesir begitu mendengar nama Ren disebut. Kenapa mereka bawa-bawa Ren? Apa mereka kenal? Mereka temannya? Maksudku, selama ini teman dekat Ren itu hanya Maya dan dari yang aku tahu, Ren tidak punya teman cowok.
“Ren? Ren anggota klub komputer?” tanya temannya dengan nada terkejut.
Klub komputer? Ah! Benar, Maya bilang kalau Ren memang ikut klub itu. Tapi kenapa mereka bicara tentangnya? Ada masalah apa?
“Coba bayangin, bisa-bisanya dia nulis surat cinta buat aku. Kuno banget, kan?”
“Hah? Ren nulis surat cinta buat kamu?”
“Iya, malah kata-katanya puitis banget, lagi. Jadi kayak baca syair-syair orang jaman dulu, aneh banget.”
“Hahaha...serius? Kamu sih yang kasih harapan sama dia kali.”
__ADS_1
“Harapan apaan? Aku tuh cuma coba bersikap baik aja sama dia, karena dia anggota baru dan cewek satu-satunya di klub. Jarang-jarang kan ada cewek yang mau gabung? Tapi, gak tau deh, dia jadi baper, gitu.”
“Buset! Cadas juga tuh cewek. Eh, tapi aku pernah denger kalau dia itu dijuluki si Elsa Frozen karena super cuek dan gak mau bergaul sama siapa pun.”
“Aneh emang...”
“Eh, tapi dia lumayan juga loh.”
“Lumaya apanya? Masih lebih bohay lagi si Lisa.”
“Haha...bisa aja kamu, Bi.”
“Emang absurd tuh si Ren.”
Aku berusaha untuk menahan emosi yang rasanya sekarang sudah meluap. Darahku yang sebelumnya berdesir, kini sudah mendidih seribu derajat. Bisa-bisanya mereka bergosip tentang Ren di toilet. Dasar cowok-cowok banci!
Dengan tangan yang sedari tadi terkepal di sisi tubuhku, sekuat tenaga kudorong pintu dan keluar. Mereka berdua tampak kaget saat melihatku. Satu cowok berkulit sawo matang dan agak pendek. Cowok satunya berkulit putih, dengan tubuh dan tinggi ideal, tangannya terlihat basah. Pastilah dia cowok yang membuka keran wastafel, pasti dia yang namanya Abi.
“Jadi kamu yang namanya Abi?” tanyaku tanpa melepas pandangan dari mereka. Keduanya tampak saling pandang, kemudian Abi menjawab.
“Iya.”
Tanpa basa basi, aku berderap ke arahnya lalu memukul wajahnya sekuat tenaga.
“Apa-apaan, nih!” teriak temannya.
Abi sendiri langsung tersungkur sambil memegangi hidungnya.
Gotcha!
Cowok satunya tadi tampak ingin membatu Abi, tapi segera kuhentikan.
“Kamu, diam di situ, jangan ikut campur!” ancamku. Seketika temannya itu beringsut mundur ketakutan.
“Berengsek! Apa-apaan kamu! Sinting!” maki Abi sembari berusaha mengelap darah di hidungnya. Aku kembali meregangkan pergelangan tanganku, cowok ini memang pantas dihajar!
Tapi saat aku akan melayangkan tinjuku lagi, dia berhasil menendang kakiku sehingga aku terjatuh ke lantai. Dengan cepat, dia berhasil naik ke badanku, meremas kerah baju lalu memukul pipiku.
“Arrrgghh...”
“Rasain kamu, berengsek!” teriaknya.
Kurasakan pipiku panas dan lidahku langsung merasakan sesuatu yang anyir. Ternyata dia juga memukul rahangku sehingga bibirku pecah. Tidak mau kalah, aku berusaha untuk mencekiknya, sekuat tenaga membanting tubuhnya dan kini giliran dia yang ada di bawahku.
“Mampus!” teriakku sambil gantian memukul rahangnya.
__ADS_1
“Arrgghh...”
Aku memukul pipinya secara bergantian tapi tiba-tiba tangannya berhasil meninju pelipisku hingga robek.
“Arrgghhh...Berengsek!” teriakku lagi.
Saat kami masih berusaha untuk saling pukul dan menjatuhkan, tiba-tiba sudah ada beberapa orang yang memisahkan kami. Aku ditarik ke belakang hingga terjatuh dan tanganku langsung dikekang erat.
“Apa-apan kalian ini, ha!” teriak kepala sekolah yang entah muncul dari mana, sudah berdiri di antara kami.
Abi sendiri dipegangi oleh dua orang, begitu juga denganku. Karena sedang asik baku hantam, jadi aku tidak menyadari bahwa temannya tadi ternyata berlari keluar dan melapor. Dasar pengecut!
Aku dan Abi masih saling bertatapan, saling tantang dengan napas menderu. Sungguh, emosiku masih full dan siap ronde kedua.
“Sudah! Sekarang bawa ke UKS! Bikin malu kalian ini!” teriak kepala sekolah dan kemudian kami berdua diseret paksa ke ruang UKS.
***
Setelah mendapat ceramah dari kepala sekolah dan berusaha meyakinkannya bahwa tidak perlu ada surat panggilan orang tua, akhirnya aku dihukum skorsing selama tiga hari, begitu juga si cowok berengsek itu.
Rasakan!
Kami berdua mendapat perawatan. Kebetulan hanya ada satu tempat tidur, dan tentu saja langsung kuserobot sebelum cowok berengsek itu mendahului. Jadi, sekarang aku yang berbaring di tempat tidur dan dia akhirnya terdampar di sofa.
Mampus!
Aku melirik ke arahnya, wajahnya kelihatan cukup parah. Aku sendiri juga parah sih, tapi setidaknya hidungku baik-baik saja. Itu artinya, aku pemenangnya!
“Apa kamu lihat-lihat!” teriaknya ketika dia menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya.
“Mampus!” bakasku sambil tersenyum licik. Kemudian petugas UKS buru-buru menutup tirai pembatas untuk melerai.
Aku berbaring menatap langit-langit sambil menghela napas. Sadar kalau masalah ini belum selesai, karena masih ada Ren yang harus aku hadapi, kucoba memejamkan mata.
Pastinya Ren akan sangat murka nanti. Tapi biarlah, itu urusan nanti. Lagi pula ini kulakukan untuk membelanya, bukan.
Maksudku, memang ini tidak dibenarkan, tapi aku juga tidak bisa menahan emosi ketika Ren diolok-olok seperti tadi. Harusnya si berengsek itu menolak Ren dengan cara baik-baik, kalau memang dia tidak suka. Tidak perlu harus bicara seperti itu di belakangnya.
Tidak bisakah dia menghargai usaha Ren yang baru pertama kali jatuh cinta?
Pikiranku langsung dipenuhi dengan wajah Ren. Apa yang harus aku katakan padanya? Bilang kalau cowok yang dia taksir sama sekali gak suka sama dia dan menganggap kalau dia aneh? Mana mungkin Ren percaya! Kalaupun percaya, pasti dia akan sakit hati. Lagian ini juga salah Ren, kenapa juga harus jatuh cinta sama cowok berengsek itu!
Arrghh...! Entahlah...!
Kemudian kurasakan mataku mulai berat, tak berapa lama akhirnya aku pun terlelap.
__ADS_1