REX & REN

REX & REN
Permintaan Maaf


__ADS_3

Ada saat-saat dimana kita merasa tidak ingin melakukan apa pun dan hanya berbaring di tempat tidur walau pun sebenarnya banyak hal lain yang harus dikerjakan. Meski logika kita memaksa untuk melakukan sesuatu, tapi batin kita seakan tidak mau patuh. Itu seperti sel-sel otak memerintahkan kita untuk, ‘ayo bangun!’ Tapi batin ini menentang, ‘nanti aja, bentar lagi.’


Dan itulah yang sedang kulakukan, menatap langit-langit sambil sesekali mengelus-elus dadaku. Aku masih terus memikirkan kejadian di ruang komputer. Bayangan tentang Abi yang berlumur bubuk gula dari kue snickerdoodle memenuhi otakku.


Snickerdoodle yang malang.


Padahal aku sudah menghabiskan seperempat bubuk gula untuk membuatnya. Tapi hanya berakhir sia-sia.


Setiap memikirkan itu, rasa sakit di dadaku datang. Reflek, aku langsung mengelus-elusnya. Berharap sakitnya akan berkurang, tapi tentu saja aku tahu itu tidak efektif selama aku masih memikirkanya.


Aku tidak perlu membaca buku atau pergi ke dokter untuk mengetahui tentang rasa sakit yang kualami saat ini. Aku tidak terlalu bodoh untuk menyimpulkan bahwa aku sedang patah hati. Rasanya begitu menyakitkan bahkan lebih menyakitkan dari B minus yang kudapat. Ibaratnya, B minus itu seperti tangan tersayat dan patah hati itu seperti pisau yang ditusuk berulang-ulang kali tepat di jantungmu. Dan itulah yang kurasakan saat ini.


“Ren?” panggil mama dari luar. Dia membuka pintu kamarku kemudian.


“Kamu masih di tempat tidur,” katanya dengan bibir menipis.


“Ma, ini hari Sabtu. Sekolah libur.”


“Terus? Kalau hari Sabtu dan sekolah libur, kamu gak bangun?” Aku hanya bisa mengerang.


“Ini udah jam berapa, Ren. Kamu gak sarapan? Gak laper?”


“Iya, Ma.” jawabku malas kemudian hening.


Saat kupikir mama sudah pergi karena dia tidak bersuara lagi, aku menoleh. Tapi ternyata mama masih berdiri di sana, menatapku dengan raut tak terbaca.


Oke, kelihatannya mama akan menceramahiku. Aku yakin Rex pasti sudah cerita, seperti biasanya. Tapi aku sedang tidak mood untuk membicarakan masalahku sekarang, apa pun itu. Terlebih saat patah hati yang menusuk jantung ini semakin intens kurasakan.


“Kamu cepat bangun, ya. Mandi, udah gitu sarapan.” kata mama, kemudian menutup pintu dan pergi.


Rasa lega membanjiriku, aku sangat berterima kasih karena mama sepertinya mengerti situasiku. Dan itu salah satu alasan aku sangat bersyukur punya orang tua seperti mama.


***


Setelah sekian lama berkutat dengan pikiranku, aku mendengar perutku keroncongan. Yah, tentu saja aku lapar. Ternyata selain membuat sakit di dada, patah hati juga bisa menyebabkan kelaparan. Aku harus makan dan mengisi energiku lagi. Siapa tahu aku membutuhkannya untuk kembali meratapi patah hatiku ini.


Aku mencoba bangun dan merasa sangat letih dibanding biasanya. Mungkin aku juga butuh pijat aromatik. Kulirik jam waker di nakas, pukul 10.00. Aku bangkit perlahan dan berjalan ke meja rias. Betapa kagetnya aku melihat pantulan di cermin.


Rambut bak singa yang acak-acakan plus mata yang terlihat bengkak. Oh, tenyata menangis terlalu lama bisa merubah wajah seseorang menjadi seperti zombi.


Tapi apa itu?


Mataku terbelalak ketika melihat ada noda putih memanjang dari sudut bibir hingga ke pipi.


EW!


Buru-buru langsung kuhapus dengan telapak tanganku. Satu lagi faktanya yang kutahu, patah hati juga bisa membuat orang ileran. Mengerikan!


***

__ADS_1


Setelah menyeret diriku ke kamar mandi dan berpakaian, aku turun menuju dapur. Mama ada di pantry sedang membersihkan buah.


“Bangun juga akhirnya.” sapa mama. Aku hanya memaksakan senyum sambil meringis. Kemudian membuka kulkas untuk mengambil minum.


“Cuma ada sandwich buat sarapan. Kalau kamu mau ada di box container paling bawah di kulkas.” kata mama. Aku langsung mencari dan mengambilnya.


“Tapi sisanya gak banyak, Rex tadi makan lima potong.” sambungnya lagi. Tidak heran, Rex itu memang tukang makan.


“Rex mana, Ma?” tanyaku yang sekarang sudah bergabung bersama mama sambil makan sandwich.


“Bantuin papa di belakang.”


“Ngapain?”


“Nyobain drone baru.”


“Drone? Rex yang minta?” Aku tidak habis pikir, kenapa orang tuaku selalu saja menuruti kemauan Rex. Waktu itu drum, sekarang drone, kurasa papa mengidap penyakit murah hati.


“Bukan. Memang papa yang mau beli, pengen katanya. Jadi papa minta tolong Rex buat ngerakit terus nyobain.” jelas mama.


Papa yang beli, tapi yang kebanyakan main pasti Rex, modus klasik.


“Oh, ya, sisain beberapa potong buat Pak Alif, Ren.”


“Loh, Pak Alif datang? Inikan libur?”


“Iya, tapi cuma buat bersihin mobil aja.”


Benar, aku masih punya hutang maaf pada Pak Alif. Aku benar-benar tidak enak hati sudah membentaknya waktu itu. Tidak seharusnya memang, tapi mau bagaimana lagi, emosi tidak mengenal nilai-nilai kesopanan. Semua ini gara-gara Abi!


***


Dengan membawa beberapa potong sandwich di box container, aku berjalan menuju parkiran. Di sana terlihat Pak Alif sedang mengelap kaca mobil. Aku menghela napas beberapa kali sebelum akhirnya menghampirinya.


“Lagi ngapain, Pak?” sapaku.


“Eh, Mbak Ren. Lagi bersihin mobil, Mbak.”


balas Pak Alif dengan senyum ceria.


Melihatnya seperti ini, aku jadi semakin merasa bersalah. Maksudku, Pak Alif selalu bersikap baik dan sopan, bahkan saat di situasi tidak mengenakkan sekalipun.


“Ada apa, Mbak? Mbak Ren mau pergi? Kalau iya, biar bapak antar.”


“Enggak, Pak.” Aku menyodorkan sandwich yang kubawa padanya.


“Ini ada sandwich, Pak. Kata mama ini buat bapak.”


“Wah, makasih loh Mbak. Kebetulan perut bapak juga udah demo.” jawabnya semangat. Pak Alif mengambil sandwich itu dan memakannya.

__ADS_1


“Enak, Mbak.” katanya lagi.


Aku hanya tersenyum lalu berbalik dan duduk di anak tangga teras menghadap parkiran.


“Pak Alif, Ren juga mau minta maaf buat kejadian waktu itu. Maafin Ren ya, Pak, udah bentak bapak.” ucapku. Pak Alif memandangku sambil tersenyum


“Gak apa-apa, Mbak. Bapak ngerti, Mbak Ren lagi emosi. Jangan diambil pusing, bapak maklum.” Akupun mengangguk.


“Lagian, Mas Rex itu sebenernya sayang banget loh sama Mbak Ren. Jadi, kalau Mas Rex itu ngelakuin sesuatu kayak kemaren itu, pasti karena ada alasannya.” jelasnya lagi.


Aku jadi teringat semua kejadian beberapa waktu belakangan ini yang melibatkan Rex dan aku. Yah, memang benar, kalau di pikir-pikir semua yang Rex lakukan punya alasan tersendiri.


“Iya, Pak. Ren tau.”


“Oh, jadi udah tau nih ceritanya?”


Aku langsung menoleh ke belakang dan mendapati Rex bersandar di pintu, tersenyum konyol sambil melipat tangan di dada. Sambil nyengir, Rex menghampiriku dan ikut duduk di sebelahku. Pak Alif sendiri hanya senyum-senyum melihat tingkah kami.


“Terus?” tanya Rex dengan nada meledek.


“Iya, aku minta maaf ya, Rex.” kataku akhirnya.


Kali ini aku mengatakannya dengan tulus. Rex diam sejenak sembari menatapku, seakan mencari ketulusan akan ucapanku barusan, lalu dia mengangguk.


“Udah, kita lupain aja. Anggap aja semua kejadian ini jadi pembelajaran hidup. Kadang, kita memang harus berbuat salah dulu buat tau mana yang bener.” jelasnya.


Aku terpana dengan jawaban Rex barusan. Aku tidak tahu dia punya pemikiran yang sangat dewasa. Seakan dia sudah punya pengalaman hidup beratus-ratus tahun padahal dia baru kelas tiga SMA. Andai saja Rex mau lebih serius belajar, pasti dia akan jadi filsuf hebat seperti Aristoteles atau semacamnya.


“Jadi, kalau boleh tau, kemaren kamu apain si Abi?” tanya Rex dengan nada jahil.


Mendengar nama Abi disebut aku jadi kesal dan patah hatiku muncul kembali.


“Kutendang kakinya, pas di tulang keringnya.”


“Hahaha...harusnya kamu tendang selangkangannya.” balas Rex sambil terbahak.


“Kamu mau aku dikeluarin dari sekolah?”


Rex mulai berhenti tertawa dan berdeham.


“Tapi, ngomong-ngomong, setelah kejadian kemaren, aku jadi tau satu fakta tentang kamu, Ren.” katanya kemudian.


Aku mengerutkan dahiku, rasa penasaran pun mulai muncul.


“Apa?”


“Ternyata...” Rex menghentikan kata-katanya dan membuat efek dramatis, persis seperti yang ada di sinetron kesuakaan mama.


“Ingus kamu itu banyak banget ya kalau lagi nangis. Baju aku basah semua kena ingus kamu kemaren. Terus badan aku jadi gatel-gatel gitu...”

__ADS_1


“Rex!”


Rex langsung kabur sambil tertawa, berlari masuk ke rumah sambil menggoyangkan pantatnya. Lihatkan, mentalnya saja yang dewasa tapi kelakuan masih anak TK. Kurasa, walupun dia jadi filsuf seperti Aristoteles, melakukan Rex pasti akan tetap menyebalkan!


__ADS_2