REX & REN

REX & REN
Let's Finish What We Started


__ADS_3

Keesokan harinya, semua gosip tentangku mulai mereda. Bukan berarti hilang, sebagian masih ada yang membicarakannya, apa lagi saat melihatku lewat atau berpapasan. Untuk saat ini, aku memasang mode masa bodoh karena aku punya rencana. Yah, aku sudah berkomitmen pada diriku sendiri, untuk menyelesaikan apa yang sudah kumulai.


“Kamu yakin, Ren?” tanya Maya.


Aku mengangguk mantap.


“Seratus persen.”


Tadi aku sudah memberitahu Maya tentang rencanaku untuk menemui Abi lagi untuk menyelesaikan semuanya. Kurasa masih ada hal yang perlu kami bicarakan, maksudku, dengan cara baik-baik. Kami sedang berjalan melewati koridor menuju kelas. Tentu saja masih ada yang menatapku dengan sinis. Tapi seperti yang kubilang, aku sedang dalam mode masa bodoh.


“Perlu aku temenin?” tanya Maya lagi. Entah kenapa aku merasa ada nada tidak percaya ketika Maya bertanya. Aku maklum, mungkin dia takut rencanaku ini akan berakhir sama seperti waktu itu.


“Nggak usah, May. Aku bisa sendiri.” tegasku. Maya hanya mengangguk kemudian tidak bicara apa-apa lagi.


Saat kami sudah akan sampai, tiba-tiba ada segerombolan cewek yang menghampiri.


Mau apa mereka?


Aku lumayan terkejut saat melihat ada Vania di antara mereka.


“Bisa kita ngomong sebentar?” kata Vania dengan nada serius. Maya dan aku saling bertukar pandangan.


“Dia atau aku?” tanya Maya.


Vania berdecak sebal sambil mengibaskan rambutnya.


“Ren.” tegasnya.


Maya melingkarkan lengannya ke bahuku dengan sikap protektif.


“Ngomong aja di sini, kita dengerin, kok.”


Vania memutar bola matanya.


“Aku cuma mau ngomong berdua aja sama Ren. Jadi, bisa gak kamu gak usah ikut campur?”


“Udah, gak apa-apa, May.” kataku untuk meyakinkan Maya. Aku bisa mengerti dengan sikap Maya. Maksudku, ketika ada segerombolan cewek yang tiba-tiba mendatangi temanmu lalu dengan gestur serius ingin mengajak bicara. Tentu hal itu akan membuatmu sebagai sahabatnya khawatir, bukan?


Kemudian Vania mengajakku menjauh. Maya melirikku dari bahunya, dengan mata membelalak seolah bertanya, ‘Ada apa?’ Aku membalasnya dengan mengangkat bahu, seolah menjawab, ‘Aku nggak tau!’


Vania mengajakku ke pohon beringin di depan kelasku, sejenak dia merapikan rambutnya. Aku bertanya-tanya entah sampai kapan kebiasaannya itu akan hilang?


“Ren, aku bisa minta tolong gak sama kamu?” Vania bicara dengan suara pelan.


“Apa?” Walau bingung, aku tetap menanggapi.


“Bisa gak, kamu comblangin aku sama Rex.” Vania masih bicara dengan suara pelan, tapi aku tahu dia serius.


“Secara, kan, kamu sodara kembarnya, pasti kalian deket.” lanjutnya.


Apa-apaan ini? Aku memandang Vania dengan mulut melongo.


“Mak comblangin?” Vania mengangguk.


Aku tidak mengerti, apa Vania tidak bisa berpikir rasional? Sudah jelas-jelas Rex bersikap cuek padanya, itu pertanda bahwa Rex tidak suka. Tapi kenapa dia masih ngeyel, sih!

__ADS_1


“Aku bukan biro jodoh.” ketusku. Saat aku hendak pergi, Vania menahan lenganku.


“Tapi, Ren...” Aku melepaskannya dengan paksa. Kemudian menghela napas dan kembali menatapnya.


“Denger, ya, terserah kamu mau nganggep aku apa. Mendingan kamu gak usah ngejar-ngejar Rex lagi. Fokus aja sama diri kamu atau cari yang lain.”


“Kenapa?”


“Karena Rex gak suka sama kamu.”


“A-pa? Jangan-jangan kamu ya yang gak setuju,”


“Cukup.” kataku sambil mengangkat tanganku.


“Intinya, aku udah kasih tau kamu. Jadi, terserah kamu, mau terima apa gak.” tandasku kemudian pergi meninggalkan Vania yang masih terpaku di sana.


Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku hari ini. Tapi aku merasa bersemangat, seperti naik rollercoaster, tubuhku memompa adrenalin lebih cepat dari biasanya.


***


Setelah bel terakhir berbunyi, aku langsung bergegas keluar kelas. Menjalankan rencana awalku, bicara pada Abi. Sebenarnya Maya tadi terus memaksa untuk ikut, tapi aku berhasil menyakinkannya bahwa aku bisa mengatasi ini sendiri. Tentunya dengan jaminan aku harus menceritakan setiap detilnya pada Maya nanti. Bukan masalah, tanpa dimintapun aku pasti akan cerita.


Tidak butuh waktu lama, aku sampai di depan pintu ruang komputer. Sebelum masuk, aku menghirup napas banyak-banyak kemudian membuangnya perlahan. Sembari mengumpulkan tekad dan keberanian, aku membuka pintu lalu masuk.


Bisa kurasakan semua mata sedang menatapku. Tapi aku tidak peduli. Aku mengedarkan pandangan, di sana hanya ada tiga orang; Niko yang duduk di tempat biasa, Rudy yang tampak memandangku horor dan tentu saja the most wanted Saylendra Abimanyu aka Abi.


Abi langsng berdiri dari bangku ketika melihatku berjalan ke arahnya. Ketika aku sampai, dia langsung mundur satu langkah dan bersikap defensif.


Kenapa dia? Apa aku semenakutkan itu?


“Mau apa kamu?” tanyanya.


“Kamu ya yang nyebarin gosip tentang aku? Yang bilang kalau aku ditolak sama kamu terus kutendang. Sampe semua pada ngecap aku sebagai cewek bar bar psikopat.” cecarku.


Abi terdiam sejenak kemudian mendengus dan tersenyum kecut.


“Jadi kamu cuma mau nanyak itu?”


“Jawab aja...”


“Kalau iya kenapa?” tantangnya.


“Kamu itu bener-bener...”


“Memang itukan faktanya?” potongnya sebelum aku sempat menyelesaikan kata-kataku.


“Lagi pula, gak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Bahkan, kita itu seharusnya gak usah ketemu lagi. Semua udah jelas kan buat kamu? Lagian, ngapain lagi sih kamu ke sini? Mendingan kamu keluar aja dari klub.”


“Aku gabung ke klub ini bukan karena kamu. Aku ke sini buat belajar...” geramku.


Abi langsung tertawa.


“Belajar? Buat chatbot sederhana aja kamu gak bisa, belajar apa? Harusnya kamu tanya sama diri kamu sendiri, buat apa kamu di sini.”


Aku mengepalkan tangan di sisi tubuhku dengan emosi yang menjadi-jadi. Sadar akan reaksiku, Abi langsung buru-buru pergi keluar.

__ADS_1


“Bi, tunggu!” cicit Rudy yang kemudian ikut mengekor di belakangnya.


Dasar pengecut!


Aku menatap nanar ke arah komputerku dan kata-kata Abi langsung terngiang.


“Buat chatbot sederhana aja kamu gak bisa...”


Chatbot sialan!


Akan kubuktikan kalau aku bisa!


Aku berderap menuju komputerku dan menarik kursinya dengan kasar. Begitu duduk, aku langsung menyalakannya dengan tidak sabar. Setelah terbuka, aku langsung membuka file program chatbot-ku. Aku mengkliknya.


Chatbot itu berjalan dengan payah. Sial! Pantang menyerah, aku membanting mouse dengan kasar, menekan tombol enter dengan brutal berharap chatbot-ku bisa berjalan dengan lancar dan bug-nya hilang.


Tapi sia-sia...


Aku menyandarkan punggung ke belakang dengan kesal. Tidak dengan Abi, tidak dengan chatbot-ku, aku tidak bisa menyelesaikannya. Aku mulai frustrasi sekarang.


“Coba diganti variabelnya.”


Aku langsung menoleh dan terkejut ketika mendapati seseorang berdiri di sampingku.


Niko.


Tanpa permisi, dia menarik kursi di sebelahku dan duduk.


“Coba diganti variabelnya.” katanya lagi.


Aku menatapnya seperti orang bodoh. Maksudku, ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Niko yang selalu terlihat sinis dan sibuk dengan dirinya sendiri, sekarang ada di sampingku?


“Kamu budeg?” sindirnya sambil menatapku.


“A-apa?”


“Ganti variabelnya!”


“O-oh...”


Seperti sapi yang di cocok hidungnya, aku langsung melakukan apa yag dia suruh. Maksudku, aku terlalu syok. Bahkan aku tidak mengerti apa yang terjadi sekarang.


Aku mencoba mengubah variabel chatbot-ku dengan huruf dan angka asal-asalan. Dan setelah menekan enter, aku takjub dengan layar komputerku.


Chatbot-nya berhasil!


Tidak ada bug-nya lagi!


Tidak mungkin...


“Berhasil...” kataku sambil menatapnya takjub. Aku sangat senang seperti seseorang yang baru saja memenangkan lotre.


“Lihatkan, kamu harus fokus dan sabar, jangan emosi.”


Aku hanya bisa menelan ludah mendengar sindirannya. Seperti biasa, mulutnya selalu tajam.

__ADS_1


“Boleh aku ngomong sesuatu?” tanyanya kemudian.


Apa? Apa yang mau dia bicarakan? Tiba-tiba saja kurasakan jantungku berdegup kencang. Oh Tuhan...


__ADS_2