REX & REN

REX & REN
Perayaan Bersama


__ADS_3

Setelah berpamintan ke papa dan mama, Ren berjalan menuju parkiran, buru-buru aku ikut mengintil di belakangnya. Tidak seperti biasanya, Ren tampak tidak protes. Dia hanya menoleh sekilas, lalu mengabikanku dengan ekspresi ‘masa bodoh'. Oke, aku memang sudah terbiasa dengan ekspresi ‘masa bodoh' nya itu, tapi melihat sikap Ren yang lebih kalem seperti ini, pasti ada sesuatu.


Contohnya seperti tadi malam, Ren tidak mempermasalahkan aku menghabiskan semua paha ayam semur, biasanya dia pasti langsung marah-marah. Tapi dia tidak protes sedikit pun bahkan mengalah dengan memakan sayapnya. Ini seperti bukan Ren, sikapnya sekarang ini terlihat lebih ‘jinak'.


“Wah, tumben keluarnya barengan. Akur banget kelihatanya.” sapa Pak Alif saat kami sampai.


“Iya dong, Pak. Anak kembar kan memang harusnya gini, akur...” godaku. Tapi Ren hanya melengos sembri masuk ke mobil, lagi-lagi tanpa protes sedikit pun. Pak Alif dan aku hanya bisa saling berpandangan, tentu saja dia pasti juga heran.


“Ayo Pak cepetan, nanti telat.” ucap Ren dengan intonasi yang tidak seperti biasanya, ini terdengar lebih lembut.


“Oh, iya Mbak.” Pak Alif bergegas menuju kemudi, aku langsung menyusul Ren naik ke mobil. Mobil melaju dan Ren terlihat membaca buku, sementara aku hanya bisa menatapnya dengan berjuta pertanyaan di otakku. Pasti ada yang tidak beres.


***


Jam istirahat pun tiba, begitu bel berbunyi, aku langsung bergegas keluar menuju toilet. Mataku terasa sangat mengantuk karena mendengarkan Bu Ningsih mendongeng tentang bom Hiroshima dan Nagasaki dipelajaran sejarah tadi. Entah apa yang sekolah ini pikirkan menaruh sejarah di jam pertama pelajaran!


Segera kunyalakan wastafel dan membasuh wajahku, terasa sangat segar. Aku sudah memutuskan akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Ren. Sebagai kembarannya, aku tidak bisa tinggal diam melihat sikap aneh Ren. Untuk itu aku akan mengaktifkan ‘mode detektif' ku demi menggali informasi dari satu-satunya sumber terpercaya, Maya. Setelah aku mencuci tangan dengan sabun cair dan mengelapnya dengan tisu, aku keluar dari toilet. Tapi tiba-tiba sesuatu mengagetkanku, tepatnya seseorang.


“Eh, buset!” Aku terperanjat sambil memegangi dadaku.


“Eh, maaf, aku ngagetin kamu, ya?” tanya seorang cewek yang sekarang sedang berdiri di depanku.


“Ini toilet cowok, toilet cewek ada di sebelah sana.” ujarku sambil menunjuk ke ruangan sebelah, mana tahu nih cewek nyasar.


“Ngeselin banget, sih!” kesalnya, wajahnya kini cemberut.


“Apa?” Aku hanya bisa menatapnya heran. Apa salahku sampai membuatnya kesal? Niatku kan baik.


“Kamu sama sekali gak ingat aku?” Hah? Memang dia siapa? Aku menggeleng.


“Nggak,” jawabku. Cewek itu langsung mengibaskan rambutnya dengan wajah yang makin kesal. Hey, jangan salahkan aku, karena aku memang sama sekali tidak mengenalnya!


“Aku Vania, yang ngasih sushi waktu itu.” jelasnya. Vania? Sambil mengetuk-ngetuk dagu, aku mencoba menggali ingatanku. Sushi? Vania? Aha!


“Oh...sushi itu? Yang waktu pertandingan basket, kan?” Vania mengangguk kegirangan, ternyata senyumnya manis juga.


“Akhirnya kamu ingat.”


“Jelas dong, sushi kamu enak loh.” Jurus ampuh untuk menyenangkan hati cewek, berikanlah pujian. Tapi itu bukan asal pujian sih, karena sushi buatan Vania waktu itu memang enak. Tapi tunggu dulu, terus maksudnya dia di sini apa?


“Terus, kamu ngapain di sini? Inikan toilet cowok. Kamu mau ngintip?”


“Enak aja! Aku bukan cewek mesum!”


“Bercanda...” kataku sambil nyengir.


“Aku ke sini sengaja buat nyari kamu.” jelasnya.


“Kenapa?”

__ADS_1


“Aku suka sama kamu.”


Wow...si Vania ini, bar-bar sekali jawabannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi mendengar pernyataannya membuat otakku ngeblank beberapa detik.


Oke, mari kita berpikir dengan jernih, biasanya cewek yang ingin dekat denganku pasti akan menggunakan taktik; bersikap manis. Contohnya Icha, teman sekelasku, selalu memberikan contekkan kalau aku tidak siap PR. Audrey, anak kelas XI B yang selalu mengajakku ngobrol tentang basket, walau aku tahu dia tidak pernah ada riwayat sebagai pemain basket. Belum lagi Sandy yang selalu menyapa sambil tersenyum ramah kapan pun, dimana pun kami berpapasan tak peduli hujan badai. Tapi mereka semua tidak ada yang terang-terangan langsung menyatakan perasaanya. Dan Vania yang sedang berdiri di hadapanku ini mengatakannya dengan mudah, di depan toilet lagi. Wow...


“Jadi, Rex, gimana?”


“Apanya?” Aku mendapati suaraku sedikit bergetar. Jangan bilang kalau aku sedang grogi. Ayolah, Rex...dia hanya seorang cewek sama seperti yang lain, bedanya hanya dia lebih berani.


“Kamu mau gak jadi pacar aku?” Bagaikan di serang bertubi-tubi, bulu kudukku langsung berdiri mendengar perkataannya.


Ya Tuhan...cobaan apa lagi ini?


“Gimana, Rex?” tuntutnya. Aku menggaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya tidak gatal, lebih tepatnya aku hanya bingung harus bagaimana dan menjawab apa. Vania benar-benar tidak memberiku waktu untuk berpikir. Ditengah kebingungan yang melanda, aku melihat orang yang kucari-cari dari kejauhan. Maya tampak sedang berjalan menuju kantin. Aha!


“Maaf, Vania, aku buru-buru. Bye.” Tanpa sempat Vania bereaksi, aku langsung lari tunggang langgang menggunakan jurus kuda liar Sumbawa tanpa menoleh lagi. Jantungku rasanya mau copot. Ini pertama kalinya aku merasa seperti ini. Sekarang aku jadi tahu bukan hanya film horor yang menakutkan tapi cewek yang menyatakan perasaannya secara bar-bar ternyata lebih menakutkan. Tanpa sadar aku jadi bergidik ngeri dengan pemikiranku itu.


***


Maya terlihat kaget saat melihatku berdiri ngos-ngosan di depannya.


“Kamu kenapa? Dikejar setan?” tanyanya. Aku melambaikan tanganku sembari mengatur napas.


“Bukan. Oke, gak usah dibahas, gak penting.”


“Terus?”


“Ada yang mau aku tanyain sama kamu,”


“Apa?”


“Kamu tau gak Ren kenapa?”


“Ren? Kenapa emangnya?”


“Ya, dia akhir-akhir ini kelihatan aneh, gitu.” Maya hanya celingak-celinguk tanpa memperdulikan omonganku. Nyari apaan sih dia?


“May!” seruku.


“Aduh, Rex. Bisa gak ngomongnya nanti aja, aku laper banget, nih.” keluhnya sambil memegang perut. Aku menatap sekeliling, ah...benar, kami sedang berada di kantin.


“Oke, kamu mau makan apa? Aku yang terakhir.”


“Serius?” jawab Maya dengan mata berbinar-binar. Aku hanya mengangguk, lagi pula aku juga lapar, tenagaku rasanya habis tersedot karena berlari.


“Somay aja, enak tuh kayaknya.” Kami langsung mendatangi stand somay dan memersan dua piring. Benar, aku harus memulihkan energiku.


“Jadi, tadi apa yang mau kamu tanya?”

__ADS_1


“Soal, Ren. Dia jadi aneh banget akhir-akhir ini.”


Kami duduk di meja paling ujung sambil menyantap somay.


“Aneh gimana?” tanya Maya yang sedang menambahkan kecap ke somaynya. Aku sendiri tidak terlalu suka kecap, menurutku rasa makanan akan jadi aneh kalau dicampur banyak kecap.


“Ya, dia itu jadi lebih kalem. Biasanya kan kamu tau sendiri Ren itu jutek sama aku. Terus dia jadi kelihatan sibuk banget, baca-baca buku tentang programming terus kadang-kadang suka senyum-senyum sendiri.” cerocosku.


Itu benar, pernah suatu malam aku tidak sengaja mengintip ke kamarnya, kebetulan pintunya terbuka. Ren seperti biasa, sedang belajar tapi tidak ada angin, tidak ada hujan, dia terlihat senyum-senyum sendiri.


“Oh...mungkin itu karena dia ikut ekskul komputer.” jawab Maya.


“Ekskul komputer?” kagetku.


“Iya. Ren gabung ke klub komputer, udah sekitar semingguan gitu. Emang dia gak cerita?”


“Kamu kayak gak tau Ren aja, mana mungkin dia cerita sama aku.”


“Hmm...iya juga, sih.”


“Tapi, May. Ini serius? Ren ikut ekskul?” tanyaku lagi, masih tidak percaya. Ini hal luar biasa yang kudengar tentang Ren, tapi rasanya sulit untuk percaya.


“Iya, beneran.” tegas Maya.


Oke, pertama-tama, Maya tidak mungkin bohong karena dia adalah satu-satunya sahabat Ren, otomatis Ren pasti cerita segala sesuatu pada Maya. Kedua, Maya sudah kuteraktir somay, jadi kalau dia bohong akan aku sumpahi dia mencret-mencret. Ketiga, Ren ikut ekskul komputer? Ren? Ini benar-benar diluar dugaan. Dia seakan berubah dari upik abu menjadi cinderella dalam waktu semalam. Ini berita besar!


***


Tanpa sepengetahuan Ren, mama rupanya sudah menyiapkan pesta keluarga saat makan malam. Ren langsung melongo waktu turun dari kamarnya, ruang makan sudah dihias balon warna warni serta tulisan SELAMAT ATAS KLUB KOMPUTERNYA yang terpampang nyata di atas kertas mengkilat.


“Selamat, Ren!” ucap mama disertai dengan suara konfeti yang di pegangnya. Papa dan aku sudah duduk manis di meja makan.


“Apaan sih, Ma?” protes Ren saat mama menuntunnya untuk duduk.


“Rex bilang, kamu sekarang ikut ekskul komputer, ya? Duh, Ren...mama seneng banget, deh!”


Ren langsung memberikan tatapan mautnya padaku. Seperti biasa kubalas dengan cengiran.


“Tapi gak harus dirayain juga kali, Ma.”


“Harus dong, Ren. Ini tuh kemajuan besar. Akhirnya kamu mulai membuka diri, mama bangga banget.”


“Iya, Ren. Papa juga seneng banget kamu mulai bisa berbaur sama temen-temen sebaya kamu.” giliran Papa menyahut.


“Biasa aja kok, Pa. Belum lama juga. Lagian, itu saran dari guru buat nambah nilai aplikasi kuliah Ren nanti.”


“Apapun alasannya, mama, papa, juga Rex, kami seneng dan bangga banget sama Ren.” jelas mama dengan mata berkaca-kaca. Aku bisa mengerti, sama halnya seperti orangtuaku, aku juga khawatir jika Ren tidak bisa bergaul layaknya seperti remaja normal kebanyakan. Maksudku, akan bagaimana dia nantinya?


“Makanya Ren, kalo bisa kamu itu ikut ekskul yang lain juga, biar tiap hari bisa makan besar kayak gini.” godaku untuk mencairkan suasana yang mulai terasa mellow ini. Ren hanya menatapku tajam dengan mulut komat kamit.

__ADS_1


AWAS KAU!


Aku membaca gerak bibirnya dan hanya bisa cekikikan. Biarlah dia mau mengancamku apa, yang penting saat ini aku sangat senang dengan perubahan Ren, dan aku harap dia akan terus seperti ini.


__ADS_2