REX & REN

REX & REN
Still...Another Surprises


__ADS_3

Banyak hal terjadi beberapa waktu belakangan ini. Bahkan aku tidak tahu harus mulai dari mana karena semua mempunyai efek kejut yang luar biasa.


Tapi akan kucoba untuk mengurai satu per satu untuk kalian.


Pertama, setelah beribu-ribu tahun lamanya Vania berusaha mengejarku, akhirnya dia berhenti. Seperti seseorang yang mengibarkan bendera putih dalam sebuah peperangan, tanda menyerah.


Tadinya aku sempat tidak percaya, tapi Vania terlihat serius waktu melakukannya, maksudku waktu dia datang menemuiku dan mengatakannya.


Hari itu seperti biasa aku bersama yang lain sedang latihan basket dan setelah selesai, kami masuk ke ruang ganti. Aku sedang membuka loker untuk mengambil pakaian ganti, sudah jadi peraturan tidak tertulis bahwa sehabis latihan, anak basket wajib mandi.


“Rex!” Tiba-tiba Iqbal memanggilku.


“Apa?”


“Ada yang nyariin, tuh.” katanya.


“Siapa? Ren?”


Biasanya hanya Ren yang datang mencariku di waktu yang tidak tepat seperti ini. Terakhir kali dia datang, menuduhku menyebarkan gosip dan setelahnya dia marah-marah. Serius, pola pikir cewek itu benar-benar sangat rumit dan sulit dimengerti.


“Bukan. Itu, cewek yang sering kasih kamu makanan.”


Vania.


Mau apa dia ke sini?


“Dia nunggu di luar, tuh.” lanjut Iqbal.


“Oke, makasih.”


Aku berjalan menuju pintu dan mendapati Vania sedang berdiri di sana.


“Hai, Rex!” sapanya begitu aku sampai. Aku mengangguk.


“Hai,” balasku.


Vania berdiri sambil tersenyum, seperti biasa. Tapi entah kenapa aku merasa kali ini dia memiliki aura yang berbeda. Kau tahu, itu seperti saat kita mengenal seseorang dengan baik dan ketika beberapa bulan kita bertemu dengannya lagi, semua terasa berbeda.


Aku memperhatikan Vania dengan saksama, semua terlihat baik. Tapi, tunggu, ah...benar, rambutnya. Rambut Vania yang semula tampak hitam berkilau kini sedikit berubah. Sepertinya dia mengecat bagian dalamnya dengan warna yang kutebak itu warna abu-abu tapi lebih terang.


“Kamu ada waktu sebentar, gak? ujarnya sambil celingukan melihat ke belakangku. Sepertinya ini serius karena kelihatannya dia takut kalau teman-temanku mendengar. Aku mengangguk.


“Ada apa?”


Vania menghela napas lalu menatapku.

__ADS_1


“Aku cuma mau bilang, kalau mulai sekarang aku mau berenti ngejar-ngejar kamu.”


“Hah?”


“Intinya, aku mau berenti suka sama kamu.”


Detik berikutnya aku hanya bisa mengedipkan mataku beberapa kali, berusaha mencerna kata-katanya. Berhenti menyukaiku? Seorang Vania yang selaku gigih mengejarku dengan luch box-nya, bilang kalau dia akan berhenti menyukaiku?


Aku tertawa. Tawa palsu dan dipaksakan yang terdengar seperti tawa gila bahkan di telingaku sendiri. Teman-temanku pasti sedang memperhatikan kami sekarang, aku yakin.


“Ini serius?” tanyaku.


Aku bertanya bukan karena kecewa atau apa, tapi dikarenakan syok. Maksudku, baru kali ini ada cewek yang sebelumnya sangat tergila-gila padaku lalu tiba-tiba bilang dia akan berhenti menyukaiku. Entah bagaimana aku menjelaskannya, tapi aku merasa seperti seseorang yang sedang ditolak sekarang.


Vania hanya mengangkat bahunya, seolah itu adalah keputusan yang mudah, seperti aku ini hanya angin lalu.


“Pokoknya aku udah bilang dan mulai sekarang, kamu gak perlu lagi cari-cari alasan buat menghindar dari aku. Kamu bisa hidup tenang sekarang.” lanjutnya.


“Ah,”


Aku membuka mulut dan Vania berdiri di sana, menantikan kata-kata apa yang akan keluar dari mulutku. Tapi otakku seperti berhenti berpikir dan tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menanggapinya.


“Hmm, kamu bilang sesuatu?” tanyanya saat sadar bahwa tidak ada satu kata pun yang kuucapkan.


Dan yang bisa kulakukan, hanya menggeleng lemah. Vania manggut-manggut sekaan mengerti dan segera ingin mengakhiri pembicaraan.


“Tunggu!” cegahku saat Vania hendak berbalik.


“Ya?”


Aku tidak tahu kenapa aku mencegahnya padahal tidak ada satu katapun yang bisa kuucapkan dan untuk hal itu aku merutuki diri sendiri yang sekarang kuyakini wajahku kelihatan seperti orang bodoh.


“Enggak.” kata itulah yang akhirnya keluar dari mulutku.


Seolah menjadi jawaban atas semuanya, Vania hanya mengangkat bahu dan kemudian berlari pergi. Berlari semakin menjauh bukan hanya dari pandanganku, mungkin juga dari hidupku.


Aku terduduk di lantai. Aku pernah bermimpi ditampar seorang cewek. Aku pernah bermimpi perpaduan antara ditampar seorang cewek, lalu ditampar lagi oleh temannya. Peristiwa tadi bagai perpaduan semua mimpi itu dikali bilangan tak terhingga. Maksudku, aku tidak pernah mengalami ini sebelumnya. Rasanya aku kalah telak. Seorang cewek baru saja mengatakan akan berhenti menyukaiku dan aku merasa nasibku sama seperti Ren. Sama-sama korban penolakkan cinta.


Luar biasa...


***


Oh, bicara soal Ren, dia adalah hal kedua yang membuatku terheran-heran. Saudara kembarku itu tak ada habis-habisnya memberikan kejutan. Maksudku, apa saja yang sudah dilakukannya hingga membuat hidupnya yang tadinya membosankan, (kalian tahukan dia itu cewek introvert), berubah drastis.


Sepulang sekolah, karena aku masih dihinggapi syok berat akibat pernyataan kejam Vania, aku memutuskan bermain Wii. Mencoba menghalau rasa aneh di dadaku dengan mengayunkan nunchuk untuk melawan Roger Federer.

__ADS_1


“Yeah! Rasakan itu Federer!” seruku saat berhasil mengalahkan Federer di set ke dua. Sebenarnya aku membayangkan Roger Federer adalah Vania dan aku bisa mengalahkannya. Sedang asik-asiknya, tahu-tahu suara mama terdengar.


“Rex!”


Aku menoleh dan mama sudah berdiri di dekatku.


“Apa, Ma?”


“Um, kamu malam ini gak kemana-mana, kan?” tanya mama.


“Gak tau, Ma. Kalau temen Rex jadi dateng, ya Rex pergi sama mereka. Emangnya kenapa, Ma?”


Aku tidak begitu konsentrasi dengan mama karena aku tengah berusaha untuk melawan Vania, maksudku, Roger Federer di set ketiga.


“Yah, mama bakal kesepian, deh. Gak ada yang mau nemenin nonton sinetron. Papa gak mungkin mau diajak,”


“Kan ada Ren, Ma...”


“Ren juga ada rencana mau pergi.”


Seketika nunchuk yang kupegang terlepas begitu saja dari tanganku, jatuh ke lantai. Aku tidak tahu apakah nunchuk-ku rusak atau tidak, karena sekarang pandanganku hanya berfokus pada mama.


“Pergi? Ren?” tanyaku tak percaya. Mama mengangguk.


“Emang kamu gak tau?” Aku menggeleng.


“Ren tadi permisi sama mama, katanya nanti malam dia mau keluar bareng temennya.”


“Temennya? Maya?” Pasti Maya, bukan? Siapa lagi teman Ren yang paling dekat kalau bukan Maya? Tapi kemudian mama menggeleng lagi.


“Niko. Ren bilang namanya, Niko.”


“Niko? Cowok?” Aku bertanya dengan nada tinggi. Bukan untuk membentak mama, tapi untuk mengkonfirmasi nama Niko itu adalah nama cowok. Kali ini mama mengangguk.


“Maksudnya, Ren perginya sama cowok?” tegasku sekali lagi.


“Iya.” jawab mama akhirnya.


“Hah?”


“Awalnya mama juga kaget kayak kamu waktu Ren bilang ke mama. Tapi, bagus juga ya Rex, Ren udah mulai berubah sekarang.” sambung mama dengan ekspresi antara lega dan senang.


Aku sendiri, hanya bisa melongo seakan tak percaya. Ini pertama kalinya Ren pergi keluar rumah di malam minggu plus dengan cowok. Entah aku mimpi buruk apa semalam hingga mendapat begitu banyak kejutan hari ini.


Tiba-tiba terdengar suara gaduh di tv, ternyata Roger Federer menang di set ketiga dan dia terlihat sedang melakukan selebrasi, melompat kegirangan.

__ADS_1


Sempurna...


__ADS_2